KERUPUK, Kriuk…. Kriuk….

“Jadi kau sudah paham syarat-syaratnya, cucuku?” pria baya berjubah hitam itu menatap tajam mata pemuda di hadapannya, aroma menyan semerbak meliputi segenap ruangan berukuran 2 kali 3 itu

“Injih, Mbah. Semua sudah saya hapalkan di luar kepala. Taburkan kepala ikan asin ke sungai tepi kuburan di dua pertiga malam bulan purnama….. Celupkan kembang tujuh rupa di wajan yang telah berisi minyak nyong-nyong…. Masukkan garam secukupnya… Aduk hingga merata dan campurkan adonan ke dalam sungai tadi… trus baca mantra….. Aduh mantranya saya lupa-lupa ingat mbah….?!”

”Lha, bukannya tadi udah diulang-ulang…. Jung takacak cak jung takacak bless…. Bismillahi…. wallahi… kun fayakun…. Maka Jadilah!”

O iya.. ya.. tapi Mbah, apa benar ini bisa bikin saya kaya raya?” tanya si pemuda tadi masih belum puas.

Hemmmm… Cucuku… ketahuilah! rejeki ada di tangan gusti Allah…. Mbah ini, dan benda-benda tadi cuma perantara… yang penting kamu percaya saja…. maka yang mustahil pun akan niscaya…” jelas sang kakek bersungut-sungut.

“Satu pertanyaan lagi, Mbah… kalo bener ini bisa bikin kaya, kok Mbah gak kaya-kaya… masih tinggal di gubuk reot kayak gini?”

Gedubrak! Sang kakek tersedak, sirih yang sedari tadi dikunyahnya muncrat ke wajah si pemuda.

***

Sagitarius

Minggu ini kayaknya banyak persoalan yang harus segera diselesaikan. Tapi nyantei aja… sebaiknya buat skala prioritas. Dan jangan anggap enteng persoalan-persoalan sepele… bisa jadi masalah besar lho…

Asmara: Yes! Siap-siap, siapa tahu dia bakal nembak kamu…

Kesehatan: Jaga stamina, jangan banyak keluyuran

Keuangan: Kamu mesti lebih berhemat

***

Serius! Kemarin gue betul-betul liat tu pocong. Tubuhnya berkelebat kain putih…. matanya melotot… hiii! Kalo inget kejadian itu jadi merinding sendiri deh” Si Maman merapatkan sarungnya

Ah, yang bener loe? Masa sih ada pocong di jaman modern ini” sanggah Udin, tapi tak urung wajahnya juga keliatan pucat.

Tapi emang bener lho. Abang gue juga pernah liat. Dua kali malahan. Biasanya munculnya di deket pohon palem tua deket rumah mpok Hindun itu. Denger-denger sih …tu pocong, arwah penasarannya si Atun, anak mpok Hindun yang mati gantung diri seminggu lalu…” tambah Juki..

A..aah..hh loe… loe… be..canda... loe… Loe berdua c… cuma nakutin gue aja.. k.. ka..n… H… ha.. ha.. haaaa… g.. gu.. gue gak ta..takut….” Wajah Udin makin pucat, keringat dingin mengalir deras.

Sementara angin malam sepoi, bertiup perlahan membawa aroma rumput liar.

Tiba-tiba sekelebat bayangan putih merangsek di hadapan mereka.

”Huaaa!!” Tanpa nunggu aba-aba, mereka bertiga berlari terbirit

Lho, kok malah ngibrit?” tinggal Nyak Siti yang baru pulang isya di surau, dan masih mukenaan itu bengong nggak habis pikir.

***

Aqidah kerupuk, begitu yang sering saya umpamakan ke kawan-kawan. Aqidah kita seringkali terlalu rapuh. Tidak ada bedanya kayak kerupuk, yang begitu mudah dikriuk-kriuk. Kena angin sedikit saja, si kerupuk sudah melempem. Naaah sebesar-besarnya kerupuk, tetap saja isinya kosong. Gizinya tidak bermakna, tidak bakalan bisa mengenyangkan.

