MUAKK….!

Di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang puteri nan cantik jelita. Dia tinggal di menara tinggi yang dijaga oleh naga yang menyemburkan api. Sang putri sudah bertahun-tahun tertidur. Konon tidurnya ini hanya bisa dibangunkan oleh kecupan cinta sejati dari seorang pangeran.

Berita keberadaan putri ini terdengar sampai ke negri tetangga, tempat tinggal seorang pangeran budiman dan rupawan. Dia kemudian bergegas pergi menaiki kuda terbangnya. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang nenek sihir tua yang sedang mengendarai sapu terbangnya. Sang Pangeran dan Nenek Sihir pun saling jatuh cinta. Dan mereka hidup berbahagia selama-lamanya….

Hehehe… tidak nyambung ya… terserah sang penulis dong! Mau ceritanya diakhiri dengan Pangeran akhirnya menikahi sang naga juga terserah maunya penulis. Kenapa? Protes?

Oke, sekedar intermezzo saja… soalnya sejak awal kita bercerita yang sedih-sedih melulu. Sedari tadi tidak ada yang hepi endingnya. Nah, sekarang mari kita simak cerita yang kedua…

Semenjak tragedi 911 atau 11 September yang meluluhlantakkan menara kembar WTC, dan gedung pertahanan AS di Pentagon, muncullah satu selebritis baru di dunia terorisme. Selebritis dadakan yang dipopulerkan oleh George W Bush, Usamah bin Laden yang diyakini otak di balik ragedi kemanusiaan terbesar itu. Tokoh yang sangat berbahaya, yang dengan alQaeda-nya bagaikan setan yang selalu menghantui sendi-sendi kemanusiaan yang selama ini dibangun oleh Amerika. Maka, demi melindungi umat manusia dari petaka yang lebih berbahaya, AS rela mengorbankan diri untuk terjun langsung memimpin perang global melawan terorisme. Tak ayal, dua negara poros setan dalam waktu berdekatan berhasil diselamatkan dari kejamnya terorisme. Dua negara yang beruntung itu adalah Afghanistan dan Irak. Namun tugas Amerika dan sekutunya tentunya belum bisa dianggap selesai. Usamah bin Laden sampai saat ini masih bercokol di dunia. Dia dan alQaeda masih terus menjadi ancaman laten bagi perdamaian dunia.

Sementara itu di Timur Tengah aksi ketegangan seperti tak pernah reda. Aksi bom bunuh diri yang masih sering dilancarkan oleh kaum militan Palestina mengusik kedamaian yang berusaha dibangun oleh Israel dan Otoritas Palestina. Wajar, bila Israel melakukan tindakan bertahan demi menyelamatkan dirinya.

Di Indonesia, tidak jauh beda. Jamaah Islamiyyah yang diyakini merupakan bagian AlQaeda terus menebarkan terornya. Pasca tragedi bom Bali I kemudian menyusul bom Bali II, serangkaian aksi terorisme terus saja terjadi dan menghantui kehidupan masyarakat sipil. Gembong-gembong Terorisme seperti Abu Bakar Ba’asyir, Umar AlFaruq, Amrozi, Ali Ghufran alias Mukhlas, Imam Samudra, Dr Azahari dan lainnya memang berhasil dibekuk- walaupun untuk nama yang pertama dilepaskan lagi oleh pemerintah. Namun ditengarai masih lebih banyak gembong yang berkeliaran. Kelompok bersenjata ini diperkirakan juga mempunyai kaitan yang erat dengan kelompok pemberontak muslim Abu Sayyaf di Filipina. Milisi bersenjata ini…..

Cut! Cut!

Sekarang mari kita perhatikan perbandingan antara cerita yang pertama dengan cerita kedua. Cerita pertama tadi jelas-jelas cerita ngibul. Dongeng belaka, yang digunakan untuk membodohi anak-anak. Tujuannya, biasanya untuk pengantar tidur, menenangkan anak-anak. Cerita pertama hanya dipercayai oleh anak-anak. Kuda terbang, naga menyemburkan api, nenek sihir, dan lain-lainnya… mana ada di kehidupan nyata. Sampai di sini orang dewasa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, betapa mudahnya anak kecil dibohongi. Namun untuk cerita yang pertama, tak urung juga mendapatkan protes, bahkan dari anak kecil sendiri. Kok tokoh baiknya malah kawin sama nenek sihir sih. Terus nasib sang putri jelita bagaimana?

