JANGAN MACAM-MACAM! ITU JUNJUNGAN GUE!

Terik matahari menggelayuti Tamim.
Pelepah-pelepah tamar tersusun membangun sebuah salib besar. Salib, dimana disana disandarkan seorang laki-laki muda. Salib, dimana dirinya menjadi saksi bisu sebuah episode eksekusi mati, yang bahkan untuk masa jahiliyyah saat itu terlampau sangat kejam. Dimana si laki-laki meregang nyawa saat panah-panah bertancapan tanpa henti ke seluruh tubuhnya, dimana pedang-pedang beringas menyayat-nyayat dagingnya.
Di saat-saat seperti itu, salah seorang pemimpin Quraisy mendekatinya seraya berkata: ”Sukakah engkau, bila Muhammad saat ini menggantikanmu, dan engkau sehat wal’afiat bersama keluargamu?” Tenaga laki-laki itu tiba-tiba pulih kembali, dan dengan suara laksana angin kencang dia teriakkan, ”Demi Allah, tak sudi aku bersama anak isteriku selamat menikmati kesenangan dunia, sedang Rasulullah kena musibah walau oleh sepotong duri…!”
Di detik-detik sebelumnya, kalimat serupa itu pula yang diteriakkan teman seperjuangannya kepada sang pembesar Abu Sufyan bin Harb sesaat sebelum dipancung, ”bahkan di saat aku dalam keadaan seperti sekarang ini, aku tak akan rela andai kata Rasulullah dicucuk duri di rumah beliau”. Kalimat yang menyebabkan sang pembesar hanya bisa berkata, ”Belum pernah kulihat seseorang yang dicintai oleh para sahabatnya seperti mereka mencintai Muhammad”
Dua laki-laki itu, Khubaib bin Adi dan Zaid bin Ditsinnah…

Kita menengok ke belakang, saat perang Uhud sedang berkecamuk dengan dahsyatnya… Saat itu serangan mendadak yang dilancarkan pasukan musyrik tiba-tiba memutar balik keadaan dan mengkocar-kacirkan barisan kaum muslimin. Di saat yang genting itu seorang laki-laki menyerbu ke daerah dimana didapatinya seseorang berdiri, dan menjadi sasaran empuk serbuan musuh. Lelaki itu Talhah bin Ubaidillah. Seketika dilihatnya orang itu adalah Rasulullah, sang pujaan hati yang telah bercucuran darah, maka naik pitamlah dia, dan dengan lompatan dahsyat diayunkannya pedang ke segala penjuru.
”Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan berdiri tegak, nanti panah-panah akan mengenaimu! Biarkanlah aku yang berkorban, jangan engkau…”
Dan bagaikan satu peleton tentara, Talhah berdiri kukuh bagaikan tameng hidup melindungi buah hatinya. Dan cukuplah cerita dari Abu Bakar ini menggambarkan episode dahsyat itu,
”Itu semuanya adalah hari Thalhah….! Aku adalah orang yang mula-mula mendapatkan Nabi saw, maka berkatalah Rasul kepadaku dan Abu Ubaidah: ”tolonglah saudaramu itu… (Talhah)!” Kami lalu menengoknya, dan ternyata pada sekujur tubuhnya terdapat lebih dari tujuhpuluh luka berupa tusukan tombak, sobekan pedang dan tancapan panah, dan ternyata pula anak jarinya putus….!”

