Tidak Berdakwah = Kriminal

Judul yang provokatif…. Kesannya mungkin seperti itu ya.. tapi izinkan saya, sebelum tuduhan itu terlanjur dinisbatkan, terlebih dahulu menghaturkan sebuah sirah yang berasal dari ratusan tahun silam… di sebuah masa dimana keemasan syariah islam sedang digdaya…. Masa pemerintahan seorang khalifah yang disebut-sebut sebagai khalifah rasyidah ke lima….. Khalifah Umar bin Abdul Azis.

Diriwayatkan suatu ketika, syurthah (jabatan polisi Negara khilafah) pemerintahan Umar bin Abdul Azis pernah datang pada sekelompok orang yang sedang meminum khamr. Tujuan kedatangan polisi tadi adalah untuk menangkap dan menghukum gerombolan pelaku tindak kriminal tersebut. Berdasarkan laporan kemudian ditemukan bahwa di samping keberadaan gerombolan peminum tadi juga ditemukan seorang muslim yang duduk bersama mereka, tetapi dia tidak ikut-ikutan, bahkan sedang melaksanakan ibadah puasa.

Nah, uniknya di sini bahwa Khalifah memerintahkan untuk menghukum mereka semua yang ada di sana, tanpa terkecuali, dengan hukuman cambuk.

Sang Polisi pun berkata, “Wahai Amirul Mukminin, si fulan ini tidak ikut minum bersama mereka; dia sedang berpuasa”

Tanpa menghiraukan alasan yang dikemukakan polisi tadi, Umar malah semakin tegas mengatakan, “Hadirkan dia dan cambuklah!” (AlQaradhawi, alHalal wa alHaram hal 73)

Bagaimana pendapat kalian tentang tindakan Umar bin Abdul Aziz barusan? “Padahal kan dia nggak salah… malahan sedang beribadah puasa…” sesal salah seorang di antara kita mungkin, mirip-mirip dengan pernyataan polisi di atas. Dzalimkah Umar? Bahkan ini adalah sebuah bentuk keadilan darinya. Bagi Khalifah Umar bin Abdul Aziz berdiam diri terhadap kemungkaran adalah kemungkaran itu sendiri. Dan pelakunya berhak mendapatkan sanksi karena perbuatannya itu. Karena diamnya seseorang terhadap kriminalitas adalah kriminalitas itu sendiri!

Allah Swt. berfirman:

Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan makanan yang haram? Sungguh, amat buruk apa yang telah mereka kerjakan. (QS al-Maidah [5]: 63).

Imam al-Qurtubi berkata dalam tafsirnya, ketika mengomentari ayat di atas yang mencela orang alim dan pendeta yahudi yang tidak menegakkan dakwah amar makruf nahi, “Ayat ini menunjuk pada orang yang berdiam diri dan tidak mau mencegah kemungkaran, bahwa mereka pada dasarnya sama dengan orang yang berbuat kemungkaran itu sendiri.” (Al-Qurthubi, op.cit., 6/237).

Hmm… bahkan apabila kita menyitir dari hadits Rasulullah yang berbunyi:

Siapa saja diantara kamu melihat kemunkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya. Jika tidak sanggup, maka ubahlah dengan lidahnya. Kalau juga tidak sanggup maka dengan hatinya. Ini adalah selemah-lemah iman” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dari Abi Said al-Khudry)

dalam hadits di atas ada pernyataan tersirat yang menarik. Kita simak dalam kalimat terakhir: … maka ubahlah dengan lidahnya. Kalau juga tidak sanggup maka dengan hatinya. Ini adalah selemah-lemah iman. Posisi mengubah kemungkaran dengan hati di sini diletakkan dalam alternatif terakhir. Posisinya diberi gelar: iman paling lemah. Nah, ini artinya apabila ada seseorang yang nyantai-nyantai saja ketika menyaksikan suatu kemaksiatan, maka dari siratan hadits di atas berarti diragukan bahwa dalam dirinya ada keimanan, konsekuensi bahwa menolak dengan hati saja sudah termasuk kategori iman paling bawah. Hii… Na’udzu billah!

Dan ini saya pikir adalah suatu kewajaran, mengingat dalam sistem islam tidak dikenal istilah egosentris, hatta dalam hal ibadah. Surga bukan monopoli…. tak perlu takut nanti lahan surga bakal sempit karena berjejal… tidak, surga masih terlampau luas. Dan mengutip salah satu motto iklan produk rokok lawas, ”ke surga itu asyiknya rame-rame”. Dan neraka sebaliknya… biarlah lahan neraka menjadi kosong dan sepi. Inilah hakikatnya semangat persaudaraan muslim. Bersama-sama menuju surga. Amal Sholeh yang engkau lakukan menjadi amal sholehku juga berkat dakwah…. sementara dosamu bisa jadi dosaku karena aku melalaikan dakwah.

Inilah umat yang satu. Umat yang organ-organ di dalam tubuhnya saling tidak merelakan apabila ada salah satu organnya terluka dan celaka, apatah lagi terbakar nyala api neraka. Tangan kiri akan mencegah semampunya tangan kanan yang sedang mengarah ke api. Mulut berteriak sekerasnya mencegah kaki yang sedang berjalan menuju arah neraka. Karena satu organ terkena, deritanya hakikatnya milik seluruh tubuh.