Tapi ternyata saya kena batunya juga gara-gara sok ngomong begitu. Ceritanya seperti biasa kalau maghrib saya shalat berjamaah di masjid seberang jalan. Dan seperti biasanya pula saya berangkat ke masjidnya ngepas-pasin waktu iqomat (Hehehe… itu dia kita ini. sudah tahu jangan lalaikan waktu sholat, eh ternyata bisanya ngomongnya saja. Astaghfirullah). Nah, namun tidak seperti biasanya kali ini beberapa meter dari masjid saya dihadang oleh dua orang bertampang preman.

”Weii… Ngapain loe” Ucap salah seorang dari mereka dengan gaya bicara rada-rada mabuk. Entah mabuk beneran atau lagi latihan kungfu jurus mabuk.

Ke masjid bang, mo sembahyang….” ucap saya datar. Padahal dalam hati sudah ketar-ketir.

”Hahaha…. sembahyang… ngapain… Nyembah siapa?” ucapnya lagi terbahak-bahak.

”E… e… nyambah Allah….” jawab saya sekenanya.

”Hahahahaha…. emangnya ada Allah? Coba tunjukin dimana? Hahaha…”

Saya tidak menjawab lagi, dan berusaha cepat menjauh dari mereka. Menurut saya saat itu tidak ada gunanya melawan pembicaraan mereka. Lagipula saya sudah terlambat. Keburu masbuk.

Namun usai sholat, saya kok jadi mikir tentang betapa pengecutnya saya saat itu, sehingga menjawab kalimat Allah pun begitu terbata. Dan malah gugup ketika mereka menyangkal tentang keberadaan Allah. Pertanyaannya, jangan-jangan iman saya ini sama saja dengan mereka… Jangan-jangan Aqidah saya juga layaknya kerupuk… Aaahh..

Saya jadi malu sendiri bila membandingkan aqidah saya dengan aqidah para pendahulu, para sahabat yang betul-betul layaknya baja. Menyimak episode-episode keimanan mereka, menjadikan diri ini hanya selayak pecundang yang tidak ada apa-apanya.

Berkacalah diri pada seorang budak belian Bilal bin Rabbah, saat tuannya menindihkan batu besar di tubuh legamnya yang telanjang. Terik panas mentari mendidihkan dari atas, sementara padang pasir kering menjadi wajan penggorengan. Goyahkah keimanan Bilal? Bahkan senandung lirih: Ahad, Ahad, Ahad… terus membasahi lidah mulianya

Atau ikutilah sebuah rombongan yang terdiri dari 313 pemuda. Dengan unta dan kuda yang bergantian mereka naiki, padang pasir merekam jejak-jejak kaki mereka. Senjata dan pengalaman seadanya. Sementara di hadapan mereka menghadang 1000 lebih pasukan terlatih, dengan puluhan unta dan kuda terbaik, serta senjata-senjata andalan.

Apakah pertolongan Allah akan datang, ya Rasulullah?” salah seorang bertanya.

Sosok anggun gagah yang ditanya tadi menjawab dengan mantap

”Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”

Dan mereka pun berlarian menyerbu dengan bersuka ria, seolah sedang menuju ke taman bermain saja. Karena keimanan mereka mengatakan: Allah bersama mereka…

Wajar, bila generasi tadi menjadi generasi pilihan, generasi umat terbaik. Yang diabadikan Allah dalam firman-Nya ”Mereka ridha kepada Allah, dan Allah pun Ridha kepada mereka…”

Dan akhirnya sekali lagi saya hanya bisa tertunduk malu haihata… haihata… sungguh jauh!

Dan gambaran keadaan saya ini bisa jadi mewakili keparahan aqidah dari umat ini. Aqidah yang meranggas! Kalau orang dulu masih bisa bilang, ”Bolehlah kita miskin, bolehlah kita sengsara dan tertindas, tapi kalau masalah aqidah…. masalah hidup dan mati, harus dipertahankan”

Namun kini, kita saksikan benteng aqidah umat ini ternyata telah keropos, bocor dari segala penjuru. Dan bicara yang namanya kebocoran, bilamana terus menerus dibiarkan, suatu ketika akan jebol!

