RUANG RINDU


Di daun yang ikut

Mengalir lembut

Terbawa sungai ke ujung mata

Dan aku mulai takut

Terbawa cinta

Menghirup rindu yang sesakkan dada

Mas-mas Letto memang keren bikin lagunya. Membawa kita menelusuri rangkaian memori-memori yang pernah ‘mengalir lembut’ mewarnai langkah-langkah kita.

Ngomong-ngomong soal ruang rindu, kalian percaya tentang keberadaan ruang rindu? Iya, ruang rindu… dimana konon walaupun si perindu tak bertemu langsung, namun di suatu tempat yang bernama ruang rindu, mereka bisa bertemu bermesraan saling melepas rindu. Sehingga kepedihan yang lama terpendam bisa terobati begitu rupa. Ruang rindu ada tidak yach…. karena kalau memang ada, saya ingin segera bertamasya ke sana sekarang juga. Karena kepedihan saya saat ini begitu membuncah! Kerinduan saya sudah tak terperikan!!

Pagi tadi saya lihat di Televisi tentang penggusuran ribuan rumah warga yang berada di sapanjang jalan tol. Pemerintah DKI Jakarta tak menggubris kepedihan mereka dan tetep keukeuh bakal menggusur ‘perumahan mewah’ milik warga miskin itu. (anda paham kan maksud saya bikin miring itu tulisan? Rumah yang dimaksud sebenarnya hanyalah gubuk reot dan tumpukan kardus!) Huh, alih-alih memberikan rumah yang layak, eh ini sudah miskin dipelorotin lagi. Lalu kemana lagi mereka harus pergi… bila senantiasa diusir!

Saya geregetan. Mana katanya Pemerintah yang berupaya mensejahterakan rakyatnya?! Mana?

Maka di saat kepedihan hati yang begitu bergelora ini, mendadak saya ingin lekas menuju ruang rindu…

Di ruang rindu saya ingin ketemu sama Bang Umar bin Khattab!

Saya akan mengadu pada beliau, sebagaimana dulu seorang Yahudi tua pernah menghadap pada beliau. ”Woi, bang Umar! Lihat tuh atas nama keindahan kota, ribuan rumah warga miskin di DKI Jakarta mau digusur paksa!”

Wajah bang Umar pun mengerut dan memerah. Giginya menggeretak. Diambilnya sebuah tulang dan digoresnya keras dengan sebilah pedangnya.

”Ini, serahkan pada Gubernur DKI Jakarta, berlaku luruslah. Ingatlah kamu akan menjadi tulang belulang. Kalau tidak berlaku lurus, maka aku yang akan meluruskanmu dengan pedangku!” tegas Bang Umar.

Ahhh… Bang Umar! Satu tulang mana cukup. Masalahnya yang perlu dikirimi tulang ini ada ribuan oknum. Rakyat yang digusur ribuan. Dan bukan sekali saja… kejadian ini sudah jadi hal yang biasa….” protes saya.

”Apaa!!!” Bang Umar terhenyak tak percaya.

Pagi tadi pula saya lihat berita di layar tivi tentang penyiksaan kembali TKW di Malaysia, Pemerintah hanya diam melihat warga-warga muslimnya dianiaya, bahkan ada yang sampai mati terbunuh.

Aargghhh…. apa pula ini! Bukankah kata Allah nyawa seorang muslim begitu berarti. Bahkan lebih berarti daripada isi bumi.

Saya terperangah. Kembali saya berlari ke ruang rindu. Saya seting pertemuan dengan Khalifah Mu’tashim billah.

Khalifah… khalifah…. di sana khalifah… kembali muslim dianiaya!” teriak saya sambil berlari ke arah beliau.

Beliau terkejut. Beliau yang dulunya, karena mendengar seorang muslimah dilucuti kehormatannya oleh tentara romawi dan langsung mengerahkan pasukan untuk menyerbu Romawi yang panjangnya nauzubillah…. ketika ujung depan pasukan sampai ke tempat perang, ujung belakang masih ada di dalam kota.

”Oke! Panggil para panglima! Kita segera mobilisasi pasukan. Kali ini mesti lebih banyak…. eh tapi dimana tempatnya… dan siapa pelakunya? Romawi lagi? Atau Persia?” tanya Khalifah Mu’tashim

Mmm…. bukan Khalifah…. di Malaysia.… negri yang penduduknya juga muslim. Pemerintahnya juga muslim….” sahut saya sambil menggaruk-garuk kepala.

Brak! Khalifah Mu’tashim terduduk mendadak tak percaya.

Saya kemudian baca koran hari ini. Harga-harga naik lagi. Para pengungsi korban Lapindo terancam kelaparan, sementara di beberapa desa terpaksa memakan nasi aking.

