KENANGAN TERINDAH

Peradaban Islam merupakan peradaban yang paling besar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan sebuah negara adidaya kontinental (continental super state) yang terbentang dari satu samudera ke samudera yang lain; dari iklim utara hingga tropik dan gurun dengan ratusan juta orang tinggal di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan asal suku… Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai bangsa yang melindungi perdamaian dan kemakmuran yang belum dikenal sebelumnya.”

(Carleton S saat mengomentari peradaban Islam dari tahun 800 hingga 1600 dalam Ceramahnya tanggal 26 September 2001, dengan judul “Technology, Business, and Our Way of Life: What’s Next”).

***

Aku yang lemah tanpamu

Aku yang rentan karena

Cinta yang telah hilang darimu

Yang mampu menyanjungku

Selama mata terbuka

Sampai jantung tak berdetak

Selama itupun aku mampu untuk mengenangmu

Bila yang tertulis untukku

Adalah yang terbaik untukmu

Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku

Namun takkan mudah bagiku

Meninggalkan jejak hidupmu

Yang tlah terukir abadi

Sebagai kenangan yang terindah

Yap yap yap…. Bait-bait yang dilantunkan dengan indah oleh Bams Samson dan kawan-kawan. Tentang sebuah kenangan terindah.

Tentunya tak hanya Samson yang memiliki kenangan terindah. Setiap orang tentu juga punya. Tak terkecuali komunitas bernama umat Islam ini. Yo’i, umat ini pernah mengalami masa-masa romantis yang luar biasa dalam sejarah. Dan sebagaimana yang diujarkan Samson…. Selama mata terbuka// Sampai jantung tak berdetak// Selama itupun aku mampu untuk mengenangmu..

Sudah sepantasnyalah kita senantiasa menyimpan dan mengenang kenangan terindah tersebut…

Maka izinkanlah saya sejenak mengajak anda bertamasya. Ya… sekedar tamasya menelusuri jejak-jejak ’kenangan terindah’ umat ini. Bukan…. bukan… bermaksud untuk beromansa sehingga kita larut dalam romantisme sejarah. Namun sesungguhnya bagi orang beriman, sebuah kenangan adalah ’ibrah yang patut diambil hikmah di dalamnya.

Izinkan saya memandu anda mulai dari masa-masa awal turunnya risalah ini…

Ya, kini kita berada di sebuah gua di pinggiran kota yang dalam AlQur’an disebut sebagai Bakkah. Kota tua dimana Ibrahim meninggalkan keturunannya beranak pinak di sana. Kota tua tempat bertengger rumah Allah, bangunan suci pertama. Kota dengan segala kemuliaan, yang membuat iri Abrahah, sehingga bernafsu untuk merebutnya. Dan di kota ini, kota yang aman ini, tempat berkumpul manusia-manusia dari kabilah-kabilah Arab terkemuka, sibuk dengan urusan duniawinya. Maka di situlah, di gua yang jauh dari keramaian, termenung seorang hamba berparas elok, namun hatinya gundah… Yah, kegundahan melihat masyarakatnya yang jauh dari semangat keilahian. Agama Ibrahim yang diwariskan turun temurun telah tercampakkan, tergantikan dengan berhala-berhala yang dinisbatkan sebagai wakil-wakil perantara Allah. Dan kemungkaran pun menjadi raja di raja… hingga anak perempuan dikubur hidup-hidup oleh bapaknya… Hingga perzinaan menjadi hal yang biasa..

Dalam lengang diharapkannya sebuah cahaya, cahaya yang bisa menuntunnya dalam menemukan hakikat.

Sampai suatu ketika, saat hanya keterlelapan yang memenuhi kota, tiba-tiba dirinya didekap keras, “Bacalah!”

“aku tidak dapat membaca” sanggahnya. Berkali dia ucapkan, hingga akhirnya mengalir kalimat-kalimat mutiara yang terabadikan dalam Surah Al’Alaq:

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya”

Tubuh itu pulang dengan merinding ke rumahnya. Diselimutinya tubuhnya…. Ini adalah sebuah peristiwa besar…. yang mengubah jalan hidupnya… Maafkan saya, namun mesti saya ralat… Peristiwa ini sebenarnya bukan hanya mengubah jalan hidupnya… namun juga merubah jalan hidup umat manusia keseluruhan, mengubah dunia.