Dua rentetan cerita diatas saya rasa cukup untuk menggambarkan betapa dahsyatnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah, sang terkasih –yang tentunya contoh di atas hanya seujung jari bila dibandingkan beribu kisah yang lain. Bukan kecintaan biasa, yang hanya sekedar di bibir doang. Namun kecintaan yang tiada tara, yang membuat para pencintanya rebutan mengorbankan nyawa demi sang terkasih. Hingga seorang Tsumamah yang dulu paling membenci dirinya, berucap, ”ya Muhammad, demi Allah, dulu tidak ada di muka bumi ini satu wajah pun yang paling aku benci melebihi wajahmu. Tapi akhirnya wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai….”
Kecintaan yang mungkin sulit banget diterima oleh akal……..
Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, ia berkata kepada ’Abidah, ”Aku memiliki sebagian dari rambut Nabi saw. Kami menerimanya dari Anas bin Malik dari keluarga Anas.” maka ’Abidah berkata, ”Sungguh, satu lembar rambut Nabi saw. yang ada padaku lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya” (HR alBukhari)
Lalu siapakah sebenarnya sosok yang teramat dicintai itu, padahal dia pula yang mengatakan kepada orang-orang yang mencintainya ”Aku tidak mempunyai wewenang untuk memberimu manfaat atau mudharat…”
Nah lho, maka dengan alasan apa coba para pemimpin bangsanya bersedia melepaskan kemuliaan dan kemegahan hartanya, demi berada di sisinya? Alasan apa yang menyebabkan golongan jelata percaya dan bernaung di bawah panji-panji perjuangannya? Lalu ngapain seorang adikara jahiliyah Umar bin Khattab yang sedang mencarinya dengan maksud memenggal kepalanya, mau-maunya berbalik arah lalu pergi mencari musuh-musuh dan para penentangnya? Alasan apa yang menyebabkan orang-orang pilihan Yastrib bersedia menemuinya dengan sembunyi-sembunyi untuk berjanji membai’at setia kepadanya?
Padahal dia, Muhammad bin Abdullah, hanyalah manusia biasa…..
Namun ke-manusiabiasaannya itu menampilkan pesona yang begitu luar biasa, menjadi cahaya yang meyakinkan segenap orang sekelilingnya untuk melebur ke dalam cahaya itu.
Dialah Muhammad, seorang pemimpin yang dalam waktu singkat berhasil menguasai seluruh jazirah arabia, namun hartanya yang paling mewah hanyalah sepasang alas kaki kuning hadiah Negus dari Abessinia. Tinggalnya di pondok kecil beratapkan jerami yang tingginya dapat dijangkau oleh seorang remaja. Kamarnya dipisahkan oleh batang pohon yang direkatkan lumpur bercampur kapur. Beliau sendiri yang menyalakan api, mengepel lantai, memerah susu, dan menjahit alas kakinya yang putus. Santapannya yang paling mewah, yang jarang dinikmatinya adalah madu, susu, dan lengan kambing. Beliau pula yang di akhir hayatnya, baju besinya masih tergadai di tempat seorang Yahudi.
Kelakuannya tenang dan tenteram. Beliau gagah berani, namun memiliki senyuman memikat, bahkan dalam hal-hal tertentu beliau lebih pemalu daripada gadis pingitan. Kemampuan intelektualnya tidak diragukan. Daya imajinasinya sangat tinggi, dan ekspresinya sangat mendalam.
Akhlak dan pergaulannya sangat luhur. Diulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan tidak dilepasnya sebelum yang dijabat melepaskannya. Beliau tidak pernah mengulurkan kaki di hadapan teman-temannya yang sedang duduk. Beliau berjalan dengan penuh dinamisme, bagaikan turun dari satu dataran tinggi. Beliau menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya, berbicara perlahan dengan menggunakan dialek lawan bicaranya sambil sesekali menggigit bibirnya, menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk dengan jari telunjuk ke telapak tangan kanannya.
Dia pula yang pada suatu ketika ingin memanjangkan sholatnya karena kerinduannya kepada Rabbnya, namun tiba-tiba mempersingkat shalatnya hanya karena mendengar seorang bayi sedang menangis.
Di dalam dirinya terkumpul berjuta keagungan. Seorang suami yang begitu penyayang kepada istri-istrinya. Ayah yang sangat mencintai anak-anaknya. Kakek yang menyempatkan bercanda dengan cucu-cucunya. Sahabat yang agung. Sosok guru yang disegani. Pemimpin yang berwibawa, panglima yang gagah berani, dan Kepala Negara yang begitu adil. Di luar itu beliau adalah Nabiyullah, hamba Allah yang begitu takut akan Tuhannya…

