AKU INGIN PULANG (KEGALAUAN PASIEN JIWA)

Tolong saya pa…” rengeknya. Muka pria berambut keriting berusia sekitar 30an itu tampak memelas.

”Sumpah pa… saya nggak bakalan ngamuk lagi….. saya sudah nggak gila lagi” rajuknya lagi. Saya jadi tak tega melihat raut wajahnya.

”Iya deh, Pa. Ntar kalo keluarga bapak datang, ntar kita bilangin” sahut saya sekenanya.

Janji lho Pak….. Janji lho.…” ucapnya seraya menjauh.

Puffphh… akhirnya menjauh juga. Sudah beberapa hari pak A (sebut saja begitu namanya) selalu merayu-rayu pengen pulang. Saban hari, tanpa bosannya dia merayu setiap perawat atau dokter yang lewat. Pintanya hanya satu: pulang!

Ini sudah hari ke sekian saya berada di rumah sakit jiwa Sambang Lihum. Sambang Lihum, unik bukan namanya. Kalau dimaknai dengan bahasa Indonesia artinya kira-kira begini: disambut dengan senyuman simpul. Hmm… tepat! Ketika anda datang kesini maka anda akan disambut dengan senyuman…. senyuman yang tulus yang kadang tanpa makna, dan senyuman itu terus bertahan. Sangat lamaaa. Woiii… woii! Udah, berhenti senyumnya! Dan mereka malah semakin mengembang senyumnya, disertai mimik yang aneh-aneh. Sudahlah… tak usah ditanggapi…. karena yang tersenyum dengan anda adalah pasien-pasien gangguan jiwa!!

Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum letaknya jauh di dalam. Sekitar 4 kilo dari jalan raya. Jalan menuju ke sana sangat sepi. Jangan coba-coba berkendara sendirian di sana di waktu malam. Tak ada lampu, hanya ada satu dua rumah sepanjang jalan. Hanya ilalang dan pohon. Salah-salah anda dirampok oleh preman-preman yang katanya masih sering beroperasi di sana. Bila sudah giliran kena dinas ko-ass di sana, maka bersiaplah membawa sekantong makanan, kenapa? Karena hanya ada 1 warung di sana yang beroperasi dengan makanan seadanya. Siapkan laptop dan printer juga, Karena anda dituntut mengerjakan setumpuk laporan di sana. Siapkan handphone berisi pulsa penuh, karena anda juga dituntut menghubungi dokter untuk konsul dengan pulsa telepon anda sendiri. Dan yang terpenting, siapkan mental anda! Karena yang anda hadapi ’bukan pasien biasa’.

Sejujurnya saya senang berada di sini. Ketika pertama kali datang, hari sudah menjelang maghrib. Saya disambut dengan senyuman alam yang begitu ramah. Hawa yang sejuk yang aman dari polusi, sepi, jauh dari keramaian, pepohonan dan rumput-rumputan bekas hutan, langit yang terlihat begitu bersih.

Belum lagi bila pagi-pagi kita keluar dari ruangan IGD, tempat tinggal DM dan perawat. Maka kita akan disapa dengan hawa yang begitu menyegarkan, embun yang memenuhi sela-sela ilalang, dan sembulan matahari di timur yang terkesan malu-malu. Atau duduklah di kala petang menjelang matahari terbenam. Maka layangkan pandangan ke arah cakrawala. Perhatikan warna-warni di ufuk barat dengan latar hutan di bawahnya, sementara burung-burung beterbangan membentuk garis-garis abstrak. Eksotis!

Walau kadang-kadang ada aja kejadian aneh-aneh. Misalnya saja, ketika kali pertama datang, saya segera dengan pedenya menuju mushalla yang terletak di ujung. Maksudnya mau maghriban. Betapa terkejutnya saya setelah selesai berwudhu. Ternyata untuk menuju mushalla, saya harus meniti ”titian shirotol mustaqim”. Waah. Ketaatan memang selalu diuji, ucap saya dalam hati. Sesampainya disana, saya semakin terhenyak…. ternyata di dalam mushalla sudah ada menunggu seseorang! Atau lebih tepatnya satu makhluk! Hahaha… bukan muazin atau imam yang sedang berdzikir menanti makmumnya yang tak kunjung datang, sebagaimana umumnya di surau-surau. Tapi seekor kera hutan yang lumayan gede. Dan kini dia sudah menatap tajam dan bergegas menghampiri saya. Hwaa… kaburr… !!

Sumpah, sejak saat itu saya tak minat lagi sholat di mushalla sana.

Eh, ternyata ’perjodohan’ kami tak selesai sampai di situ. Besok paginya saat menuju ke bangsal, saya tiba-tiba dicegat oleh makhluk itu kembali. Rupanya dia masih ’merindukan’ saya. Wwwwwaaaa….. dan saya pun berlari kencang di jalan menuju bangsal, sementara dengan nafsunya dia terus mengejar saya. Tas yang saya bawa sudah diraihnya. Saya semakin mempercepat lari saya…. Hufff… untungnya ada yang bantu menangkap!

Dasar monyeetttt!!

(Saat saya berbagi pengalaman dengan yang lain tentang hal ini. Haji Rizal, teman satu kelompok menyela begini ”ente masih untung cuma dikejar monyet! Saya pas jaga di sana malah dikejar-kejar orang gila!” Hahaha….)

