Kaudografi dan Kapitalisasi Kesehatan

“Kalau di antara kita jatuh sakit….

… lebih baik tak usah ke dokter…

Sebab ongkos dokter di sini…

…. terkait di awan tinggi..”

Cuplikan di atas diambil dari senandung lawas punyanya Iwan Fals. Yoi, bahkan sejak zaman keemasannya bang Iwan, biaya kesehatan sudah jadi momok. Tepat banget, ongkos dokter bagi sebagian besar orang masih terkait di awan tinggi

Ini cerita tentang sebuah pemeriksaan penunjang yang bernama kaudografi. Di bagian neuro bila ada pasien dengan diagnosa low back pain yang curiga spondilogenik akibat penjepitan saraf atau lainnya, direkomendasikan pemeriksaan khusus. Kalau di sentra yang lebih lengkap standarnya sih pakai MRI. Tapi maklumlah, alat MRI kan mahal. Maka salah satu pemeriksaan primadona buat tulang belakang di sini adalah kaudografi. Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan bahan kontras ke daerah tulang belakang pasien. Konon menurut pengakuan beberapa pasien, rasanya sakit banget.

Saya tidak bakal cerita panjang lebar tentang prosedur kaudografi di sini. Terus terang tulisan ini hanya sebagai bentuk ”bagi-bagi kegemesan” aja. Gemes dengan permainan beberapa oknum, gemes dengan pelayanan rumah sakit, gemes dengan kapitalisme yang menggurita di segenap lini kehidupan, tak terkecuali bidang kesehatan

***

Tuan Sy, 34 tahun, seorang pekerja pabrik peralatan berat di kota nun jauh di sana. Tanggungannya seorang isteri dan dua orang anak perempuan yang masih belia. Tuntutan ekonomi meyakinkan dia siap melakukan apa saja yang halal, termasuk sebagai pekerja bagian angkat-angkat berat. Hingga pada suatu ketika punggung Tuan Sy sudah tidak lagi mau berkompromi. Prekkk…

“Hmmm… Low back pain tipe spondilogenik…. Gambaran spasme di muskulus paravertebralis” gumam saya seraya mengamati hasil bacaan dokter radiologi pada foto lumbosakral.

“Jadi gini pa, kita masih belum bisa memastikan penyakit bapak. Untuk lebih pastinya kami tawarkan prosedur kaudografi. Dari foto itu kita bisa tahu apakah ada persarafan bapa yang terjepit atau tidak” jelas saya.

Sebelumnya saya sudah nanya-nanya ke perawat yang lain, termasuk ke dokter spesialis neuro tentang harga prosedur itu. Konon sebenarnya harga prosedur ini murah, namun yang bikin mahal justru adalah biaya tekniknya yang harus dilakukan oleh dokter spesialis dengan keahlian khusus, dan lagi ada tambahan ’fee’ di luar jalur resmi. Fee itu, konon lagi bakal diberikan kepada perawat yang memakelari pelaksanaan prosedur ini. Si perawat yang ’berhasil’ mengantarkan pasien untuk kaudografi akan mendapatkan tip khusus!

Hmmm… untuk fee dokter spesialis saya bisa terima, karena itu adalah bayaran untuk ilmu dan keahliannya. Tapi untuk perawat yang sekedar memakelari?

Awalnya saya juga tak percaya langsung tentang isu ini, tapi setelah menguruskan langsung saya akhirnya mau tidak mau harus percaya….. ini sudah sektor bisnis bung! bukan lagi sektor yang murni masalah kemanusiaan……

”Tujuh ratus ribu!! Masa sih ka?” dahi saya terkernyit tajam.

”Lha.. harganya memang segitu….” si perawat X menjawab datar. Ekspresinya cool abis. Seakan segala sesuatunya serba enteng.

“yaa sudaahh…” saya angkat bahu pelan seraya kaki beringsut keluar. Anjak kaki perlahan ke arah kamar kelas dua ruang tiga.

Sebelumnya saya telah mendebat si perawat X, saya dapat informasi dari perawat yang lain harganya tidak segitu. Kok beda-beda versinya? Saya juga curiga tentang transparansi prosedur ini. Tidak jelas hitam di atas putih tentang rincian tarifnya.

Yang semakin membuat saya tambah curiga adalah setelah pasien menyatakan acc pelaksanaan prosedur, si perawat langsung mengcall salah seorang perawat radiologi… Aneh, nggak biasanya. Kalau memang merupakan bagian dari prosedur, kenapa hal yang sama tidak dilakukan untuk foto thorax biasa atau CT scan. Kok kaya ada kong kali kong gitu…

Dan jawabannya semakin jelas ketika di bagian radiologi untuk ke sekian kalinya saya menanyakan tentang harga prosedur ini yang sebenarnya..