Maka wajar, bila sosok ini begitu disegani, bahkan oleh musuh-musuhnya. Dan sangat wajar pula bila ahli sejarah, dari masa ke masa menuliskan namanya dengan pena yang agung. Thomas Carlyle dengan tolak ukur ”kepahlawanan”, Marcus Dods dengan ”keberanian moral”, Nazmi Luke dengan ”metode pembuktian ajaran”, Will Durant” dengan ”hasil karya”, dan Michael H Hart, dengan ”pengaruh yang ditinggalkannya”. Kesemua ahli non muslim ini berkesimpulan sama, Muhammad adalah manusia luar biasa!

Lalu kata-kata apa yang pantas disematkan kepada orang-orang yang menghinanya?
Padahal para musuh besarnya layaknya Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu Sufyan saja terkagum dan jatuh hati dengan keluhuran dan kemuliaan manusia ini… Maka tentunya orang yang dengan bangga menghinanya lebih hina dina daripada Abu Lahab, sedangkan Abu Lahab saja langsung dikutuk celaka langsung oleh Allah SWT…
Ya Allah….

Kisah pilu penghinaan terhadap sang Rasul bukan satu dua kali dilancarkan oleh kaum kafir. Di era 80 an kita pernah dibikin heboh dengan tragedi ”Satanic verses”. Novel karangan Salman Rushdie ini menggegerkan saentero umat islam. Walaupun dengan alasan cuma cerita fiktif, namun novel ini jelas-jelas mengalamatkan penghinaan kepada Rasulullah dan ayat-ayat AlQur’an. Seluruh dunia islam mengecamnya, bahkan Ayatullah Khomeini menghalalkan darahnya. Tapi toh, kenyataannya, Salman Rushdie tidak pernah tersentuh, dia aman di luar negeri sana.
Dan seakan tak pernah kapok, kaum kafir kembali bikin ulah, berpayung istilah ’kebebasan pers’ mereka mengolok-olok sang junjungan melalui gambar-gambar karikatur rendahan.
30 September 2005 tepatnya, ketika Jyllands-Posten, surat kabar asal Denmark itu dengan angkuhnya menerbitkan 12 buah karikatur yang mengolok-olokkan sang Rasul, Muhammad SAW. Masih ingat? Ouw, kebangetan sekali kalau ada yang lupa! Masalahnya, walaupun kasus penistaan itu sudah terhitung basi dan kadaluwarsa dari segi tanggalnya, namun sesungguhnya masalah ini belum tuntas hingga sekarang.
Saat gambar karikatur itu menjadi heboh, saya berusaha membrowsing gambar laknat itu ke internet. Beruntung, saya mendapatkannya di situs wikipedia, dan….. wajar bila seluruh dunia islam murka. Lebih 14 abad sepeninggal Rasulullah, kaum muslimin tidak pernah berani mengilustrasikan Rasulullah. Seberani-beraninya mereka, paling-paling hanya sebatas menggambar lingkaran yang di dalamnya bertuliskan huruf arab ’Muhammad’ (itu yang biasa saya dapatkan di komik-komik yang saya koleksi selagi kecil). Dan kini muncul gambar-gambar yang menunjukkan sosok Rasulullah secara langsung, dan lebih dari itu dengan gambar rendahan selevel ’shinchan’ dan dengan nada penuh ejekan. Ini sih namanya nantang!
Betapa tidak, misalnya di salah satu gambar, diilustrasikan nabi membawa pedang dengan wajah beringas, sedangkan di kiri kanannya ada dua orang perempuan. Atau di gambar lain, wajah nabi digambarkan seperti bajak laut, dengan bulan sabit mengitari wajah dan bintang menutupi mata kanan beliau. Dan yang lebih dahsyat, dalam satu gambar nabi digambarkan memakai sorban hitam yang di atasnya terdapat bom yang siap meledak. Di bom tersebut tertera kaligrafi laa ilaha illallah muhammadurr rasululullah…