Dan semenjak saat itu terpancanglah panji-panji tauhid. Gentarlah kaum kafir dengan bahana Laailaha illallah. Binasalah kemusyrikan, sirnalah Latta, Uzza, dan Manat. Terpadamlah api-api majusi… dan runtuhlah istana-istana kisra parsi… terkuburlah kedigdayaan romawi…

Dan cahaya dakwah itu. Cahaya yang pada mulanya hanya seperti nyala api lilin yang kecil, namun dalam hitungan detik terus membesar membakar dan menerangi sekitar. Ketika pada awalnya hanya bisikan-bisikan dari mulut ke mulut, kemudian hari menjelma menjadi teriakan yang membuat panas para pembesar Quraisy, kabilah yang diagungkan di jazirah itu. Tertindih batulah wahai Bilal, terusirlah Saad, tersisihlah dari kemewahan Mush’ab, dan syahid tertusuk tombaklah Sumayyah. Namun terbangunlah Singa Allah Hamzah, dan terhunuslah pedang Ibnu Khattab.

Maka bagi mereka di DarulArqam siksa yang merajam, seakan hanya gelitikan yang segera terbasuhi oleh kerinduan dengan ayat-ayat AlQur’an. Dan merekapun mengisi ketegaran dalam dada masing-masing. Seolah di depan mereka telah terpampang jelas taman-taman surga yang mengalir di bawahnya sungai susu, mendelik mata bidadari-bidadari jelita membawa nampan berisi kenikmatan tiada taranya.

Hingga tibalah saatnya saat jumlah kian hari kian berambah, maka keimanan sudah tidak pantas lagi bersanding serumah dengan kemusyrikan. Maka lembah Yastrib nan subur pun menunggu kaum pejuang itu. Tidak! mereka bukan terusir dari kampungnya. Karena sekali lagi sudah tiba saatnya Kebenaran menjadi adidaya… dan Madinah alMunawwarahlah habitat awalnya.

Maka perhatikanlah di sebuah gua, dua orang hamba Allah sedang bersembunyi dari kejaran musuh. Saat tapak-tapak kaki musuh mulai jelas di telinga mereka. Keringat kegelisahan, sekan-akan inilah akhir dari perjuangan mereka. Namun satu diantara keduanya menepis segala kekhawatiran. ”La tahzan, innallaha ma’ana” jangan khawatir, Allah bersama kita. Bisiknya menyejukkan.

Dan sampailah kita di Madinah... namun dimanakah mereka sekarang?

Oh, rupanya mereka sedang berada di salah satu sudut kota. Senandung-senandung mereka terdengar jelas. Senandung penuh optimisme….. Sementara tangan tak berpangku membawa batu dan menyusunnya hingga menjadi sebuah bangunan sederhana.. Masjidnya Nabi, Masjid Nabawi… demikianlah, telah terbangunlah sebuah adidaya… adidaya yang elok sederhana, namun cahayanya menggetarkan dunia. Dari kota yang bercahaya.. Munawwarah…

Inilah saksi bisu tempat Rasulullah dan para sahabat menapakkan jejak-jejak mereka di lorong-lorong jalannya. Saksi betapa keceriaan mengisi hari-hari indah mereka. Tempat yang bahkan tak pernah sunyi di waktu malam, karena para penghuninya sibuk tafakkur, tahajjud hingga doa-doa bagaikan cahaya meliputi angkasa mengalahkan sinar rembulannya.

Kota ini pula, yang hanya bisa menatap dengan kosong kepergian 313 penduduk terbaiknya ke lembah badar demi mempertahankan kemuliaan, izzahnya. Bendera ar-rayya dan liwa berkibar perkasa di udara. Kemudian di berbagai pertempuran selanjutnya, dimana dirinya hanya berharap-harap cemas, seraya tak lama kemudian senyumnya merekah menyaksikan kumpulan orang-orang dengan mata bercahaya itu kembali dengan wajah penuh senyuman kemenangan.“ Ja al haqqu wa zahaqal baathil ” Datanglah yang haqq dan sirnalah yang bathil.