“Poko’nya kamu tahu beres saja. Tadi Mr X sudah menghubungi saya. Emangnya kenapa nanya-nanya? Memangnya kamu yang ngebayarin?”sahut si perawat ketus.

Deg, saya tersentak. Kembali saya disadarkan, posisi saya cuma seorang ko-ass. Nggak lebih! Saya nggak punya hak ikut campur urusan ini.

Maka hanya kedongkolan. Itu saja. Sambil berjalan kembali ke ruangan saya hanya bisa merutuki diri. Bodo banget! Itu bukan urusan loe! Toh bukan loe juga yang rugi! Tugas loe itu cuma belajar! Lulus dengan nilai pas-pasan aja sudah syukur banget!

Tapi sisi hati yang satunya berkomentar lain, meyalahkan ketidakberdayaan saya. ”Bagaimanapun ini beban moral buat loe. Itu pasien loe, dan loe seharusnya mengupayakan yang terbaik buat dia? Apalagi dia dari golongan yang tidak mampu. Loe rela melihat pemerasan terselubung ini terjadi terus-terusan?” Aaaargghhh… nurani saya berteriak.

Maka satu-satunya pelampiasan kutukan saya kini adalah kepada kapitalisme yang betul-betul telah bikin sengsara seluruh lini kehidupan. Saya mencoba untuk tidak terlampau menyalahkan oknum perawat X tersebut. Mereka melakukannya tentunya juga sebagai akibat himpitan ekonomi. Jasa mereka tidak sepadan dengan upah yang mereka dapatkan. Padahal pekerjaan mereka penuh resiko. Dokter menarik tarif mahal karena mereka juga mendapatkan ilmunya dengan biaya yang sangat mahal pula. Rumah sakit mematok biaya mahal, karena memang pembiayaan dari pemerintah sangat tidak mencukupi. Sekali lagi, inilah buah penerapan sistem kapitalisme. Kesehatan menjadi komoditas, maka segalanya berpangkal pada masalah duit. Kemanusiaan lama-lama dipinggirkan.

Sebaliknya, dalam tuntunan islam yang saya pelajari, kesehatan itu adalah sebuah kebutuhan primer yang menjadi hak setiap anggota masyarakat untuk dipenuhi, dan merupakan tanggung jawab pemerintah untuk mencukupinya dengan cuma-cuma. Sehingga dalam aturan islam semestinya pemerintah menggratiskan seluruh prosedur kesehatan tanpa ada pengecualian. Bukan sebaliknya, malah mencoba berlepas tangan.

”Maaf Pak, Bu…. saya nggak bisa berbuat apa-apa. Ini di luar kewenangan saya… posisi saya hanya dokter muda di sini pak.. bu…” Sore itu di ruangan Pak Sy, selepas dilakukan kaudografi. Saya mencoba dengan bijak mengemukakan penyesalan saya tentang biaya prosedur kaudografi yang memang segitu-gitunya. Sembari menjelaskan rumitnya posisi saya.

“Iya dek, kami juga paham. Untungnya, sebenarnya seluruh biaya rumah sakit ini bukan kami yang nanggung. Tapi perusahaan tempat bapaknya ini bekerja. Jadi tinggal serahkan nota-notanya saja…” jawab sang istri kalem

Oooh… jadi sebenarnya nggak masalah, ucap batin saya akhirnya merasa terhibur. Paling nggak mahalnya biaya ini tidak jadi beban buat mereka…

“Kami paham aja kok dek… biarlah kecurangan mereka itu jadi urusan mereka kelak di akhirat” lanjut si istri yang diamini oleh suami.

Saya mengangguk tanda setuju.

“Tapi ada satu yang bikin kesal dek… jadi gini… pas saya bayarin 700 ribu itu, saya minta ke perawatnya supaya di notanya ditulis satu juta saja. Eh, dia malah menolak. Padahal kalo bisa kan lumayan kami dapet tambahan 300 ribu dari perusahaan….” tandas sang istri lagi.

Wakkksss…. mata saya hanya bisa terbelalak. Mulut saya terkunci.

14 Komentar

  1. Waduh, ternyata sama aja.
    Trus gmn tuh pendapat km Zan, ttg “bisnis obat2 sisa pasien”?

    • bisnis obat sisa pasien!
      rencananya aku juga pengen nulis panjang lebar tentang masalah itu. Kalau kita buka-bukaan bakal lebih ngeri dari apa yang dilihat. Sekedar jual obat punya pasien masih mending. masalahnya beberapa kali kejadian yang jualan bisa mengubah merek obat (menempelkan merek lain di ampulan/vialan) terus menjualnya. beberapa koass sempat bentrok dengan mereka karena masalah ini.