Mulai dari yang kecil-kecilan yang kadang tak disadari, sampai yang kasat mata begitu kelihatan. Masalah pemurtadan yang dilakukan oleh misionaris misalnya. Hmm… untuk masalah yang satu ini bukan satu dua kali dan bukan sesuatu yang ditutup-tutupi lagi. Berbagai kasus, mulai dari berkedok pendidikan, bantuan sembako, perkawinan, hipnotis, dan lainnya sudah nampak jelas sekali, dan terang-terangan dilakukan. Hingga pemikiran-pemikiran yang mendangkalkan aqidah umat, seperti yang dengan bangganya diusung oleh orang-orang yang mengaku kalangan islam liberal. Dengan berselimutkan argumen-argumen ilmiah (atau diilmiah-ilmiahkan?), yang mencerabuti aqidah umat, mulai dari ide pluralismenya, peraguan terhadap otentitas AlQur’an, reaktualisasi islam, dan segala-galanya yang intinya membuat aqidah semakin keropos.

Atau budaya-budaya yang bertentangan dengan aqidah, seperi upacara sedekah laut, sesaji-sesaji terhadap leluhur, pengkeramatan kuburan-kuburan, dan berbagai upacara adat yang kebanyakannya amat jauh dari islam, yang anehnya, dengan dalil melestarikan budaya bangsa, disokong habis-habisan.

Ramalan dan Perdukunan? Ah, jangan ditanya lagi. Padahal dengan sombongnya masyarakat sekarang mengaku sebagai masyarakat modern. Tapi ironisnya si modern ini masih percaya dengan dongeng klasik yang menyatakan nasib seseorang tergantung dari gugus bintang yang menaunginya kala lahir. Di abad digital yang katanya waktu dan jarak sudah tiada arti lagi, masih ada tempat untuk kemenyan, bola kristal, dan mantra-mantra dari dukun. Aneh bin ajaib!

Masyarakat modern bagaimana? Sedangkan komunitas hantu begitu subur bergentayangan di media. Sehingga membuat imajinasi kita mempercayai betul-betul keberadaan arwah-arwah penasaran, keberadaan hantu-hantu lokal, seperti pocong dan genderuwo di Jawa, Kuyang di Kalimantan, Drakula di Amerika, Vampire di daratan China. Bahkan iblis pun bisa jadi bingung, karena begitu banyak yang memparodikan dirinya.

Lebih parah lagi, Mistik-mistik yang merusak aqidah umat ini malah seringkali diidentikkan dengan islam. Tayangan-tayangan mistik yang seringkali berkedok kisah islami begitu ramai menghiasi pertelevisian. Visualisasi malaikat dan setan misalnya, yang jelas-jelas ditentang oleh Islam. Atau penggambaran adzab yang hanya reka-rekaan dari sang sutradara. Atau yang seringkali kita lihat, kehebatan seorang kiai dengan bacaan-bacaannya mengusir setan. Oke, mungkin maksud mereka mulia untuk menyadarkan umat. Namun, bagaimanapun hal-hal seperti itu telah melampaui batas aqidah. Bahkan disadari atau tidak pencitraan seperti itu telah memojokkan Islam seakan-akan Islam identik dengan masalah-masalah seperti itu aja

Nah, kalau sudah begitu masalahnya, maka pantas sekali aqidah umat saat ini lebih mirip kerupuk, yang begitu mudah diremes-remes. Dan kalau sudah begitu, ya sudah….. bersiap-siaplah untuk dilahap dan dilumat-lumat.

Kamu akan seperti hidangan yang disantap orang dari segala penjuru…”

Ya Rasulullah, apakah jumlah kami saat itu sedikit?”

Tidak. Bahkan kalian banyak. Namun kalian layaknya buih-buih yang terombang-ambing di samudra”

8 Komentar

  1. astagfirullah,smw itu fkta,smw bnr..ap yg qt lkukan slm ini tdk ad ap2nya dbndng para shbt…dan skrg pun pjuangan mngakkan khilafah lg disebut angan2 semu n msh prematur..