Tibalah fathul Makkah…. Mereka yang dulu pergi kini kembali. Ka’bah masih berdiri di sana… berhala-berhala masih mengitarinya… namun kegoyangan telah terasa, sementara para pembesar yang dulu berjuang mempertahankannya hanya bisa tertunduk pasrah. Semestinya balasan bagi orang yang dengan sadis menyakiti adalah mesti disakiti serupa, bagi yang membunuh dibunuh serupa. Namun nyatanya dari lisan Rasul nan Mulia hanya keluar kata…

”hari ini kalian bebas….”

Hancurlah kemusyrikan. Robohkanlah semua berhala…. bersihlah Rumah Allah…

Apabila telah datang pertolongan dari Allah dan kemenangan

Dan kamu melihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong.

Maka bertasbihlah, dengan memuji Rabbmu, dan beristighfarlah. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat.”

Angkasa raya berhias tasbih, tahmid, dan takbir.

Keagungan langit membumi hingga wujudlah layaknya surga di hamparan dunia.

Maka di tangan para pengemban dakwah, terbiaslah cahaya-cahaya hingga ke pelosok-pelosok lembah, menyeberangi lautan, menapaki padang-padang pasir, menaiki pegunungan, menuruni lurah, ke dusun-dusun terpencil, ke istana-istana megah, ke sarang penyamun, kepada kaum bangsawan, membebaskan kalangan budak, menenteramkan rakyat jelata, mencerahkan para pemikir, mewarnai para pemuda, membangunkan para penguasa.

Allahu Akbar.

Dan sejahteralah muka bumi.

Cemerlanglah dengan ijtihad kaum ulama

Suburlah dengan darah para mujahid

Sentausalah dengan keadilan penguasa

Dan bahagialah dengan ketakwaan dari segenap hati rakyatnya.

Cemerlanglah…

Maka ramailah jalan-jalan dan bangunan dengan kajian-kajian ilmu pengetahuan. Imam Syafi’i dengan alUmmnya, Imam Malik dengan alMuwattanya, Imam Ghazali dengan Ihya Ulumuddinnya. Terlahirlah dari rahim umat alim cendekia, yang kawakan dalam sainsnya namun tawadhu dalam dien-nya. Adalah Ibnu Sina sang pemancang ilmu kedokteran Islam, AlKhawarizmi sang pencetus ilmu aljabar, Jabir Ibnu Hayyan sang kimiawan, Nashiruddin ath-Thusi maestro astronomi, AlIdrisi ahli geografi, Ibnu Khaldun bapak sosiologi, dan ribuan nama-nama lainnya yang abadi dalam khazanah sejarah sebagai mutiara-mutiara mata rantai majunya ilmu pengetahuan, teladan bagi kaum ilmuwan.

Dan darah pun tertumpah….. namun suburlah tanah yang ditumpahinya, bertabur wangi-wangi. Darah-darah para syuhada yang telah mengalir semenjak terlahirnya kalimah-kalimah suci. Mereka sang pemburu syahid, yang dengan jasa-jasanya terbebaslah negri kufur, terbukalah penghalang, merembeslah mata air kebenaran. Dan bertekuk lututlah kebathilan, merasa kecil di bayang-bayang kekuatan kebenaran. Adidayalah Negara raya Islam. Bernaunglah di bawah bayang-bayangnya dua pertiga belahan dunia yang dihuni oleh manusia. Dari Maroko hingga Marauke, merambah eropa, menyegarkan padang tandus Afrika, dan menyuburkan Asia.

Kemudian aman sentausalah, di negara raya yang berkumpul di dalamnya manusia-manusia berkulit putih, kuning, sawo matang, hingga hitam legam. Pendek tinggi pesek keriting berombak melebur dalam kebersamaan. Di sini, di negara ini… dimana umat muslimin membaur dengan non muslimin. Tidak ada diskriminasi. Bahkan kafir dzimmi disini adalah orang-orang yang dijamin langsung oleh Rasulullah untuk darahnya terlindungi. Agunglah…. Adillah… hingga yang teringgal hanya decak-decak kagum.

Wahai inikah keadilan, ketika Sang penguasa Khalifah Ali ternyata dikalahkan perkaranya di pengadilan oleh seorang Yahudi. Ketika Yahudi tua dimenangkan perkara penggusuran rumahnya oleh Khalifah Umar bin Khattab. Ketika bahkan pada saat negara khilafah islam diserang oleh pasukan salib, umat kristen di daulah khilafah malah memihak ke orang-orang Islam. Kenapa? Karena mereka merasa kedamaian di sini, dan pasukan salib yang walaupun seagama hanyalah merusak kedamaian yang telah tercipta romantis.