Maka sangat wajar bila hati seluruh kaum muslimin meledak! Kita lihat kaum muslimin turun ke jalan, melakukan aksi boikot, gedung Kedubes Denmark dan Norwegia di Suriah dan Libanon dibakar, negara-negara Timur Tengah menutup kedutaannya. Tapi toh, sang penjahat tetap tak bergeming!
“Minta maaf untuk apa?” begitu malah ucap Editor Jyllands Posten, Flemming Rose saat didesak untuk meminta maaf. Betul-betul bikin gemes! Dan mereka, sampai sekarang tetap menolak meminta maaf atas pemuatan karikatur tersebut. Permintaan maaf mereka saat itu cuma karena telah menimbulkan perasaan tidak enak kaum Muslim. Hanya itu?!!
Dan karikatur itu, parahnya malah dicetak ulang di berbagai surat kabar Eropa. Di Perancis oleh Harian France Soir dan majalah Charlie Hebdo. Di Norwegia oleh majalah Kristen Norwegia, Magazinet. Di Selandia Baru oleh Wellington’s Dominion Post dan Christchurch’s The Press. Di Australia, The Courier Mail, koran terbesar di negara bagian Queensland, juga memuat ulang kartun-kartun tersebut di edisi akhir pekannya.
Dan belum sempat kaum muslimin bernafas damai, setahun kemudian muncul lagi kasus serupa dari tanah yang sama. Kembali ‘anak-anak’ Denmark bikin ulah dengan perlombaan karikatur. Kali ini yang mengadakan adalah anggota muda Partai Rakyat Denmark (Denmark People Party).
Terakhir, seakan memperlengkap tantangannya, pertengahan Februari 2008 kemarin kembali beberapa media cetak di sejumlah Negara Eropa mencetak ulang gambar-gambar penuh kebencian itu. Dan bisa ditebak, seperti sebelumnya tak satupun tindakan dari pemerintah-pemerintah negera yang bersangkutan. Bedebah!
Sampai di situ saja? Ouww.. tidak sobat. Itu mah baru yang di permukaan. Di dunia maya lebih mengerikan lagi. Cobalah browsing di internet, pakai google saja… maka kita akan mendapatkan berbagai gambar pengolok-olokan terhadap Nabi Muhammad, mulai dari menjadikan wajah –yang diklaim sebagai gambar beliau- sebagai gambar iklan rokok, iklan viagra, penggambarannya sedang memandikan babi, gambar di tissue toilet, dan…. bahkan saya merasa sangat geram dan tidak pantas untuk menuliskan lanjutannya di sini…
Bertubi-tubi? bahkan kemudian kaum muslimin hanya bisa melongo ketika Paus Benedictus XVI, yang notabene pemimpin umat Katolik sedunia, seenaknya mencaci maki Rasulullah dan ajarannya.
Puaskah mereka? Hmm AlQur’an sendiri telah mewanti-wanti dalam Surah AlBaqarah ayat 120, “Dan mereka, kaum Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan ridha (puas) kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka….”
Jadi tentunya penghinaan-penghinaan ini akan terus berlanjut. Dan kita sekali lagi hanya bisa mengutuk dan memboikot. Hanya itu….. padahal mereka di balik gedung-gedung pencakar langitnya sedang tertawa terkekeh-kekeh melihat begitu tidak berdayanya umat Islam……
Kemana perginya Talhah bin Ubaidillah??!
Kemana Khubaib bin Adi dan Zaid bin Ditsinnah??!
Kemana Ksatria-Ksatria pembela Rasulullah?!!!!

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s