Imam al-Ghazali pernah berkata, “Sesungguhnya aktivitas amar makruf nahi mungkar adalah poros yang paling agung dalam agama. Karena aktivitas inilah Allah mengutus para nabi seluruhnya. Seandainya umat Islam mengekerdilkan amar makruf nahi mungkar, tidak mau memahami dan mengamalkannya, tentu akan berhenti nubuwwah ini; kesesatan akan tersebar luas, kebodohan akan menjadi hal yang lumrah, kerusakan akan merajalela, pelanggaran akan semakin meluas, negeri-negeri akan hancur, dan manusia akan binasa.” (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, 2/306).

Bila begitu, inilah sebuah masyarakat yang ideal. Dimana demi keselamatan bersama, maka satu sama lain saling mengingatkan, saling nasehat menesahati, saling menyuruh kepada yang makruf, saling mencegah dari yang munkar. Persis seperti sebuah perumpamaan yang pernah diceritakan oleh Rasulullah berikut ini:

“Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan melanggarnya adalah seperti kaum yang diundi dalam sebuah kapal. Sebagian mendapat bagian atas dan sebagian yang lain berada di bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang berada diatasnya. Maka berkatalah orang-orang yang berada di bawah: ‘Andai saja kami melubangi (dinding kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), niscaya binasalah seluruhnya. Dan jika mereka dicegah melakukan hal itu, maka ia akan selamat dan selamatlah semuanya.” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi).

Toh, itu urusan mereka sendiri…. seandainya begitu pemikiran orang-orang yang ada di dek atas… maka lambat laun binasalah semuanya. Karena mereka berada dalam kapal yang sama, yang satu orang melubangi maka seluruh kapal akan tenggelam tak peduli mereka adalah yang berada di dek atas yang mungkin bahkan sama sekali tidak mengetahui pembocoran yang dilakukan oknum di dek bawah. Satu makan nangka, semua kena getahnya. Satu berlaku dosa, semua kena adzabNya

“Dan waspadalah kamu semua dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zholim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksan-Nya” (QS. Al Anfaal : 25).

Dari Ady bin ‘Umairah berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengadzab seluruh masyarakat disebabkan perbuatan sekelompok orang tertentu sehingga masyarakat melihat kemunkaran di hadapan mereka sedang mereka mampu untuk mengingkarinya (tetapi tidak dilakukan), maka jika mereka berbuat seperti itu, (pasti) Allah mengadzab segelintir orang tersebut dan seluruh masyarakat” (HR. Ahmad).

Tidaklah suatu kaum yang orang-orang taatnya lebih banyak daripada pelaku maksiatnya, tetapi mereka membiarkannya, melainkan Allah akan mengadzabnya secara merata (HR Ahmad dan Baihaqi).

Oke, kalau ancaman adzab mungkin ada yang berpikir, kita berdo’a mohon pertolongan saja kepada Allah supaya tidak jadi mengirimkan adzab tersebut…. ya ya ya… cukup jenius! masalahnya…

Dari Hudzaifah bin Yaman, bersabda Nabi SAW: “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, hendaklah kamu semua benar-benar memerintahkan perkara ma’ruf dan mencegah kemunkaran, (atau) Allah akan mendatangkan siksaan bagi kamu sekalian, maka kamu berdo’a kepada Allah dan tidak akan dijawab” (HR. Ahmad, Tirmidzi).
Yah, benar-benar apes….. adzab yang merata…. do’a tidak diijabah. Semata karena lalai dakwah.

Karena itu sebelum kapal tenggelam segera ingatkan oknum di dek bawah untuk mengurungkan niatnya melubangi kapal!

Tidak layak seseorang, ketika menyaksikan suatu tempat di dalamnya ada kebenaran, kecuali dia akan mengatakannya. Sesungguhnya sekali-kali hal itu tidak akan pernah memajukan ajalnya dan tidak akan pernah mencegah apa yang telah menjadi rezeki baginya. (HR al-Baihaqi).

8 Komentar

  1. ooooooooooo yyyeeeeeeeaaaaaahhhhhhhh????????

    • iyyaaaahhhhh ….. yahuuuuuu……

  2. artinya bukan pendakwah = penjahat dunk…

  3. kayaknya dicambuk bukan karena nggak ngingetin deh, tapi karena duduk bersama-sama dengan orang yang meminum khamr jatohnya jadi sama dengan orang yang meminumnya.
    CMIIW.

  4. Kalau orang yang diseklilingnya Korupsi apa orang yang tidak korupsi juga perlu dipotong tangannya?

    • Nggak lah….

  5. […] Dan harapan itu pun saya genggam erat sekarang…meskipun tertatih-tatih… Agar kelak tak menyesal…meskipun setiap orang di hari kiamat akan menyesali perbuatannya. Yang berbuat baik menyesali kenapa tidak banyak berbuat banyak..yang amal buruknya lebih berat akan menyesal selamanya….(naudzubillah )sebuah pagi dengan harapan baru…rindu pada teman2 lama..rindu ukhuwah yang sejati HIDUP SEKALI, MATI SEKALI, PERSEMBAHKAN YANG TERBAIK BUAT ILAHIbaca juga https://doktermudaliar.wordpress.com/2009/01/30/tidak-berdakwah-kriminal/ […]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s