DI RATU BOKO BERSAMA MBAH MANTO

“Bapak umurnya berapa?” tanya saya.

Capek selesai berjalan mengelilingi situs purbakala yang katanya dulu adalah istana ‘Ratu Boko’, saya bercengkerama dengan seorang bapak berumur baya yang sedang bekerja mencangkul di sana.

“80 tahun nak” jawab beliau seraya memberikan sesungging senyum. Giginya masih ada beberapa.

“Wah!” kata itu yang mewakili ekspresi keterkejutan. Umur setua itu masih sekuat ini….

Namanya Mbah Manto, penduduk asli lereng gunung situs Ratu Boko tersebut. Sejak kecil tak pernah beranjak tempat tinggal dari sana. Kesetiaan? Entahlah. Bisa jadi kasusnya mirip-mirip dengan Mbah Maridjan yang loyal terhadap Merapinya.

“Kok seusia bapak masih kerja berat kayak gini?” saya membenarkan posisi duduk saya, menghadap persis ke arah beliau. Senada, beliau juga menghentikan sementara aktivitas beliau. Mengambil tempat tak jauh dari batu besar tempat saya rehat.

“Kalau saya nggak kerja kayak gini…. terus besok mau makan apa nak?” jelas beliau dengan nada serius.

“Ya… ya..” angguk saya.

“tapi pak, ngomong-ngomong buat apa bapak makan?” tanya saya. Kali ini asal, soalnya bingung nyari bahan pembicaraan.

Mbah Manto garuk-garuk kepala..

“Ya…..buat bisa kerja besok hari, nak” jawabnya.

“Nah lalu kerja besok hari gunanya supaya bisa makan lusa, dan makan lusa supaya bisa kerja di lusa nanti. Gitu ya pa mungkin?”

Mbah Manto mengangguk.

“Kok jadinya muter gitu ya pak? Sampai kapan kayak gitu terus pak?”

“Ya…. sampai mati nak” jawab beliau enteng.

 Gantian, kini saya yang jadi garuk-garuk kepala. Pikiran saya menerawang. Di sana, di kota banyak orang berlomba mengejar prestasi. Hari ini saya harus meraih sesuatu yang lebih istimewa. Besok hari harus lebih lagi.

Tapi, apa mereka menjadi lebih istimewa dari Mbah Manto, andai suatu saat kita bertanya ke mereka: “Bapak direktur yang terhormat, anda bekerja mengendalikan ratusan perusahaan besar ini buat apa?”

Bisa jadi, jawabannya akan lebih jelek dari jawaban Mbah Manto: “Mmmm….. Mmmmm… buat apa ya…. beli mobil baru, beli rumah mewah baru, bangun villa, buka deposito baru”

Itu dia. Dia malah numpuk kekayaan, yang gara-gara itu banyak orang nggak bisa menikmati.. banyak orang yang pada akhirnya menjadi seperti Mbah Manto atau tak mendapatkan apa-apa sama sekali karena kekayaan terserap 80% ke orang-orang borju kayak mereka.

Setidaknya, meski tak berprestasi dan hidupnya sangat datar, Mbah Manto tetap jauh lebih bagus dari mereka ini.

###

Lalu saya?

Andai ada yang bertanya ke saya, “buat apa anda bekerja?” maka jawaban saya sederhana..

“Saya tidak bekerja. Tapi saya berkarya. Karya saya harus bermanfaat bagi orang lain dan harus menjadi sarana meraih ridha Allah. Efek dari karya yang saya lakukan salah satunya adalah penghasilan yang saya gunakan untuk membiayai hidup saya dan keluarga”

“Kalau begitu sama saja dong?”

“Tidak, pembeda utamanya adalah dalam hal meletakkan tujuan akhir. Uang hanya sarana, biaya hidup cuma sekedar bekal. Tapi ujung semua aktivitas haruslah demi Allah ta’ala.” Tegas saya.

About these ads

15 Komentar

  1. sudah bekeluarga kah kam zan..kada beundangan

  2. lama betul tidak muncul ?
    dari juli 2011 ke mei 2012

  3. duh bapak….. lama sekalie…. tulisannya baru muncul… lg…..semangat buat terus berkarya…. :)

  4. bismillah..
    Allah tujuan qta…

  5. Lagi sibuk ya pak, lumayan lama “masa hibernasinya”
    Teringat tulisan pak dokter yg dulu….

    Save us bakal musnah, dan gue sebagaimana elo bakal mati. Tapi selama bumi masih berputar… Dakwah ini kagak bakal mati…. Believe it!!

  6. benar sekali bahwa tujuan akhir adalah untuk sang pencipta.. :)

  7. Ane selalu belajar dari kisah orang kecil namun berhati besar,, yukk mari sebarkan ilmu seluas-luasnya.. :)

  8. sekalipun ada yang bilang “saya bekerja” bukan hal yg salah selama niatnya karena Allah, ban bahkan tetap bernilai ibadah. “berkarya” pun mungkin saja tidak menghasilkan apa2, bahkan menuai dosa, kalau berkarya melanggar aturan Islam, tengoklah lady gaga atau artis lainnya.

  9. namun -menurut saya- bukan bekerja atau berkarya yang menjadi intinya, tapi apakah kita sudah bertindak berdasar standar sang pencipta.

  10. ya benar sekali ya…. kadang kalaw dipikir banting tulang bekerja keras tapi niatnya bukan karena ridha Allah apa gunanya…..

  11. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  12. terinspirasi dari blog ini terima kasih

  13. disini saya baca ungkapan yang sering saya pikirkan tapi sulit saya utarakan. Terimakasih sudah membantu saya :D

  14. hmmm…..
    buat apa pak dokter jadi dokter????

  15. Assalaamu’alaikum pak dokter,,
    enth kmren saya nyari apa kok bisa nemu tulisan dokter di blog ini,,
    saya baru baca, tp saya lgsung demen ,,^_^
    saya terkesan dan jadi menambah sedikit pengetahuan dr bc blog ini
    merubah pola pikir saya ,


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.