Nasib Qur’an Suci di dalam Toilet


Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan. (QS al-Furqan [25]: 30)

Kita telah mengelus dada kuat seraya menahan geram dan tangis saat mendengar nasib kaum muslimin yang dibantai. Tak surut pilu kita, lalu Rasulullah pun dihinakan begitu rupa. Simbol-simbol islam pun diobrak-abrik semaunya

Dan belum sempat kita menyapu air mata, kita temui nasib yang tak kalah tragisnya, ternyata juga menimpa sang Qur’an suci kita. Tidak cukup rupanya penghinaan ditujukan kepada sosok mulia yang dari lisan sucinya mengalir kalimat-kalimat suci, bukan syair dan bukan sihir, bukan pula kata-kata karangannya pribadi, melainkan semata firman Allah Rabbul’ Izzati…

Penghinaan yang tidak kurang biadabnya itu juga ternyata dialamatkan kepada firman suci tadi! Sejarah telah mencatat sebuah penghinaan besar kepada sebuah agama. Apabila kita menganggap sebuah kitab suci adalah representasi dari sebuah agama. Maka logikanya penghinaan kepada kitab suci adalah penghinaan terhadap agama tersebut. Dan ketika penghinaan dilakukan dengan kesengajaan dan keangkuhan, maka sesungguhnya sang pelaku dan orang-orang di belakangnya sedang menabuh genderang perang!

Dan cukuplah berita yang didokumentasikan oleh sejumlah media massa ternama seperti Newsweek, Los Angeles Times, dan The Times menjadi saksi penabuhan genderang perang itu…

Ketika para inspektur AS di penjara Guantanamo, Kuba menginterogasi para tahanan muslim. Kemudian tentara AS meletakkan kitab suci AlQuran di toilet, dan bahkan dengan kesengajaan menjatuhkannya ke dalam kloset!

Kemudian, bahkan, disebutkan pula tentang adanya peristiwa dimana tentara AS membawa anjing yang sedang menggigit alQur’an. Kemudian ada yang menyaksikan alQur’an ditendang, dilempar-lemparkan, dibanting ke tembok, bahkan dirobek..!

Petaka macam apa ini?!!

Di daerah tempat tinggal saya, masyarakat percaya bahwa akan terjadi musibah apabila ada seseorang menjatuhkan mushaf AlQur’an ke lantai walaupun tidak disengaja. Oleh karena itu untuk menghindari musibah yang diakibatkan oleh peristiwa itu biasanya akan dilakukan semacam selamatan.

Kayaknya rada berlebihan ya, karena memang tidak pernah disyariatkan untuk melakukan hal yang semacam itu. Namun paling tidak ini menunjukkan bahwa AlQur’an begitu dihormati dan diagungkan. Tentunya tidak hanya pada masyarakat tempat tinggal saya, bahkan seluruh kaum muslimin begitu menghormati, mencintai dan mengagungkan AlQur’an ini. AlQur’an biasanya diletakkan di tempat yang tinggi, merupakan hal yang tabu apabila meletakkan alQur’an lebih rendah daripada pangkal paha. Mushaf AlQur’an biasanya dicium dan diletakkan di atas kepala sebelum dan sesudah membacanya. Bahkan, sebagian mazhab seperti mazhab syafi’i mengharamkan seseorang menyentuhnya kecuali setelah berwudhu, sedangkan mazhab lainnya menyebutkan berwudhu sebelum menyentuh AlQur’an sebagai sebuah sunnah yang utama.

Lalu sekarang, apa yang mereka lakukan kepada kitab mulia itu? Jangankan bersuci sebelum menyentuhnya, mereka malah menjatuhkannya! Bukan dengan ketidaksengajaan yang membuat si pelaku khawatir akan mendapat musibah. Namun dengan kesengajaan dan kesombongan begitu rupa. Dan tempat jatuhnya bukan lagi di lantai, melainkan di toilet, dalam kloset, yang sejatinya adalah wadah kotoran bau dan najis! Tidak cukup itu, mereka seret anjing, yang najis mughaladzah, najis besar yang apabila tersentuh wajib mencuci dengan pasir tujuh kali, dan kini si anjing menggigit-gigit AlQur’an suci! Kemudian sebagai bukti keangkarajahiliyyahan, mereka tendang mushaf tadi, mereka lempar, mereka banting!!!!