Iyap. Campur aduk perasaan kita kalau berada di sini. Kadang senang, lucu, terharu, jengkel, bosan….

Paling asyik kalau bercengkerama dengan pasien jiwa. Bicara kita seringkali nggak nyambung. Kitanya yang bingung mau bicara apa. Kadang-kadang kita iseng mencoba mengibuli mereka. Kadang mereka percaya, kadang malah ada yang bilang ”emangnya saya gila, bisa dikibulin gitu” dan ujung-ujungnya malah kita yang dipikir gila.

Ya, harus dipahami tidak semua pasien gangguan jiwa itu skizofrenia atau bahasa awamnya gila. Ada juga yang depresi dan lainnya. Dan ada juga yang sebenarnya sudah sembuh, namun tak ada yang mau menjemput!

Itu dia. Mereka sudah waras, namun tak ada pihak keluarga yang datang untuk sekedar menengok. Dengan kata lain, mereka oleh keluarga telah dibuang! Dan dilupakan!

Maka lihatlah mereka, wajah-wajah mereka kadang terlihat begitu sendu. Mata mereka nanar menatap kosong. Andai kita membedah isi hati mereka, disana kita bakal menemui sebuah kerinduan yang mendalam. Tidak ada yang mau tinggal di sini! Tidak ada yang mau jiwanya terganggu! Walau mereka selalu tersenyum dan tertawa, sesungguhnya hati mereka begitu pedih.

Kapan pa saya pulang?” suatu waktu kembali Pak A menagih janji saya.

Sabar ya Pa, bapa berdoa saja..” kali ini saya merasa begitu kasihan dengan Pak A. Saya tatap matanya dalam, ingin menerawangi jauh menuju ke dalam batinnya. Ahhh.. kasihan engkau Pak..

Atau seperti Mas U, yang dengan senang hatinya mengejakan nomor HP keluarganya yang tertera di buku statusnya. Memohon kepada saya untuk menghubungi keluarganya agar bisa menjemputnya.

Namun…

“Maaf mas, sudah berkali-kali saya menghubungi…. sepertinya nomor yang itu sudah tidak dipakai lagi….” ucap saya dengan suara penuh sesal.

Tampak raut wajahnya berubah drastis mendengar kabar buruk itu. Air mukanya sangat sendu. Bahkan matanya sempat berkaca-kaca.

Allah, saya miris melihatnya.

Pak A dan Mas U mewakili perasaan pasien-pasien yang lain. Sungguh, kini saya memahami betul-betul. Bahwa sebenarnya cita-cita para pasien jiwa ini nggak muluk-muluk. Sejak awal cita-cita mereka sudah terpatri jelas. Bukan! Bukan kesembuhan! Yang menginginkan kesembuhan itu adalah keluarganya. Namun cita-cita utama semua pasien jiwa sebenarnya sama, yaitu: pulang!

Ya, tak ada yang lebih membahagiakan selain pulang dan berkumpul bersama keluarga!

***

Dan siang itu,

“gimana kalo kita sistem aplusan aja jaganya” lontar saya pada kedua teman jaga yang lain.

“Jadi kita gantian gitu. Untuk hari ini misalnya yang jaga kalian berdua, nah saya boleh nyantai, bahkan kalau perlu bisa aja pulang kalo mau. Besoknya giliran yang lain gitu. Jadi kesannya lebih nyantai. Gimana?”

Kedua teman saya berpikir lama.

Ya! diam berarti setuju” putus saya ”Jadi hari ini giliran saya yang santai. Dan saya memilih untuk pulang!” tanpa basa-basi, dan tanpa menunggu persetujuan saya langsung ngeloyor, berkemas-kemas. Dan tak lama kemudian saya pun menstarter kendaraan.

Yaaa…. Sambang Lihum memang menyenangkan. Alamnya ramah, orang-orangnya asyik-asyik. Tapi sekali lagi, tak ada yang lebih membahagiakan selain pulang dan berkumpul bersama keluarga!

Dan kalimat itu bukan hanya milik pasien jiwa.

“Yuhuuuu….. pulaaangg!”

Ending:

Bagaimana nasib monyet musuh saya tadi? Oleh perawat, monyet itu diumpani roti yang telah dibubuhi injeksi CPZ (obat penenang buat pasien jiwa). Dan kini dia terikat dengan amannya di pohon dekat warung. Hahahaha… rasain Nyet!

5 Komentar

  1. hahahahahahahaha…hahahahha…lucu ya,kenalin dunk ma monyetnya…
    hahahaaaaaaa…hahaaa,duh jd ikutan gile nich,heee….keep smiling…ana plg ska kt2 yg
    “Walau mereka selalu tersenyum dan tertawa, sesungguhnya hati mereka begitu pedih”…

  2. cerita2 di koas jiwa selalu menarik untuk diceritakan
    nice post

    • ah.. sayang pian kada sempat di sambang lihum kalo? di sambang lihum suasananya lebih rami daripada di ansyari shaleh

  3. numpang ketawa… gyahahahaha…. mudahan pas ulun stase disana ada yg kaya padelan.. jadi ada yg bisa mmembantui.. hahahaha

  4. Wahh.. berarti kakak juga sama gilanya donk, kan mo ikutan pulang juga,he….he…. peace🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s