IZRAIL DI SAMPING KITA…

“Mas Dokter….. mas dokter…..!! cepat mas!! Ibu saya mas!”

Teriakan kalut itu tiba-tiba mengejutkan keheningan menjelang subuh itu.

Ah, ’membungkus’ lagi…. batin saya. Saya lawan rasa kantuk yang masih menggelagapi sekujur tubuh saya. Maklum, nasib dokter muda biasanya tidurnya nggak teratur banget. Tidur di jam-jam dini hari karena harus menyelesaikan bejibun tugas. Tidurnya di sembarang tempat dimana ada yang rasa-rasa cukup empuk. Kadang pas enak-enaknya mimpi mesti dibangunkan oleh panggilan keluarga pasien. Yang sering bikin nggak enak hati kadang-kadang panggilan itu salah sasaran. Si keluarga pasien cuma minta gantikan infus…. Padahal pembagian tugasnya sudah jelas. Jatah ganti infus kan miliknya perawat atau adik-adik magang. Tapi it’s ok! Apapun itu, lakukan seikhlas mungkin.

Dan dari keterlambatan tidur serta gangguan-gangguan dalam kenyenyakan itu, kita masih dituntut untuk bangun pagi-pagi untuk melakukan follow up pasien. Yap, jangan sampai kita keduluan dokter spesialis visite.

Oke, lupakan beragam keluhan di atas. Mari kita kembali kepada panggilan yang menggema di selasar bangsal tadi. Dengan sigap saya ambil tas peralatan, stetoskop, sfigmo, thermometer, jam tangan, palu refleks, dan tak lupa: senter! Buat apa? Karena satu hal yang harus diingat, bila anda di bagian saraf atau jantung, dan pas jaga ada suara teriakan seperti itu maka bersiaplah untuk segera memeriksa apakah masih ada tanda-tanda kehidupan.

Dengan cekatan saya pompa sfigmo, seraya meraba nadi di lengan yang sudah mulai mendingin. Ini bukan kali pertama saya menemui hal semacam ini, sehingga saya sudah terbiasa dengan “lagu” nyanyiannya. Setelah memastikan tekanan darah tak terukur dan nadi tak teraba. Kedua jari saya segera dipindahkan ke leher. Ah, sudah tak teraba juga. Kini harapan terakhir ada di refleks pupil. Saya sorotkan sinar senter ke mata pasien. Beberapa lama… tak ada reaksi sama sekali. Pupilnya besar maksimal. ”inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un..” bisik saya. Peralatan pun saya kemasi. Saya ketupkan pelan kelopak matanya, sementara tangannya disedekapkan. Saya sapu pandangan ke mata-mata keluarganya yang harap-harap cemas.

”Maaf, bu, pak! Kita sudah berusaha…..” ucap saya setenang mungkin. ”Tapi Allah berkehendak lain…. kita ikhlaskan saja kepergiannya”

Dan meledaklah suara tangis.

Saya pun berlalu setelah menyerahkan masalah ’pembungkusan’ kepada perawat.

Sejenak saya tatap lagi kepiluan yang menghinggapi keluarga itu.. Allah… jerit batin saya… satu lagi tanda-tanda kekuasaanMu….

***

”Semestinya kita para dokter muda adalah orang yang paling taat kepada Allah” suatu ketika, kala senggang, saya cetuskan kalimat itu pada kawan-kawan sesama dokter muda.

”Gimana nggak, kita adalah orang-orang yang hampir setiap hari diberi teguran oleh Allah. Bukankah Rasul pernah menyabdakan bahwa kematian adalah peringatan yang paling utama. Dan kita kini hampir setiap hari menyaksikan kematian-kematian tersebut. Semestinya menjadi insyaflah kita dengan peringatan-peringatan itu”

”Bayangkan…” lanjut saya. ”Sadar atau nggak di ruangan kita ini sebenarnya sedang berkeliaran malaikat Izrail di selasar-selasarnya. Di kala kita sedang memeriksa denyut nadi pasien yang sakaratul maut, sesungguhnya tanpa kita sadari malaikat izrail sedang berdiri turut bekerja di samping kita. Apa jadinya, seandainya tiba-tiba Allah memerintahkannya untuk melanjutkan tugasnya, mencabut nyawa orang yang sedang sibuk memeriksa almayyit tersebut? Allahu Akbar! Tiada sesuatu yang tak mungkin. Kematian bisa terjadi kapan saja dimana saja. Saat kita meresusitasi, bisa jadi kita tersedak, dan tiba-tiba kita berhenti bernafas. Sementara pasien yang diresusitasi bisa bernafas kembali, malah yang meresusitasi yang mendahului. Bisa aja kan?”

