GUSUUUUR….!

Ujang hanya bisa pasrah. Matanya sayu memandangi bedakan rumahnya diobrak-abrik oleh Satpol Pamong Praja. Mau melawan? Ah, buat apa melawan? Toh seperti yang biasa dia lihat di televisi, perlawanan dari yang sekedar unjuk rasa sampai yang berbuntut perkelahian selalu saja berujung kekalahan dari pihak masyarakat. Alih-alih menang, yang ada bisa-bisa dia yang diciduk dibawa ke penjara. Maka, sementara beberapa tetangganya yang emosian beradu mulut dengan aparat, Ujang hanya asyik nongkrong melihat dari pos ronda sambil menghirup batangan rokok terakhir yang dia punya. Mau beresi barang-barang? Hahaha.. barang apa? Kalaupun ada tidak ada yang cukup berharga, dan biarlah musnah bersama rumahnya.

“Abah, kok abah diem aja ngeliatnya. Lawan dong, bah?” Ucrit, anaknya paling bontot menarik-narik kaos lusuh Ujang.

Nyantai, Crit… abah lagi asyik nonton sandiwara nih… Sana main… jangan ganggu!” Mata Ujang tetap bertumpu pada pemandangan di depannya. Tampak Mbok Minah, tetangga sebelahnya sedang mengamuk merintih-rintih di depan buldoser aparat yang mau meruntuhkan warung dan rumahnya.

”Huh, pilem yang sama, aktornya aja yang beda… nggak seru…” gerutu Ujang sambil terus menghisap rokoknya.

Ayo dong Bah? Sepeda Ucrit masih di dalam!” rengek Ucrit.

Husss!! Geblek! Lu mau abah lu dipukuli polisi hah?” gertak Ujang sambil menunjuk ke arah Mang Salim yang kepalanya bonyok bekas kena pentung petugas akibat melawan saat gerobak warungnya mau dihancurkan.

”Tapi kan Ucrit cuma mau ngambil sepeda Ucrit….. emangnya kita penjahat apa jadi harus dipukuli…” isak Ucrit.

Geblek! Nggak paham-paham juga…. Orang miskin itu memang penjahat. Dan mereka gak berhak hidup, nggak berhak punya rumah, nggak berhak jualan, nggak berhak punya sepeda, dan nggak berhak merengek nangis…. itu diatur dalam undang-undang! Udah sanaa!” Jawab Ujang asal. Ucrit akhirnya hanya bisa melongo diam.

***

Sudah jadi berita sehari-hari, perumahan rakyat digusur demi sebuah proyek, terus terjadi sengketa antara warga dengan satpol PP yang biasanya berakhir dengan penghancuran paksa, tindak kekerasan oleh aparat. Atau yang juga sering terjadi, penghancuran semena-mena aparat terhadap warung-warung pinggiran yang konon katanya ilegal dan mengganggu keindahan kota. Endingnya kurang lebih sama, masyarakat melawan, bentrokan terjadi, dan seperti biasa… mana mungkin pedagang bisa menang melawan pentungan, senjata api, atau buldoser. Dan mana mungkin ada yang membela mereka… Hmmm…. kayaknya untuk masalah yang satu ini Ujang sudah paham betul, atau bisa jadi karena Ujang sudah terlampau berpengalaman. Hehehe…

Interupsi!” oke, silahkan…”Mari kita memandang dari sisi lain. Penggusuran yang terjadi itu kan sebenarnya ditujukan untuk kesejahteraan juga. Penggusuran itu buat pembangunan, bangun pabrik, hotel berbintang, apartemen, pabrik atau perusahaan. Atau yang sering terjadi, tempat tinggal atau tempat mereka berjualan itu memang tidak punya izin alias ilegal. Jadi wajar dong ditertibkan. Alasan lain, tempat tinggal atau warung mereka itu mengganggu keindahan, kalau tidak ditertibkan yang ada kota makin kumuh. Nah, kalo kota indah kan kita semua juga yang senang”

Oke deh. Silahkan saja anda bicara dari sisi lain… masalahnya apa kita tidak peduli dengan sisi para orang-orang yang teraniaya, para pedagang atau warga yang rumahnya digusur tersebut? Ini sisi yang selalu dikebelakangkan dalam setiap persolan. Dan sisi yang selalu saja dikedepankan adalah sisi yang kayak disebut tadi…. ilegal lah, demi pembangunan lah, mengganggu tata kota lah….

