DASAR CALEG…..

”Kita bakal menemukan banyak orang dermawan, orang baik-baik, orang yang peduli rakyat, orang yang bersih, dan jujur pada kisaran tahun 2008 dan 2009. Mereka bertebaran dimana-mana. Bahkan orang-orang baik itu akan laksana malaikat yang mengetuk pintu-pintu rumah kita sekedar untuk berbagi rezeki.” Kelakar saya kepada kawan-kawan suatu ketika.

“Sayangnya, pada 2010, 2011 dan 2012… tiba-tiba di persada kita bertebar para penjahat, perampok, dan pencuri. Malaikat-malaikat tadi tiba-tiba membuka topengnya dan tersingkaplah wajah coreng moreng yang sesungguhnya. Mereka di kala itu tak lebih dari penguras harta rakyat. Rezeki yang mereka tanamkan ke pundi-pundi milik rakyat mereka rampas kembali, plus bunganya.” Saya menghela nafas

“Uniknya, 2013 dan 2014 keadaan berubah kembali. Dunia terasa layaknya di surga lagi. Banyak malaikat-malaikat bertebaran dan bertengger kembali. Begitu terus siklusnya.”

Hahaha…. Tentunya kalian paham saya sedang berbicara tentang apa. Otomatis bro, inilah realitas kehidupan demokrasi di negeri ini. Realita Pemilu dan caleg atau capresnya.

Maka adalah hal yang wajar ketika akhirnya rakyat jadi cenderung apatis terhadap perhelatan akbar yang ngabisin dana bertrilyun-trilyun ini. Wajar ketika di pilkada-pilkada sejumlah daerah rakyat yang mencatatkan diri sebagai golput seringkali mendekati atau melebihi angka fantastis 50%. Wow! Wajar pula bila akhirnya muncul keresahan di tingkat elit yang merasa memiliki kepentingan akan hal ini, sehingga dimunculkanlah berbagai cara mulai dari menggencarkan berita seputar pemilu sampai memfatwakan bahwa golput itu haram.

Dan kayaknya mereka harus bekerja lebih keras lagi. Semakin dekat pemilu reaksi masyarakat tetap adem ayem saja. Bahkan, seperti yang sering disiarkan di tivi-tivi ketika beberapa sampel diwawancarai terlihat banget ketidakpedulian mereka. Bahkan kebanyakan nggak tahu kapan pemilu tersebut dilaksanakan, nggak tahu kalo di 2009 nanti yang dipakai bukan lagi sebuah paku besar untuk melubangi, tapi pakai spidol atau pulpen (eh, bener nggak? Terus terang saya juga nggak tahu alat dan mekanisme milihnya nanti gimana.. hehe)

Dan bila jumlah mereka betul-betul dalam kisaran 50% tersebut, maka berarti saya nggak sendiri-sendiri amat. Hip-hip huraii! saya banyak teman!

Sumpah, saya gak peduli! Sejujurnya saya merasa terganggu malah. Banyak acara tivi yang akhirnya tergeser demi kepentingan pemilu, bosaaan! Dengar ocehan-ocehan yang gitu-gitu aja. Bosan lihat tivi, enaknya jalan-jalan keluar rumah. Eh, kini malah cuci mata saya diganggu lagi dengan wajah-wajah mendadak artis. Huuh… mengganggu pemandangan. Mulai dari ukuran stiker sampai baliho gede. Yang bikin gak segar, adalah asalnya mereka membuat desain iklan-iklan di stiker dan baliho. Monoton, yang laki-laki pakai kupiah yang wanita pakai kerudung atau sanggul plus kebaya. Di belakangnya ada lambang partainya. Di sisinya nomor urut mereka, di bawahnya tulisan-tulisan yang tak ketinggalan monotonnya ”Membangun banua”, ”Pilihlah saya”, ”Anti korupsi”, ”Kreatif, gaul dan peduli”. Saya yang penikmat desain art merasa miris dengan begitu sederhana dan ’biasa’nya iklan mereka. Coba dong, ikuti kayak kekreatifan desain iklan-iklan rokok! Kan manis juga dipandang.”

