METODE PENYEMBELIHAN DENGAN SYARIAT ISLAM vs METODE CAPTIVE BLOT PISTOL

Tiap tahun umat islam menyelenggarakan ibadah kurban, dan tiap tahun juga pemandangan yang sama kita lihat, sapi dan kambing dibanting, diiket kencang, trus lehernya digorok, dan mengalir deraslah darah ke permukaan bumi, dan menggelepar-geleparlah seluruh jasadnya…
Ouwww!! Betapa kejamnya, sungguh tidak berperikebinatangan! Yang begitu disebut sebagai ibadah!? Mungkin ada di antara kita yang sempat berpikir kayak gitu. Iya sih, emang kalo dipikir-pikir ngeri banget ya. Pernah liat ritual penyembelihan itu kan? Bahkan terkadang kita mesti menyaksikan tubuh yang disembelih itu terus mengalirkan darah dan masih tersengal-sengal dalam sakaratul mautnya…
”Seutama-utama ibadah pada hari Adha adalah mengalirkan darah binatang ternak” begitu kira-kira konteks salah satu hadis dari Rasulullah. Nah, ini apalagi. Ternyata Islam betul-betul melegalisasikan penyiksaan dengan membungkusnya sebagai ibadah, hmm betapa sadisnya, betapa bengisnya… mungkin ada yang berpendapat demikian ketika dengar hadits tadi.
Nah, beda banget dengan yang dilakukan oleh Barat ketika melakukan penyembelihan. Mereka berusaha melakukan penyembelihan dengan cara yang tidak menyiksa dan menyakiti binatang ternak. Metode yang menurut mereka modern ini dikenal sebagai metode dengan Captive Blot Pistol. Dimana ternak dipingsankan terlebih dahulu dengan memukulkan alat tadi di bagian tertentu di kepala ternak dengan kecepatan tertentu dan beban tertentu. Cara ini menurut mereka adalah yang terbaik, karena ternak tidak meronta-ronta, tidak nampak kesakitan, dan tidak nampak teraniaya.
Hayooo!! Bandingkan dengan cara islam!! Yang kejam, dan tidak peduli dengan Hak Asasi Binatang…
Namun penelitian dari dua ilmuwan Hannover University, Jerman. Prof. Dr. Schultz dan Dr. Hazim akhirnya menjawab pertanyaan ini. Mereka memimpin suatu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan, manakah yang lebih manusiawi? Penyembelihan secara Syariat Islam (tanpa pemingsanan) atau penyembelihan cara barat (dengan pemingsanan?[3]
Di penelitian ini sekelompok sapi dewasa dipasang chip elektroda EEG dengan menyentuhkan beberapa titik panel rasa sakit di permukaan otak kecilnya. Pada jantung dipasang EKG. Selanjutnya, sapi dibiarkan beradaptasi beberapa minggu. Separuh sapi kemudian disembelih secara syariat Islam dengan menggunakan pisau sangat tajam dan memotong dengan potongan yang dalam pada 3 saluran leher bagian depan (esofagus, trakhea, arteri karotis dan vena jugularis) Sebagian lagi dengan cara barat yaitu dengan terlebih dahulu dipingsankan dengan metode Captive Blot Pistol (CBP)- Stunning. Selama penelitian, semenjak penyembelihan hingga ternak mati EEG dan EKG pada seluruh ternak dicatat.

Hasilnya?
a. Penyembelihan ala Syariat Islam
Pada 3 detik pertama setelah 3 saluran diputus, tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG, hal ini berarti pada 3 detik pertama setelah disembelih tidak ada indikasi rasa sakit.
Pada 3 detik kedua, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara gradual yang sanga mirip dengan kejadian deep sleep hingga sapi-sapi tersebut benar-benar kehilangan kesadaran. EKG tercatat mengalami peningkatan aktivitas
Setelah 6 detik pertama, EKG merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik darah sebanyak mungkin dari seluruh tubuh dan memompanya keluar, yang merupakan refleks koordinasi jantung dan spinal cord. Pada saat darah keluar melalui 3 saluran ini, grafik EEG tidak naik, justru drop sampai ke zero level, yang diterjemahkan sebagai no feeling of pain at all .
Oleh karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat yang layak dikonsumsi manusia yang sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practice
b. Penyembelihan ala Barat
Pertama, segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps. Setelah itu sapi tidak bergerak-gerak lagi sehingga mudah dikendalikan. Sapi (nampaknya) tidak merasa sakit saat disembelih, dan hanya sediki mengeluarkan darah.
Kedua, tercaat adanya kenaikan yang cukup nyata pada grafik EEG segera setelah proses pemingsanan. Hal tersebut mengindikasikan adanya cekaman rasa sakit yang diderita ternak (pada saat kepalanya dipukul).
Ketiga, grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik EKG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa sehingga jantung berhenti berdetak. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuan untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh serta tidak lagi mampu memompanya keluar tubuh.
Keempat, oleh karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa kelar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan daging yang tidak sehat, yang tidak layak dikonsumsi oleh manusia. Hal ini karena timbunan darah yang tidak sempat keluar pada ternak yang disembelih merupaka ntempat yang sangat ideal bagi tumbuh kembangnya bakteri pembusuk yang merupakan agen utama perusak kualitas daging.

Muncul beberapa pertanyaan, bukannya meronta-ronta dan meregangkan otot saat disembelih itu merupakan ekspresi rasa sakit? Nah, dugaan loe itu ternyata keliru, masih menurut penelitian Prof.Dr Schultz dan Dr Hazim, bahwa pisau yang mengiris leher itu tidak menyentuh saraf rasa sakit. Sehingga yang terjadi adalah tidak ada rasa sakit sama sekali. Sedangkan aktivitas meronta itu hanyalah ekspresi keterkejutan otot dan saraf saja pada saat darah mengalir deras.
Timbul lagi masalah, tentang seringkali sapi sangat lama setelah disembelih baru mati. Hal ini terjadi karena sapi memang spesies yang memerlukan waktu yang lebih lama bisa bertahan setelah disembelih sebelum matinya.
Nah, kemudian juga masih ada kaitannya nih, dengan metode Captive Blot Pistol. Kita sering dihantui ketakutan tentang bahaya penyakit Sapi Gila yang ditularkan virus Bovine Spongioform Enchepalopathy (BSE). Sebenarnya penyakit ini tidak perlu dirisaukan, karena hanya menjangkiti daerah otak sapi. Sehingga memakan dagingnya terhitung aman-aman aja. Masalahnya, publik kemudian dikejutkan dengan temuan adanya virus ini pada daging sapi yang siap dimakan. Permasalahan kemudian terjawab dari beberapa penelitian. Bahwa jaringan otak bisa sampai ke daging adalah akibat proses CBP Stunning tadi, karena pada saat di stunning otak yang semula compact pecah selaputnya karena tekanan dan getaran kuat, dan partikel mikroskopisnya kemudian terbawa oleh darah ke paru-paru, hati dan organ tubuh lainnya
Nah, udah jelas? Ini cuma sebagai bukti kalo Allah itu gak pernah salah dalam menurunkan syariatnya. Manusia aja yang kadang ngoyo. Ngaku modern padahal ternyata asal-asalan aja. Sekali lagi, Allah Mahabenar dan Maha Mengetahui. Ya iya laah.. Allah yang nyiptain manusia, nyiptain hewan, dan semuanya… tentunya Allah paling tahu apa yang terbaik untuk makhluknya itu…..
(diambil dari tulisan Salim A Fillah dalam bukunya, Gue Never Die)

About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 91 pengikut lainnya.