    • prematur? sembarangan! perjuangan ini dilakukan dengan pemikiran yang matang. kerja yang keras serta cerdas. dasar dalil yang kuat….. langkah yang terorganisir…. tinggal masalah waktu saja, pada hari apa jam berapa Allah menakdirkan khilafah berdiri.
      maka tertunduklah para pengumpat serta pencela

  2. assalamu’alaikum
    apa pendapat Anda mengenai liqo?

    • liqo atau halaqoh atau majlis ta’lim atau ngaji… apapun namanya dan dimanapun tempat serta siapapun gurunya adalah sebuah keperluan yang asasi. Mempelajari islam kan hukumnya fardhu ain ya? masa ilmu yang lain dikejar habis-habisan… tapi kalo ilmu islam malah pikir-pikir atau terasa berat. kan gak adil ya?

  3. cipp!!!
    sok taunya saya neh liqo sendiri artinya pertemuan, bener gak?

    Tapi dalam hal ini maksud saya adl harakoh liqo’-nya sebuah partai,

    pernah ada saudara yg ngomong gini
    “Tujuan Ana mengikuti liqo’ sesungguhnya hanyalah untuk bertholabul ‘ilmi. Ana merasa selama mengikuti liqo’, tidak banyak ilmu yg bisa Ana dapatkan. Dalam banyak rapat atau pertemuan, walaupun judulnya “untuk perkembangan dakwah”, tapi terlalu banyak membahas keorganisasian. Apalagi saat2 menjelang Pemilu lalu…. Wuihhhhh… agenda dakwah hanyalah untuk kepentingan politik.”

    Bagaimana menurut Anda?

    • wah… untuk masalah itu. prinsipnya gini….. terlepas dari dimanapun ngaji luruskan niat anda, terus jangan ashabiyah terhdap sebuah gerakan/ partai. kalau masalah agenda dakwah untuk kepentingan pemilu… itu mah mungkin urusan partai tersebut ya…. kalau saya sih gak setuju ikut pemilunya… jadi gak setuju juga diajak-ajak kerja buat pemilu. soalnya pemilu itu bagi saya layaknya bencana… buang-buang duit, bikin orang stress, bikin ricuh, dll. tapi hasilnya….. wakakakakakk… tak ada perubahan!

  4. yup itu seh setuju!!!
    hmmm………………. bagaimana dg Anda?
    Maap sekarang inikan buanyak bgt berkmbang aliarn2 Islam, termasuk yg saya temui waktu mengikuti harakoh liqo’y sebuah partai( Anda tau kan partai apa yg saya maksud?), kok menemui beberapa ajaran2/ilmu2 yg diajarkan berbeda malah mungkin bisa dikatakan bertentangan ama yg diajarkan ustadz/ustadzah saya wktu kecil, lalu bagaimnkah menyikapinya?

    Wah Anda gak setuju ama pemilu??!!!! apa yg salah dg pemilu, Truz klo Anda gak setuju apa punya ide untuk menggantikan pemilu?
    berarti waktu pemilu legislatif kemaren Anda termasuk golongan putih donk?!!
    sorry Bang klo pertanyaannya terlalu banyak…..

    • banyak aliran atau mungkin enaknya bilangnya ‘mazhab’ aja kali ya…. di aqidah ada ahlusunnah dan syiah dll, di fiqh ada hanbali, hanafi, syafi’i, maliki, ja’fari dll. Gak masalah beda pendapat asal punya landasan dalil yang kuat. zaman rasul dan para sahabat saja ada perbedaan pendapat dan rasul membolehkan. sekali lagi ga papa asal punya landasan dalil.. bukan berarti sesuatu yang baru yang kita dapatkan serta merta salah atau sesuatu yang lama yang telah tertanam di pikiran kita pasti betul atau bisa juga sebaliknya. untuk kesekian kalinya semuanya harus berdasarkan dalil. oke?
      Untuk masalah pemilu, simak tulisan terbaru saya “Imam yang mana?”. ini sekaligus untuk menjawab pertanyaan anda.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s