Tapi bila dipikir-pikir ada rasa kasihan juga pada mereka. Coba deh dihitung-hitung berapa duit yang mereka korbankan demi menjadi selebritis dadakan itu. Karena saya sering terlibat dalam urusan cetak mencetak, sedikit banyak saya tahu hitung-hitungan bikin stiker kalender dan baliho atau kaus. Untuk digital printing harga per meter yang standar 40-50ribu rupiah. Anggap saja mereka bikin ukuran sedang 2×3 meter artinya biayanya satu baliho adalah 50ribu x 6meter persegi = 300 ribu. Disebar di 6 tempat berarti jadi 1,8 juta. Biaya foto, desain, pinjam jas anggap saja 100ribu. Beli kayu dan biaya tukang serta biaya pemasangan kita anggap 300 ribu. Berarti untuk biaya iklan di jalanan saja perlu 2,2juta. Belum lagi biaya cetak stiker. Harga bikin stiker kita anggap 1000 rupiah, buat 500 stiker berarti 500ribu, bikin kalender 3000 kalikan 200 eksemplar berarti 600ribu. Bikin kaus 30ribu kalikan 50 buah berarti 1.5 juta. Pasang iklan di koran untuk 1 hari hitam putih ukuran kecil 500 ribu. Nah untuk promosi saja hitungan kasar saya, perlu 5,3 juta. Itu belum lagi bila promosinya menggunakan media kartu pos, radio atau televisi. Dan jangan lupa pula. Emangnya biaya yang diperlukan cuma biaya promosi? Masih banyak yang lain! Misalnya pemeriksaan kesehatan yang sekitar 700ribu, sumbangan buat partai, mengupah warga buat ikut pawai, ngasih sembako gratis dan lain-lain. Yah plus tetek bengek anggap saja seorang caleg perlu dana minimal 10jutaan.

Pertanyaannya sekarang, relakah anda bila 10juta tadi raib sia-sia? Maka wajar seperti cerita saya di awal, selepas pemilu yaitu 2010, 2011, 2012 para selebritis dadakan kita yang awalnya senyumnya terlihat begitu manis satu per satu kemudian membuka topengnya. Maka bermunculanlah berbagai headline berita tentang kebengisan dan keculasan mereka. Kenapa? Manusiawi, mereka sudah habis banyak modal, maka prinsip ekonomi berjalan, saya sudah menanam modal, maka saya minimal harus balik modal.

Maka para pembaca sekalian, demikianlah. Maka suara-suara kita tak lebih dari komoditas bisnis. Pemilu adalah cara lain berinvestasi. Ketika berhasil mendapatkan posisi, maka saatnya memetik buah hasil ’perjuangan’ kita. Nah, kalau akhirnya kalah… investasi anda sia-sia. Maka kuatkan batin anda, banyak zikir, karena kalo nggak larinya bakal ke rumah sakit jiwa.

Jadi sodara-sodara, saksikanlah… inilah democrazy!

***

Suatu ketika waktu di poli penyakit paru. Saat itu sedang musim pemeriksaan kesehatan para caleg. Ada caleg yang dirujuk ke bagian paru untuk diperiksa keadaan parunya karena curiga ada TBC. Iseng, sambil menganamnesa dan auskultasi ronkhi parunya, saya bertanya. ”Dari partai mana pak?”

Itu lho, partainya bapak yang pernah jadi mentri dulu itu.” jawab si bapak yang kira-kira usianya 30an itu sambil menyebutkan nama seorang tokoh nasional.

”Eh, kalo boleh tahu apa tujuan bapak jadi caleg?” selidik saya sambil memain-mainkan stetoskop.

”Mmmm…” Bapak itu kemudian tersenyum malu.

”Sejujurnya dek…. saya ini sebenarnya pengangguran. Susah nyari kerja. Yaaa… itung-itungan coba-coba cari peluang di bidang ini. Syukur-syukur kena nantinya. Saya pengen kayak orang-orang juga dek…” pungkasnya polos.

Saya, saat itu, hanya bisa tersenyum kecut.

Dasar caleg…!

2 Komentar

  1. itulah faktanya!
    yang luar dan dalamnya jauh banget berbeda
    memang, seperti ada udang dibalik bakwan, hehehe

    ok
    maksih artikelnye

    • hehehe…. ngomong-ngomong mas adi nyalonin jadi caleg juga nggak?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s