Mari kita dudukkan persoalannya. Penggusuran untuk kesejahteraan.. Omong kosong! Kesejahteraan siapa? Yang ada kan kesejahteraan orang-orang yang berdasi itu! Memangnya kalau dibangun pabrik, dibangun apartemen, dibangun hotel berbintang mereka, rakyat kecil bakal menikmatinya gitu? Paling-paling bisanya cuma memandangi dengan ngiler saja. Kesejahteraan buat mereka? Boro-boro. Sudah tempat tinggal dan mata pencaharian dimusnahkan, ganti rugi yang kalo pun ada tidak bakal sepadan, terus beban psikologi yang mereka dapatkan. Bayangkan kalo anda yang ada di posisi mereka. Anda kehilangan tempat tinggal, kemana anda bernaung? Kehilangan mata pencaharian, padahal anda musti makan, anak anda musti sekolah, bayi anda merengek-rengek minta susu…. apa coba yang akan anda perbuat, maling? Ngerampok? Lagi-lagi urusannya bakal ke aparat dan dibui. Padahal waktu kita mencoba cari nafkah di jalan yang halal juga tidak dibolehkan, nah sekali dijalan yang haram, kita malah dijadikan sampah yang dikantongin di bui! Serba salah!

Kesejahteraan macam apa? Sementara para konglomerat hitam bebas berkeliaran, perusahaan-perusahaan mereka toh tak digusur oleh satpol PP! Para koruptor yang terlibat skandal BLBI sampai ratusan trilyun asyik-asyikan kipas-kipas dengan uangnya. Kemana Satpol PP pada saat itu?

Terus masalah ilegal? Sebenarnya yang menentukan ilegal atau legal itu siapa sih? Apa disebut legal bila ada bukti surat-surat bermaterai? Siapa sih sebenarnya pemilik tanah Indonesia ini? Pemerintah atau rakyat? Kalau memang negri ini punya rakyat kenapa mereka dengan semena-mena diusir dari tanah miliknya?!!

Dan masalah ilegal tadi? Sekali lagi saya tidak habis pikir, sebuah perumahan disebut ilegal hanya karena tak dilengkapi surat menyurat, dan jawabannya: Gusur!! Sementara sebuah komplek pelacuran yang konon salah satu yang terbesar di asia tenggara, kayak Dolly di Surabaya, dibiarkan… Pabrik minuman keras dibiarkan berproduksi, tempat perjudian dilindungi, diskotik dibikin tambah subur, padahal menurut saya yang terakhir-terakhir ini jelas-jelas ilegal. Kemana para satpol PP? Kalau sudah bicara pedagang kaki lima geraknya cepat, tapi kalau sudah bicara komplek pelacuran, pabrik minuman keras, kok diam saja. Apa karena mereka punya surat bermaterai, maka mereka dianggap legal, atau jangan-jangan karena mereka rajin mengirim upeti….. Cuih!

Dan demi alasan keindahan? Keindahan macam apa yang didapatkan kalau demi suatu keindahan mengorbankan rakyat-rakyatnya? Artinya kesejahteraan itu cuma Omdo! Omong Doang!

Lebih dari itu yang paling memprihatinkan adalah tindakan aparat saat melakukan penggusuran. Pembongkaran dengan paksa, bahkan dengan tanpa ragu memukuli warga. Seakan-akan mereka adalah penjahat yang melakukan kejahatan besar, seakan-akan mereka adalah para binatang yang merusak keindahan alam, sekan-akan mereka adalah sampah-sampah yang bikin kotor, seakan-akan mereka bukan manusia! Apakah mereka juga berbuat seperti itu untuk para koruptor yang telah membobol kas negara?Apakah perlakuan yang sama diberikan buat para pejabat yang menguras uang rakyat? Dimana kemanusiaan!!? Dimana keadilan!!?

………………………………………………..

Nun jauh di sana, nun jauh dahulu…. 1000 tahunan yang lalu, seorang Yahudi tua datang tergopoh-gopoh di gerbang kota Madinah. Orang tua ini baru saja datang dari sebuah perjalanan melelahkan, dari Mesir. Perjalanan jauh yang ditempuhnya ini bukan sekedar perjalanan wisata, lebih-lebih wisata kuliner. Dia ingin mengadukan sebuah masalah ke kepala negara yang ada di Madinah. Masalahnya kayak begini, Amr bin Ash, gubernur Mesir saat itu, ingin membangun masjid yang megah di samping istana kegubernurannyanya. Dan kebetulan tempat yang rencana dibangun itu ditempati oleh satu gubuk reot. Sudah reot, milik Yahudi tua lagi. Negoisasi dilakukan dan Gubernur menjanjikan tebusan yang lumayan besar. Namun dasar Yahudi tua keras kepala. Dia tidak mau bergeser sedikit pun. Sang Gubernur naik pitam dan memerintahkan satpol PP untuk menggusur gubuk reot tersebut dengan paksa. Si Yahudi tua tidak terima dan bertekad memperkarakannya langsung ke Khalifah Umar, atasannya Amr bin Ash.

