Mencetak (Kembali) Generasi Luar Biasa

Suatu ketika segerombolan massa terlihat saling berdesakan. Mereka menyeruak disekitar sebuah podium, berebut merumbungi seseorang untuk bisa bertatap muka dengannya. Massa yang datang dari berbagai penjuru daerah itu begitu bergelora dengan sorak sorai dan saling berebut untuk dapat mencium tangan, pundaknya dan bahkan ujung baju orang tadi. Orang yang diburu tadi, dengan nafas terengah-engah melompat ke kursi, namun massa masih tetap memburunya. Hingga akhirnya dia berhasil diamankan ke tempat yang aman. Ketika massa disuruh bubar, dengan keras mereka membantah, “Kami tak mau pergi sebelum berjumpa muka dan bertatap mata dengannya!!”

Menurut anda, kira-kira siapa orang yang dikerubungi bak semut mengerumbungi gula tadi? Mungkin anda bakal terkejut kalau saya katakan, dia bukan lah Pasha Ungu, Bams Samson, Ariel Peter Pan atau konco-konco mereka yang lain. Mungkin anda lebih terkejut lagi bila saya katakan bahwa orang ini bukan penyanyi grup band terkenal, bukan artis sinetron, bukan pula bintang olahraga dan semacamnya. Dan bisa jadi anda akan membelalakkan mata saking terkejutnya, karena tokoh yang saya ceritakan di awal adalah HOS Tjokroaminoto!

Iya, HOS Tjokroaminoto…. Bukan aktor, bukan penyanyi. Tapi tokoh ini begitu dipuja dan diidolakan di zamannya. Berbagai julukan melekat pada diri beliau, Sang Singa podium, juru selamat rakyat kecil, dan sebagainya.

Kita tidak sedang membahas kehidupan seorang Tjokroaminoto. Saya justru ingin menyoroti tentang massa yang merumbunginya. Anda merasakan ironinya dengan saat ini? Tidak jauh beda, remaja saat ini juga histeris, juga bersorak sorai, juga berebut merubungi tokoh-tokoh idolanya, saling dorong agar bisa bersalaman dan menyentuh sang idola….. Bedanya adalah kualitas sang idola. “Gula yang dirumbungi” di era kini bukan lagi orang-orang hebat sekelas HOS Tjokroaminoto, Soekarno, atau Agus Salim. Namun orang-orang yang bisa jadi kualitasnya lebih rendah dari yang merumbungi (Saya tidak perlu kan menceritakan tentang begitu bobroknya dunia artis?).

Konon mutu hidup suatu generasi dapat diukur dari siapa-siapa yang mereka idolakan. Maka mungkin tidak berlebihan bila dari satu tolak ukur di atas saja kita sudah dapat menilai sembari mengelus dada…. Betapa rendahnya kualitas generasi kita…. Ini belum lagi bila kita menyoroti sisi gaya hidup yang hedonis, sikap yang pesimistis, materialis, dunia gemerlap, seks bebas, narkoba, kriminalitas, dan lainnya.

Mendambakan jiwa-jiwa luar biasa

Alkisah, di sebuah masjid sekumpulan orang melingkar mengerumuni seseorang. Mereka tekun mendengarkan tausiyah dan pelajaran yang disampaikan oleh orang tersebut. Tapi sebentar! Mari kita perhatikan lebih jelas bagaimana rupa orang yang dianggap sebagai ulama itu. Masya Allah! Ternyata hanya seorang anak tanggung! Saat itu bulan ramadhan. Tiba-tiba di sela-sela ‘kuliah’nya si ‘dosen’ nyeletuk haus dan meminta minum. Semua ‘mahasiswa’nya protes, bukankah ini bulan puasa? Namun apa jawab sang dosen? Dia hanya menjawab ringan. “Maaf, saya belum baligh, jadi saya tidak wajib berpuasa”

Hehehe…saya geli sendiri ketika membaca kisah tadi, si dosen cilik yang jadi panutan walaupun belum baligh tadi adalah Imam Syafi’i. Kagum juga, bahkan di usia dini di saat anak sekarang masih main kelereng, Syafi’i sudah hafal quran, Kitab alMuwatta, jadi dosen…..