Nah untuk cerita yang kedua sebenarnya rada-rada mirip. Cerita kedua juga adalah cerita ngibul. Namun kali ini bukan anak kecil yang dikibulin, melainkan orang-orang muslim. Pihak yang mengibulin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, betapa mudahnya orang-orang muslim itu dibohongi. Sayangnya, beda dengan cerita pertama yang banyak diprotes karena keanehan jalan ceritanya, dan penyelewengan cerita tokoh-tokohnya, namun untuk cerita yang kedua sangat sedikit terdengar protes. Padahal hampir sama. Pada cerita kedua juga terlihat jalan cerita yang aneh, dan terjadi penyelewengan dan penyimpangan terhadap tokoh-tokohnya.

Dan begitulah…. kita sekali lagi mesti mengurut dada melihat kenyataan bahwa selama ini, seperti cerita yang kedua, kita begitu mudah dikibuli oleh propaganda-propaganda yang dikoar-koarkan barat yang sejatinya adalah penghinaan besar-besaran kepada umat muslim. Dengan berbagai media yang dikuasainya, Barat membuat kesan seolah-olah pemberitaan-pemberitaan yang dialamatkan kepada muslimin itu adalah benar adanya. Dan secara tidak sadar kita telah dihina habis-habisan. Sebuah penghinaan yang sistematis!

Pembunuhan karakter. Begitu mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan media-media Barat saat ini. Seorang baik dan mulia akan menjadi buruk setelah diburuk-burukkan oleh media. Sebaliknya, si Raja Tega berubah bak malaikat, juga berkat jasa media. Sebutlah nama Usamah sekarang di hadapan orang banyak, maka kesan yang ada terhadap nama itu adalah identik dengan pimpinan kelompok teroris AlQaeda, biang keladi peledakan WTC. Padahal menilik sejarah, Usamah adalah nama seorang sahabat Rasulullah yang digelari kesayangan, putera dari kesayangan. Pasalnya, sahabat ini sangat disayangi oleh Rasul, dan merupakan putra dari Zaid bin Haritsah, anak angkat kesayangan Rasulullah. Begitu hebatnya pemuda ini, hingga di usia 18 tahun, sudah dipercaya oleh Rasul sebagai panglima memimpin sebuah angkatan bersenjata, padahal di dalamnya ada sahabat Abu Bakar dan Umar. Nah, dan sekarang, nasib nama Usamah telah terlampau jelek. Jangan beri nama anak Usamah, nanti salah-salah dituduh sebagai anggota AlQaeda!

Nasib yang sama juga menimpa tokoh-tokoh kebanggaan islam yang lain. Rupanya mereka belum puas hanya melakukan pembunuhan karakter terhadap Muhammad Rasulullah. Para Sahabat utamanya pun tak luput dari penghinaan. Nama Abu Bakar akan diidentikkan dengan Abu Bakar Ba’asyir, tokoh yang dituduh oleh media sebagai otak bom Bali dan sejumlah peristiwa terorisme. Padahal, kita tahu persis nama Abu Bakar adalah nama Khalifah pertama, sahabat terdekat Rasulullah. Nasib yang sama juga menimpa Khalifah yang kedua, Umar alFaruq. Sekarang orang mengenal Umar alFaruq sebagai salah satu gembong terorisme yang berhasil dibekuk oleh AS. Tak ketinggalan Khalifah keempat, Ali. Saat ini nama Ali lebih identik sebagai pentolan kasus bom Bali, Ali Ghufron. Dan masih banyak nama-nama lainnya. Sehingga wajar bila sekarang orang-orang muslim rada-rada malu menggunakan nama-nama islam. Mereka lebih pede memakai nama-nama seperti Alex, Jason, Alice, Michael… katanya sih lebih keren.

Dan ternyata, bukan hanya tokoh-tokoh islam yang dibunuh karakternya. Barat belum puas. Sehingga supaya merata dibuatlah skenario untuk menjelek-jelekkan seluruh umat islam. Dan akhirnya ditemukan cara yang tepat. Jamaah Islamiyyah! Liha saja bila disebut begitu, maka yang ada di benak orang sekarang adalah sebuah organisasi teroris yang terkait dengan alQaeda. Hahaha… berarti sekarang semua umat Islam telah disebut sebagai teroris. Padahal, Jamaah Islamiyyah adalah istilah padanan lain dari umat islam. Arinya, semua yang mengakui Allah Tuhannya, Muhammad Rasulnya sama dengan te-ro-ris Keren, keren… hebat dan sistematis sekali penghinaan yang mereka lakukan. Sekarang orang jadi takut mengaku sebagai jamaah islamiyyah. Bisa ditangkap!