Dimana saya bisa menemui Khalifah Umar?” tanya si Yahudi tua kepada salah seorang yang sedang beristirahat di dekat masjid nabawi.

Ada keperluan apa ente mencarinya?”

Saya ingin mengadukan satu perkara penting.” Jawab si Yahudi tadi

Ente sedang berhadapan dengannya. Saya Umar!” ucap orang itu santai. Si Yahudi bengong. Masa sih kepala negara yang daerah kekuasaannya luas dari jazirah arab sampai Mesir tampangnya kayak begini, baju tambalan, istirahat bukannya di istana, tapi malah di bawah pohon?!

Singkat cerita si Yahudi tua pun langsung curhat ke khalifah Umar mengenai kasusnya.

Jadi gitu….” ucap Umar. Umar menyuruh si Yahudi mencari tulang. Si Yahudi bengong lagi, ngapain coba nyari tulang. Jauh-jauh dari Mesir malah disuruh nyari tulang. Khalifah Umar kemudian menggores sebuah garis lurus di tulang tadi. ”Nih, bawa dan kasihkan ke Amr bin Ash!” ucapnya santai.

Si Yahudi sekali lagi bengong.

Namun tulang tadi ampuh juga, seketika menerima oleh-oleh tulang tadi, Amr bin Ash langsung gemetar tidak karuan dan seketika itu juga membatalkan pembangunan masjid dan memerintahkan pembangunan kembali gubuk tua milik si Yahudi.

Si Yahudi sekali lagi bengong

Kamu tahu apa artinya oleh-oleh ini? Ini ancaman dari khalifah, arti goresan di tulang itu kayak begini: jangan macam-macam, kamu bakal jadi tulang belulang, maka berlaku luruslah, atau pedang beliaulah yang akan meluruskan” jelas Gubernur Amr bin Ash.

Si Yahudi manggut-manggut…..

Inikah keadilan?

Inilah keadilan!

Inilah keadilan!!!

Iklan

4 Komentar

  1. Hmm.. Pendapat kamu menurut saya benar,, saya pun prihatin akan hal itu..
    Namun KAdangkala alasan penggusuran ada benarnya.. perumahan2 di bantaran sungai, di daerah yang seharusnya menjadi daerah resapan dsj,, memang agak menggaggu dan memberi banyak pengaruh terhadap banjir. ketika banjir,, qta teriak2 kepada pemerintah untuk mencari solusi,, namun ketika pemerintah memberikan solusi,, salah satunya dengan penggusuran.. qta kembali teriak
    Bukan saya mendukung penggusuran,, penggusuran karena alasan2 yang km jabarkan di atas memang terlalu egois, dan saya pun tidak setuju. Hanya memberi pandangan dari sisi berbeda. Saya pun berharap,, kalopun harus terjadi penggusuran, pemerintah memberikan solusi,, misalnya menyediakan rumah susun gratis untuk keluarga tidak mampu ato apalah..

    • yoi. jangan asal gusur. mesti teladani amr bin ash. bahkan pembangunan tempat ibadah saja beliau batalkan karena ada satu rumah yang tidak rela digusur. gimana dengan pemerintah kita?

  2. Kl dibiarkan terus mau jd apa kota ini?pasar dimana-mana, jalanan macet,sampah bekas pasar berserakan. Penertiban memang perlu,harus malah. Kl ga ditertibkan malah tambah semrawut. Cuman cara penertibannya yang harus lebih diperbaiki. Misal kl digusur harus ada penggantinya. Rumah ganti rumah. Tempat jualan ganti tempat jualan yang pantas. Smuanya kembali kemasalah dana, tapi kl mang ada kemauan pasti bisa. Pemaksaan juga saya rasa perlu. Kl sudah diganti dengan sepantasnya tetap tidak mau. Sedangkan pembangunan untuk kepentingan umum,misal Kanal pencegah banjir, atau pelebaran jalan. Pemaksaan harus dilakukan…Dengan adanya pemaksaan jd tidak ada keadilan???hmmm memang harus ada konsekuensi dari setiap tindakan. Sulit untuk menciptakan rasa adil bagi semua orang, yang penting sudah berusaha memberikan keadilan seperti penggantian yang saya jelaskan diatas

    • selama ini. penggusuran kesannya hampir selalu tidak berperikemanusiaan. pergantiannya pun tidak jelas bagi yang digusur. gusur boleh…, tapi harus diganti dengan yang lebih pantas, dan harus manusiawi. gimana mas?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s