MISTERI HILANGNYA SEBUAH KUNCI

“Pernah denger cerita tentang misteri hilangnya sebuah kunci nggak?” Bang Faqih –kenalan saya dari jauh- tiba-tiba memecah kesunyian suasana malam itu.

Eh, menarik juga nih. Malam-malam dengar cerita misteri. Saya pun buru-buru membetulkan letak duduk saya, bersiap bertualang dalam dunia misteri. Bang Faqih kan terkenal jago ngibul… ups… maksudnya jago cerita.

Tapi ini bukan cerita hantu atau genderuwo lho…. cerita ini diilhami dari kisah nyata” lanjutnya. Huuuu… Penonton kecewa. Saya kembali menyandarkan punggung saya ke kursi. Malam ini terasa begitu hangat. Rembulan di atas benderang menampilkan pesonanya.

Bang Faqih menghirup kopi tubruknya.

”Ceritanya ada seorang bapak-bapak, sebut saja namanya Pak Faqih, orangnya ganteng, murah senyum, berwibawa, tidak sombong dan rajin menabung…”

Interupsi! Bagaimana kalau langsung ke halaman-halaman terakhir cerita saja…. atau kalau tidak kita shut down aja sekalian kisahnya” potong saya protes. Niat cerita tidak sih.

Oke… oke…. nah ceritanya Pak Faqih yang ganteng itu, suatu ketika kehilangan sebuah kunci di dalam rumahnya. Pak Faqih pun kelabakan. Kunci itu sangat berharga bagi dia. Maka dia pun mulai mencari. Namun karena rumahnya gelap karena kebetulan listrik sedang giliran padam, Pak Faqih malah mencari ke halaman luar rumah.” Bang Faqih menghela nafas panjang.

“Pak Faqih yang ganteng itu pun….”

”Untuk kesekian kalinya, Interupsi!!” potong saya lagi. ”Bagaimana kalau kata-kata …. yang ganteng itu kita sensor. Soalnya teramat mengganggu jalannya cerita”

Ya.. ya… ya… eh sampai di mana tadi? Oh iya. Pak Faqih yang tampan dan berwibawa itu pun berkeliling-keliling halaman rumah….”

Saya hanya bisa menarik nafas kesal.

”Tetangga sebelah rumahnya pun menegur, ’hei ngapain Pak Faqih?’ tanyanya.

’Nggak liat apa, saya ini sedang mencari-cari kunci saya yang hilang’ jawab Pak Faqih sekenanya.

’Emangnya jatuhnya dimana Pak?’ tanya si tetangganya lagi.

Itu lho, jatuhnya sih di dalam rumah…’ Jawab Pak Faqih.

Lho, sudah tahu jatuhnya di dalam rumah. Kok malah nyari-nyari di halaman luar’ si tetangga menggeleng-gelengkan kepala.

’Habis…. soalnya di dalam rumah kan gelap. Di luar lebih terang’ Jawab Pak Faqih santai yang diamini tetangganya dengan meletakkan telunjuk miring ke dahi sambil menggerak-gerakkannya. Wong Edan!”

Nah, sebenarnya perumpamaan di atas amat mirip dengan kondisi kaum muslimin saat ini. Umat muslim saat ini sedang kebingungan mencari-cari solusi terhadap berbagai problem yang menderanya. Namun sialnya, mereka malah sibuk mencarinya di luar ajaran islam. Ketika kemiskinan mendera mereka, maka mereka lebih merasa pede mengambil ’kunci’ dari Kapitalisme. Ketika kebodohan menghantui generasi anak cucu mereka, mereka malah lebih percaya terhadap ’kunci’ yang ditawarkan liberalisme. Ketika politik kacau balau dan bermasalah, maka tanpa pikir panjang mereka malah lebih memilih politik ala machiavelisme. Pokoknya apa saja asalkan dari Barat, sikaaatt…. Lho kenapa malah nyari di luar? Tegur tetangga. Dan umat muslim menjawab dengan bangga: Di luar lebih terang. Barat lebih maju. Di dalam gelap! Dan hasilnya, ’kunci’ yang sejati yang dapat menyelesaikan seluruh problema tak akan pernah ketemu.”