Dan jikalau kita perhatikan dengan seksama, pelecehan tersebut terlampau sistematis, dan bertubi-tubi. Mereka dengan beraninya mengidentikkan islam dengan terorisme. Kemudian membagi islam menjadi dua bagian- dimana sebelumnya tidak pernah dikenal sama sekali dalam khazanah keislaman- yaitu islam moderat, yang sesuai dengan keinginan Barat, dan islam ekstrim atau islam garis keras, yang tidak sejalan dengan keinginan Barat. Kelompok yang memperjuangkan islam disebut dengan kelompok pemberontak, islam fundamentalis, atau teroris. Sedangkan kelompok yang bersedia bersimpuh terhadap keinginan Barat disebut islam toleran.

Dan tak urung, simbol islam pun tak luput mereka perolokkan. Kita menyaksikan sendiri di media, misalnya pengidentikan orang Arab yang notabene identik dengan islam sebagai sekumpulan orang barbar yang kolot, bodoh, dan suka kekerasan. Sementara bahasa Arab, bahasa resmi umat Islam dijadikan bahan lawakan yang seru. Para ulamanya ditiru dan diparodikan untuk dijadikan model lawakan, yang selalu riuh dijadikan bahan tertawaan. Hilang sudah kharismatik dan pengormatan terhadap posisi ulama…

Kemudian bila ada orang yang memanjangkan janggutnya dengan harapan bisa menyuburkan sunnah malah diteriaki kambing atau teroris. Ketika ada sebagian umat muslim yang memakai gamis putih panjang, maka masyarakat memicingkan mata kalau tidak meledek: ada unta kesasar!. Para akhwat yang berjilbab panjang -karena percaya begitulah jilbab yang sesuai syariat- pun juga mesti lebih bersabar dengan berbagai olokan. Pernah di suatu forum, seorang akhwat mengeluhkan kejadian dimana sekumpulan pemuda mengejek mereka saat pulang dari pasar sembari membawa kantong plastik, dengan meneriaki ’ada teroris membawa bom!’

Astaghfirullah…

Dunia memang sudah terbalik. Sedangkan orang yang biang kerok teroris, yang dengan angkaramurkanya membunuhi lebih dari enam ratus ribu penduduk di Irak, ratusan ribu lainnya di Afghanistan malah dielu-elukan bak pahlawan (kalian paham kan siapa yang saya maksud sebagai biang keroknya teroris?). Dan media betul-betul tidak adil, ketika segolongan rakyat Palestina membela diri dengan berjihad melawan agresor Israel, dunia mengecamnya habis-habisan sebagai aksi brutal. Sedangkan saat si penjajah Israel membunuhi puluhan penduduk sipil tak bersalah, maka media hanya berucap ”wajar, dia kan cuma membela diri….”

Lihatlah… Kebenaran dilecehkan, Ajaran Allah dipreteli, dan umatnya terhinakan. Sementara musuh-musuh Allah menjelma menjadi layaknya superhero dan ajaran Syaitannya dijadikan keagungan. Kalau begitu caranya saya katakan ”Dunia sudah betul-betul gila!”

Dan saya sudah betul-betul muak…..

3 Komentar

  1. either do i..

    eneg.
    malezzzz.
    bete.
    keseull.
    gerah!
    bla..bla..

    kapan yah islam teh bs tegak? qta hdp dbwh syariatnya..
    semuanya tdk akan terwujud jika qta tdk bergeraK! klo qta cm enak2an, tenggelam sm masalah pribadi. gakan mgkn, klo qta msh cinta dunia.. hehehe smangadddd 😀

    • ga akan lama….. asalkan kita luruskan arah perjuangan, kuatkan tekad, permantap nafsiyyah dan fikriyyah. insya Allah nasrullah segera datang

      • ada hal yang lebih penting selain pemantapan nafsiyah dan fikriyyah, yaitu tashfiyah dan tarbiyah, sebagaimana yang telah di praktekan Nabi dalam dakwah beliau yang berujung pada kesuksesan besar!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s