Manusia macam apa mereka itu? Padahal manusia paling adikara jahiliyahnya, Umar bin Khattab yang dalam sirah diceritakan tega mengubur anak kandung sendiri hidup-hidup, tersungkur jatuh menangis di hadapan mushaf alQur’an. Kesombongan macam apa? Sedangkan dua manusia paling angkuh, Abu Jahal dan Abu Sofyan, gembong jahiliyyah yang selalu berusaha menghancurkan islam, ternyata di malam-malamnya mengendap-endap di dinding-dinding rumah Rasulullah hanya untuk bisa mendengar kalimat suci AlQur’an diperdengarkan. Lalu sejahiliyyah apakah mereka kalau begitu?!

Sementara kembali, dengan ketidakberdayaannya, kaum muslimin hanya bisa turun ke jalan, mengutuk, memboikot…. Sementara para penguasa negri-negri muslimin hanya menyesalkan. Kalaupun mengutuk, mengutuk seadanya….

Mana pembelaan terhadap firman Allah?

Dan waktupun berlalu…. unjuk rasa berakhir, umat muslim kembali ke rumah-rumahnya …. kutukan mereda…. boikot diakhiri…

Dan kita sekali lagi hanya bisa melongo, padahal masalah itu belum berakhir. Tidak pernah ada permintaan maaf yang sebenarnya dari pembesar-pembesar mereka. Para pelakunya pun tidak jelas apakah dihukum atau tidak.

Sebegitu lemahnyakah kita, hingga begitu mudah harga diri umat muslimin ini diinjak-injak?

”Sebenarnya wajar bila orang kafir dengan mudah melecehkan dan menghina AlQur’an… karena sebenarnya jauh sebelum itu, kita telah mencontohkan dengan terlebih dahulu dengan menginjak-injak alQur’an, dan menghinanya..” Ucap salah seorang ustadz suatu ketika

Hey! Berani banget si ustadz itu bicara lancang seperti itu! hati saya panas berontak. Ini keterlaluan! Belum padam amarah saya melihat berita pelecehan di Guantanamo itu, sekarang ada seorang yang mengaku ustadz berucap bahwa kita, umat muslimin juga turut menginjak-injak alQur’an.

”Lho, bukannya begitu? Atau malah kita tidak sadar bahwa kita saat ini tengah menginjak-injak alQur’an?” lanjut sang ustadz seakan bisa menebak jalan pikiran saya.

Apakah tidak menginjak-injak alQur’an namanya ketika sebagian besar isi AlQur’an tidak kita imani, kita lecehkan, dan malah kita buang ke tempat sampah atau toilet? Boleh jadi kita begitu mengagung-agungkan AlQur’an, kita taburi minyak wangi, atau kita baca dengan suara yang merdu bahkan sampai diperlombakan. Namun di saat yang lain, saat kita membaca, misalnya ’wa ahallallahul bay’a wa harramar riba’ Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Ternyata pada prakteknya ayat tadi kita injak-injak, riba ternyata malah menjadi mercu suar perekonomian negri ini. Atau ketika Qur’an bilang ’walaa taqrabuz zina…” janganlah kamu mendekati zina… eh, kita malah menendang ayat tadi kemudian membuka seluas-luasnya komplek pelacuran, mendukung terbitnya media-media porno…”

Atau yang lebih parah lagi ketika AlQur’an menegaskan ’Apakah hukum Jahiliyyah yang kamu inginkan, hukum manakah yang terbaik selain hukum Allah” kita cuma menertawakan ayat tadi dan membantingnya, lalu dengan bangganya kita mengambil hukum-hukum produk manusia, produk orang kafir, sementara hukum Allah yang dalam AlQur’an tadi kita buang ke dalam kloset….”

mulut saya terkunci…..

sekali lagi kata-kata itu menggema digendang telinga.

Kita sendiri telah menghina AlQur’an

Kita sendiri telah menginjak-injak alQur’an

Mahabenar perkataan Rasul yang diabadikan lewat firman Allah: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan (QS al-Furqan [25]: 30)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s