Bang Faqih menutup ceritanya.

”Nah, kira-kira hikmah apa yang bisa ditangkap dari cerita di atas?” lirik Bang Faqih ke arah saya.

”Ehem…. yang dapat saya ambil… ternyata yang namanya Pak Faqih di cerita tadi itu wong edan. Saya nggak habis pikir, bisa-bisanya nyari kunci ke hala.. Ouww” sekelebat jitakan pun mampir di kepala saya.

Bisa jadi tepat seperti cerita Bang Faqih tadi, umat Islam saat ini memang ’wong edan’. Mereka asyik mencari solusi berbagai problematika mereka malah dari luar islam. Padahal kurang apa sih ajaran Islam? Bukankah Islam telah diturunkan dengan sempurna. Hingga dengan ajaran yang paripurnanya itu telah lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh problematika kehidupan. Mulai dari yang remeh temeh sampai yang paling kompleks. Mulai masalah pribadi, rumah tangga sampai masalah politik bernegara. Tidak ada daerah kosong yang luput dari aturan syariah.

Saya sering mencontohkan seperti ini, ibaratnya ada sebuah pabrik kendaraan, sebut saja namanya honda. Pabrik ini mengeluarkan produk kendaraan merek honda. Nah, selain mengeluarkan kendaraan, sang pabrik tak lupa juga mengeluarkan buku panduan tata cara pemakaian kendaraan honda tadi. Misalnya memakainya harus ditunggang, bukan malah digendong. Bahan bakarnya bensin bukan minyak goreng. Suku cadangnya pakai keluaran honda, bukan yang lain. Nah kalau kita ngoyo tidak mau ikut aturan tadi, tentunya alamat celaka. Rusaklah kendaraan tadi.

Begitu juga manusia. Manusia adalah produk ciptaan Allah. Allah, selain menciptakan manusia juga telah menyiapkan seperangkat aturan cara pakai barang bernama ’manusia’ tadi. Aturan tadi dikemas dalam bentuk syariat Islam. Nah, sudah sepatutnya lah yang punya pikiran sehat jelas pakai syariat islam. Mirip bunyi sebuah iklan Orang pinter pakai syariat Islam. Nah, kalau ngoyo tidak mau ikut aturan tadi, tentunya celakanya akan luar biasa. Bukan hanya di dunia, tapi akhirat juga.

Firman Allah secara beruntutan dalam AlMaidah 44, 46, dan 47:

…. Dan barang siapa yang tidak berhukum terhadap apa ang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang yang kafir” (QS AlMaidah 44)

…. Dan barang siapa yang tidak berhukum terhadap apa ang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang yang zalim” (QS AlMaidah 46)

…. Dan barang siapa yang tidak berhukum terhadap apa ang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS AlMaidah 47)

Dari penggalan-penggalan ayat di atas, ternyata pilihannya hanya ada tiga bagi orang yang menolak berhukum pada hukum Allah: kafir, zalim, atau fasik. Nah, kita masuk golongan yang mana yach?…

Hii… kecelakaanlah bagi orang yang menolak syariat Allah. Dan bisa jadi inilah pangkal segala musibah dan bencana yang menimpa kaum muslim saat ini. Kesombongannya yang luar biasa kepada Sang PenciptaNya. Padahal, kurang sayang apa Allah kepada produk ciptaanNya. Supaya produk tadi tidak cepat rusak, tidak aus, dan tetap bisa jalan maka diciptakanNya pula aturan yang paling cocok dan terbaik. Maka sesungguhnya kebangetanlah kita, yang telah nyata-nyata dianugerahi aturan hidup yang paripurna tadi namun malah dengan sombongnya menolaknya. Malah lebih merasa cocok dengan ’kunci-kunci’ palsu bikinan tukang-tukang kunci ilegal.

Tidak masuk akal….

Wong Edan!

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s