  2. Sedih banget jadi pasien (palagi kalau g punya uang) .Btw, ada kasus serupa; di IGD kalo mau CT scan harus diberi tau dulu biayanya 600 rb an pd pasien umum (yg bukan askes n jamkesmas) n dibayar tunai, tapi pas Lap pagi dr. Isa bilang jgn ampe pasien gawat darurat g di CT scan hanya gara2 g bw uang tunai, bukan berarti g bw uang tunai, g punya duit, coba aja org yang selalau bawa atm n credit card brp isi uang cashnya, gimana kalau dia tiba2 kecelakaan kt dr. isa, blm tntu bawa 600rb-an cash di dompet, jd beliau minta jgn jadikan uang sbg alasan g CT bila indikasi sangat PERLU, kalau ada pasien seperti itu g bawa duit, kt beliau hub beliau ( g tau sih mau diapain lagi sm beliau). tp inti komen ini sih, saya masih percaya bahwa masih banyak dokter yang baik n dengan cara mereka sendiri mereka berusaha memberikan yang terbaik bagi kemanusiaan. Semakin saya masuk RS, semakin byk yang saya lihat, saya menyadari bahwa pada dasarnya tdk ada 1orgpun dr. yang ingin menyakiti pasiennya (mungkin saya salah dan berlebai….) tapi saya ingin percaya bahwa dokter adalah pekerjaan yang mulia dan tidak sedikit org yang berusaha menjalaninya begitu juga dengan perawat.
    Saya ingin percaya bahwa masih ada orang baik di dunia ini. dan meskipun ada orang yang salah dan berbuat tidak sewajarnya, tapi mungkin dia punya alasan sendiri……
    (maybe i’m wrong, but even i’ve been hurt when i be one of patient of medical worker
    still i want to believe there’s a good medical worker in the world exist!, if im not try to believe that how do i help others amongs me (dengan ikhlas)) i hope there’s no regret 4 me…..Tapi saya doakan kalau suatu saat kakak atau orang lain ada yang bisa membangun RS sesuai yg diinginkan, semoga bisa.Amin.

  3. penjajahan diatas dunia harus dihapuskan,eh salah penjajahan di dunia kedokteran harus dihapuskan,setuju???…..klw leh tw,anda sendiri sbg dokter punya planning ap 4 mngrangi mslah di dunia kdokteran??

    • wah…. planningnya banyak mbak salsabila. tapi intinya kedokteran harus dikembalikan ke nilai luhurnya. N nilai luhur tersebut harus diatur dengan tata aturan yang benar. hanya satu tata aturan yang benar. yaitu aturan yang tercipta dari Dzat Yang Maha Benar. Syariat Islam adalah jawaban segenap aspek kehidupan, termasuk masalah dunia kedokteran

  4. Zan..tulis pang tentang bisnis obat sisa..
    benar2 menarik tuh…

    masih adakah oknum koassbedah yang sering jual2 benang di IGD Zan?

    • nah…. sorang kada tapi tahu nah masalah jualan benang. ada kisah kah masalah itu? nyaman sorang investigasi

  5. JANCUUUUUUUUUUUUUUUUUUUKKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!

    Ora sosialis ora kapitalis podowae !!!

    JANCUUUUUUUUUUUUUUUUUUUKKKKKKKKKKKKKKK Kabeh!!!!!!

    Soko proletariat sampai borjuis maklar damput ya sama aja…. rak ono bedane…..

    Wakkksss…. mata saya hanya bisa terbelalak. Mulut saya terkunci.

    • sosialis dan kapitalis memang keparat mas dan menyengsarakan umat. hanya islam, sistem asli rahmatan lil alamin dari Allah yang akan membawa barakah.

  6. Duhhh, ini nih yg buat saya dulu ragu masuk FK.. harus gmn menghadapinya ya??

    • yaaa… gimana…..

  7. waha..ha…3x cocok tuh lagunya pak de iwan fals…klo butuh artikel radiologi gak usah beli buku radiologi karena onkos untuk beli…mahal lo tertarik klik artikelku ini…

  8. Jadi miris bacanya….Oknum perawat kayaitu dilaporin keatasannya atau yang berwenang bisa lah?

  9. […] banyak lagi intrik-intrik yang menunggu untuk dikuak. aku teringat tulisan teman yang berjudul Kaudografi dan Kapitalisasi Kesehatan. Sekarang aku benar-benar yakin akan kebenaran isi tulisan itu. karena aku menyaksikannya secara […]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s