Wahai inikah kemakmuran, hingga diriwayatkan pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, petugas zakat Yahya bin Said yang bertugas memungut zakat ke Afrika. Dan setelah berhasil memungutnya, apa dinyana, dia gagal dalam mendistribusikannya pada orang miskin. Mengapa? Karena dia tak menjumpai orang miskin satupun! Semuanya berkecukupan…

Dan inilah kemakmuran sentausa, ketika rasa aman begitu terjamin. Penjahat berpikir panjang untuk melakukan tindakan kriminal, hukuman yang begitu membuat jera.. sedangkan untuk apa berbuat kriminal, toh kesejahteraan begitu mudah diperoleh. Rasa aman meliputi hati-hati kaum beriman. Dan kesejahteraan pun adalah kenikmatan tambahan bagi keum bertakwa, kesehatan dan pendidikan gratis adalah jaminan, sandang pangan papan terpenuhkan… Maka bertasbihlah bertahmidlah atas segala nikmat yang diberikan kepada penduduk-penduduknya yang muttaqin… di bawah imaamun ’aadiluun.

Berbahagialah… di tengah anugerah berlimpah, akhlak tetap terjaga, taqwa tetap tameng yang tebal. Dengung alQur’an meresap ke jantung-jantung umat, ukhuwah mengokoh mengakar, bumi ramai dengan hamparan sajadah.. maka makin bertaburanlah barakah, maka semakin menjadilah anugerah-anugerah….

Bumi penuh rahmat, dipenuhi manusia-manusia berhati malaikat.

Dan inilah dia, bagaikan sebuah negeri khayalan dalam cerita-cerita pengantar tidur. Namun ini bukanlah dongeng. Ini nyata dan tinta sejarah telah begitu jelas menggambarkannya.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (TQS AlA’raf 96)

Baldatun tayyibatun wa rabbun ghafuur…

Epilog

Hingga suatu saat zaman pun berganti, tatkala bahana adzan redup tertutupi hirup pikuk pasar, ketika dengung alQur’an mulai melengang, tatkala ijtihad ditinggalkan. Satu persatu tiang pun mulai roboh. Hingga bangunan megah yang telah terbangun lama pun lapuklah…. Gubuk kekafiran dan kebathilan seperti mendapat tempat kembali di tengah tandusnya keislaman di tengah umat.

Mati surilah kejayaan kebenaran.

Pelupuk mata penuh berhias bayang-bayang kekufuran.

Keadaan seratus delapan puluh derajat. Iman terpinggir, Bathil meninggi.

Kenangan terindah pun terkubur…

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (TQS AnNahl 112)

Ahh…

Masa berganti layaknya roda

Dan kini sudah hampir masanya

Kenangan terindah saat terang meliputi semesta

Menanti….. kembali….

Iklan

1 Komentar

  1. Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Tau gak, waktu Shalahuddin Al-Ayyubi menang Perang Salib menundukkan 3 Raja Kafir Eropa, itu BUKAN KARENA SOSOK SHALAHUDDIN SEBAGAI SUPERMAN TUNGGAL, tapi lebih karena pergerakan kolektif dari rakyatnya. Jadi gini, sebelum itu mereka telah dididik dengan ilmu hati dulu, dan ulama yang berpengaruh saat itu adalah Imam Al-Ghozali yang membersihkan aliran-aliran kebathinan dan memelopori titik temu antara syariat dengan tarekat, kemudian dilanjutkan ‘muridnya’, Syaikh Abdulqadir Jaylani yang lahir di tahun meninggalnya Imam Al-Ghozali. Nah, didikan tasawuf-syar’i dari mereka inilah menjadikan masyarakat melek syari’at dan juga gak alergi tarekat, BEDA SAMA JAMAN SEKARANG, TEREKAT DIANGGAP BID’AH-KHURAFAT-SYIRIK, SYARIAT DIANGGAP KERAS, huhuhu… Nah dari madrasah-madrasah mereka inilah kemudian melahirkan sosok pemuda seperti Imaduddin Zanki dan Shalahuddin Al-Ayyubi, baru kemudian bangsa mereka bisa bangkit dari keterpurukan saat itu. Bagaiman dengan kita???

    wassalamu”alaikum Wr.Wb


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s