Maka, pikir saya, saharusnya saya semakin bersyukur ditempatkan dalam posisi dokter muda seperti ini. Dengan’ibrah yang berlimpah dari Allah..

Sudah tak terhitung proses kematian yang saya saksikan…

Bukan suatu hal yang asing lagi, pagi hari saya masih asyik bercengkerama dengan pasien itu, malamnya dia sudah tak bernyawa. Atau suatu waktu pasien itu mengalami koma, kemudian besoknya bisa bangun dari komanya, bisa ngomong-ngomong dengan keluarganya. Eh sorenya, mendadak dia langsung menghembuskan nafas terakhirnya.

Atau pernah saya menyesal, karena telah sesumbar ngomong dengan pihak keluarga kalau kondisi pasien baik-baik saja, jadi kita tenang saja. Ternyata 6 jam kemudian pasien sudah tak bernafas.

Hingga menjadi fahamlah saya, tepat seperti sabda rasulullah bahwa rezeki, jodoh dan kematian itu tidak bisa ditebak!

Satu hal lagi! Semakin hari saya menjadi berempati dengan si calon mayyit yang sedang menghadapi sakaratul maut. Ya Allah, betapa sakitnya! Masing-masing orang beragam caranya dalam menghadapi saat-saat terakhir. Ada yang begitu lama tersiksa tak mampu bernafas teratur, namun denyut jantungnya masih tersisa. Ada yang mengakhirinya dengan teriakan mengaung. Ada yang matanya berkedap-kedip menyorot tajam. Ada yang tegang sekujur tubuhnya. Pernah juga saya menyaksikan di saat terakhir, pasien itu pelan mengangkat kedua jari telunjuknya seakan mengikuti ruhnya yang ditarik. Atau suatu ketika saat melakukan resusitasi dengan kawan-kawan DM yang lain…

”Stop…” bisik saya kepada kawan yang sibuk membagging nafas buatan. Tangan saya pun berhenti memompa dadanya.

”perhatikan bibirnya….” ya, sejak dilakukan resusitasi, pasien bernafas dengan membuka mulutnya lebar kemudian menutupnya lagi, sementara matanya berkedip-kedip. Tapi kini yang bergerak tinggal bibirnya…. hanya komat-kamit tanpa suara….

Saya terpana. Saat itu, saya merasakan seakan-akan menyaksikan malaikat izrail di depan saya sedang menarik ujung rohnya yang terakhir…

Tak lama… seluruh tubuh itu pun kaku.

Kami hanya bisa menatap kosong.

Innaa lillaahi wa inna ilaihi rooji’uun…..

12 Komentar

  1. dengan jadi koass..kita lebih sering mengingat mati..
    Allah selalu mngingatkan kita..

  2. assalamu’alaikum w ‘ w

    ingatlah selalu akhirat wahai saudaraku

    jangan terlena dengan dunia

    dunia itu cuma sebentar

    semoga atas izin ALLAH SWT YANG MAHA AGUNG kita bisa melewati sakaratul maut dengan lancar dan cepat tanpa perlu merasakan sakit yang amat menyakitkan itu

    amien

    ingatlah selalu bacaan Al – Kautsar, Al – ‘Ashr, dan surah2 lainnya tentunya dalam Al Qur’an

    wassalamu’alaikum w ‘ w

    • Setujuuuuu

  3. pernah menyaksikan kematian yang indah mas dokter?
    ketika di akhir hidup.. lisannya berdzikir mengingat Allah…

    • Sampai saat ini belum menyaksikan….
      pengen…

  4. indah sekali pak dokter…
    kemudian banyak orang bersaksi betapa si mayat begitu istemewanya semasa hidup…

    • hemmm moga berakhir serupa yahhh…

  5. aminn…

  6. afwan, ijin copy paste akhi,,,

  7. Nice Posting…
    Thanks For Remainder….

  8. Jadi ingat curhat2an sahabatqu yg juga saat ini sedang co ass..melihat kematian hampir tiap hari, kurang tidur, cerita berbagai kondisi pasien yg sedang dihadapi,dll


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s