Mari kita berpindah ke adegan lain, kali ini di abad ke 7, saat itu umat Islam baru saja ditinggal pergi oleh baginda Rasulullah. Tidak lama sesudah itu terjadi keributan di tengah sahabat tentang figur panglima yang baru yang akan diberangkatkan ke daerah Romawi untuk berjihad di sana. Bukan, bukan karena kelemahannya, bukan pula ragu akan kealimannya. Namun yang menjadi keributan adalah tentang usianya, Panglima besar ini baru berusia 18 tahun! Padahal di belakangnya ada para senior seperti Abu Bakar, Umar, dan tokoh-tokoh lain. Namun, kontroversi segera mereda ketika sang kepala negara yang baru, Abu Bakar berkata: Aku percaya terhadap kemampuan orang pilihan Rasulullah! Dan melesatlah si remaja, dan bertebaranlah angin kemenangan. Pemuda 18 tahun tadi bernama Usamah bin Zaid.

Cukuplah dua contoh tadi sebagai pembanding bagi kita tentang generasi berlian yang pernah mengukir kejayaannya di dunia. Sesungguhnya kita merindukan sosok-sosok mereka kembali tampil mewarnai peradaban dunia sekarang.

Kenapa Mereka Bisa?

Lho kok? Dulu kok bisa sedemikian gemilang, sedangkan sekarang malah berkebalikan? Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menghadirkan kembali generasi luar biasa itu ke era sekarang.

Setidaknya ada 3 pilar utama yang mesti ditegakkan

  1. Membentuk paradigma yang excellent kepada generasi muda. Paradigma excellent hanya dapat ditanamkan dengan memberikan pemahaman kehidupan yang paripurna kepada mereka. Penanaman pemahaman islam yang kaffah secara berkelanjutan adalah solusi untuk memperbaiki kualitas generasi saat ini. Pendidikan yang ada saat ini dinilai bertanggung jawab terhadap kerusakan generasi muda. Pendidikan yang menempatkan pengajaran islam hanya di 2 jam pelajaran, yang bahkan sering saya sindir untuk hal yang sangat dasar seperti kemampuan membaca alQur’an saja gagal dibentuk dari bangku sekolahan umum. Wajar, bila kita pesimis akan pendidikan saat ini yang hanya membentuk generasi yang hedonis.

  2. Mewujudkan lingkungan yang kondusif yang mendorong generasi muda untuk maju. Perlu adanya kontrol dan kepedulian dari seluruh komponen masyarakat.

  3. Regulasi dari negara yang menerapkan bentuk sistem pendidikan yang bermutu. Ini sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh para khalifah dalam lintasan sejarah islam, dimana mereka memberikan perhatian yang luar biasa terhadap pendidikan. Hasilnya terbukti gemilang, sehingga dari hasil kerja mereka terbentuk jutaan ilmuwan yang pernah menjadi mercu suar dunia, yang bukan hanya ahli sains namun juga ahli ibadah.

Mencetak Generasi Luar Biasa

Bunga yang indah sulit tumbuh di padang pasir gersang. Tumbuhnya generasi luar biasa perlu iklim dan kondisi yang tepat. Dalam hal ini, perlu ada sinergisitas dari semua komponen. Orangtua mesti memupuki dan memelihara tumbuhnya. Para guru mesti menyiraminya dengan air yang segar, hingga benih tadi berbunga. Sedangkan negara mesti memberikan cahaya mataharinya, menciptakan iklim yang mendukung tumbuhnya bunga tadi, serta mencegah hama yang berniat merusak. Hingga akhirnya kumpulan benih tadi mampu dengan anggunnya menampilkan sosok-sosok indah dengan harum semerbaknya.

(Sebuah keluhan dari sebuah benih yang merasa sulit tumbuh di pasir yang gersang)

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s