Gubrak! Aduh, karena tergesa berlari, saya sampai kesandung. Saya sudah tak tahan. Saya mau segera ke ruang rindu. Saya ingin ketemu dengan Khalifah Umar bin Abdul Azis!

Beberapa saat kemudian, di ruang rindu…

Khalifah Umar bin Abdul Azis menyambut sayadengan ramah di rumahnya yang teramat sederhana.

Sebentar… ini masalah umat atau masalah pribadi…. soalnya kalau masalah pribadi kita tidak akan memakai lampu yang didanai dari uang umat ini” Tahan beliau sebelum saya memulai pembicaraan.

Masalah umat, mas khalifah! Ini lho…….” saya langsung menunjukkan Koran yang tadi saya baca.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menangis deras. Beliau terpana, di pemerintahan, beliau pernah memacahkan rekor dimana tak seorangpun ditemukan warga miskin yang hidup di daerah kekhilafahan. Sekarang…..

”Panggil Yahya, petugas amil zakatku…. suruh dia menguras baitul maal. Dan segera selesaikan masalah kemiskinan ini. Aku tak akan pernah bisa tidur nyenyak sebelum masalah ini terselesaikan.” titah beliau masih dalam keadaan terisak.

Saya tercenung.

Palestina kembali membara. Daerah-daerah umat kembali dicaplok oleh zionis Israel la’natullah. Palestina ini….. ini tanah umat. Tak berhak diinjak oleh Yahudi keparat itu. Saya setting Ruang Rindu, kali ini tujuan saya Sultan Abdul Hamid II, sultan yang termasuk deretan khalifah terakhir di masa Kekhilafahan Turki.

Sultan….Saya…” saya terdiam sejenak. Muka beliau tampak merah padam. Entah apa yang beliau hadapi. Saya tunggu sampai kemarahan beliau mereda.

Oh, maaf…” kata Sultan setelah menyadari kehadiran saya. ”barusan tadi ada seorang Yahudi bernama Theodore Hertzl memohon kepadaku untuk memberikan tanah Palestina untuk pemukiman Yahudi” Lanjutnya.

”Lalu apa jawab Sultan?”

Demi Allah! selama aku masih hidup, aku tak akan membiarkan sejengkal pun tanah Palestina di tangan mereka. Tanah itu bukan milikku… tanah itu milik umat!” jawab beliau.

Sultan, sayang sekali….” sahut saya. ”Sepeninggal sultan, dan setelah kekhilafahan runtuh, Kaum Yahudi telah merampas dengan paksa tanah suci itu. Darah kaum muslim membanjir di sana. Sementara Pemerintah negri-negri muslim tak bergeming, dan….” kata-kata saya terhenti. Saya lihat muka Sultan kembali merah padam. Hii.. mending saya kabur… saya set ruang rindu segera ke tempat lain…

Hei, anak muda. Jangan menghalangi jalan kami!” teriak seseorang mengejutkan saya.

Saya buru-buru minggir. Sosok tegap berwibawa di atas kuda itu…. tak salah lagi. Pasti ini Panglima Salahuddin!

Panglima Salahuddin kan….?” tanya saya.

Maaf, anak muda. Tapi aku dan pasukanku mau bergegas menuju Baitul Maqdis untuk membebaskan tanah itu dari kaum salibis yang merenggutnya. Tak akan kubiarkan mereka mengotori tanah suci itu. Allahu Akbar!” serunya yang disahut dengan takbir serupa oleh segenap pasukannya.

Oii… Panglima…. tunggu dong….. saya ingin bicara sebentar…!” Tapi terlambat, pasukan itu telah melaju dengan cepat. Huuhh

Kembali ke habitat.

Palestina masih terjajah.

Negri muslim yang lainnya terobarak-abrik terpecah-pecah.

Penguasa-penguasa bermuka manis dengan rakyat sementara tangannya menindas dengan zalim.

Rakyat terbebani hutang. Kemiskinan merajalela. Harta rakyat dikuras habis.

Aqidah tercerabut, syariat dipinggirkan. Hukum kufur merajalela.

Akhhh… saya tak betah hidup di sini! Saya ingin di ruang rindu saja! Saat kedamaian di bawah naungan islam menaungi semesta. Saat islam meraja, saat bumi menjadi hamparan sajadah, saat ukhuwah terpelihara, saat taqwa mengakar melangit. Saya ingin di sana saja!

Jalanku hampa

Dan kusentuh dia

Terasa hangat oh di dalam hati

Mata terpejam dan hati menggumam

Di ruang rindu kita bertemu.

2 Komentar

  1. kerend juga…..hehehe…

  2. Ruang rindu itu kini dipenuhi dengan seruak kegalauan,ruang rindu itu kini penuh sesak dengan gelisah,ruang rindu dan perindunya harus ditemukan utk mewujud dan merangkai galau dan gundah para perindu


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s