WASPADALAH! WASPADALAH!

“Kejahatan tidak hanya muncul karena niat dari pelakunya. Namun juga karena adanya kesempatan…..”

… dengan tampang sangar bertopeng, suara berbass cempreng, badan bongsor bertato dari balik jeruji. Teriak-teriak sembari telunjuk mengarah ke layar kaca…

”….Waspadalah! Waspadalah!”

Anak kecil saja sudah tahu, pria beringas itu si bang napi, yang rutin tiap hari mengingatkan pemirsanya tentang bahaya kejahatan yang selalu mengintai di segenap penjuru…

Deg, biar saya ulangi kalimat yang terakhir….. bahaya kejahatan selalu mengintai di segenap penjuru….

Beberapa saat sebelum menulis ini, salah seorang teman berkunjung dengan wajah murung, “Aku kemalingan! Hape aku digondol maling malam tadi. Trus dompet juga tak ketinggalan diembatnya” keluhnya sendu.

Padahal hape itu hasil tabungan bertahun-tahun. Belum lagi dompet yang isinya dua ratus ribu lebih, sebagiannya malah bukan milikku, itu duit sumbangan buat acara seminar keislaman. Dasar maling tak tahu diri” umpatnya.

Eh, ceritanya kurang seru ya? Apa sisi menariknya? Itu mah hal biasa atuh ya..

Iya saya bilang, itu adalah hal yang kini menjadi teramat biasa. Bahkan tak layak muat di surat kabar, apalagi di program Sergap dan Buser. “Seorang Remaja Kehilangan hape dan dompet sekaligus” haha.. bikin ketawa dan bikin rugi sang empunya media. –Beda kasusnya kalau yang kemalingan itu seleb seperti Nicolas Saputra atau Marshanda…. yang itu baru bisa dibikin headline news”

Sedangkan kasus teman saya tadi terlampau tidak berharga bila dibandingkan berita-berita seperti “Kawanan perampok mencincang-cincang serta membakar hidup-hidup mayat seorang nenek setelah merampas seluruh hartanya”, atau “Seorang kakek berumur 80 tahun nekad menghamili cucunya yang baru berusia belasan tahun”. Kalah jauh!

Bahkan, dia akan tidak pede untuk melaporkannya ke pihak yang berwajib. Yah, polisi terlalu banyak tugas. Masalah ini terlalu sepele,dan kalaupun diterima paling-paling diletakkan di tumpukan map paling bawah. Padahal banyak masalah besar masih belum terselesaikan. Ini, cuma hape dan dompet saja, lapor….

Dan berjalanlah ia dengan gontai….

Bukan masalah jumlah harta yang amblas…

Saya yakin teman saya itu paham betul bahwa harta itu semata-mata titipan. Ibarat tukang parkir, kita mesti ikhlas seikhlas-ikhlasnya ketika mobil yang tadinya dititipkan diambil kembali oleh sang pemilik. Seikhlas sang pemilik di awal ketika menitipkan mobilnya pada kita.

Bukan masalah itu, namun karena sebuah kejengkelan yang menjadi-jadi. Karena di bumi tempatnya menginjakkan kaki sudah tidak ada jaminan rasa aman lagi.

Di negeri ini tidak ditemui lagi zona aman!

Saya juga jadi berpikir, kalau begitu bila suatu saat saya kehilangan sesuatu, misalnya lembaran uang lima puluh ribu, atau sebuah buku catatan, atau sepasang sandal jepit (maafkan saya, saya tidak bisa mencontohkan yang mewah-mewah, karena kenyataannya memang begitu-begitu saja yang saya punya), maka siapa yang peduli?

Sudahlah, relakan saja… cuma sandal jepit butut kok dipermasalahkan. Beli saja yang baru…” Hibur teman saya, ketika pada suatu siang sehabis zuhur untuk kesekian kalinya saya mesti kehilangan sandal jepit di pelataran mesjid yang sama.

Sandal jepit dia bilang ’cuma’? Hati saya meradang. Ini sebuah penyepelean yang luar biasa. Bagaimanapun remehnya harga sandal jepit, bagi saya benda ini sangat bernilai. Dialah yang berjasa mengantar saya kemana-mana berkeliling, bagaikan seorang induk yang melindungi anaknya, dia lindungi saya dari ancaman kerikil-kerikil atau tahi kucing yang bergentayangan di sepanjang jalanan. Dan saat ini sang induk telah diculik dengan paksa….!

”Terus kamu mau ngapain, lapor polisi?” ledek teman saya sambil ketawa.

”Bahkan saya akan menyewa pengacara dan tim penyidik khusus!” jawab saya kesal.

Huh, kejahatan tak pilih kasih, bahkan di rumah Allah sekalipun!

Dan saya tampaknya mesti banyak-banyak mengelus dada. Karena memang, sepertinya benar nasehat teman saya tadi. Ikhlaskanlah diri ketika engkau dijahati orang, toh kejahatan adalah suatu hal yang biasa di sini. Penjahat, maling, copet adalah profesi. Di negeri ini kejahatan sudah menjadi panglima!

Tabloid kriminalitas dan koran-koran pun kini tak sanggup lagi memuat berita kejahatan yang demikian membludak. Tayangan sergap, buser, patroli dan lainnya menjadi tontonan rutin saban hari yang tak pernah ada habisnya. Hari ini ayah membunuh anak, besoknya sang anak yang membunuh ayah. Kemarin si pembunuh membakar hidup-hidup korbannya, hari ini pembunuh tega mencincang-cincang sang korban.

Kriminalitas meningkat baik kualitas, apalagi kuantitas!

Dan penjara pun penuh sesak. Hingga ada idiom di kalangan penjahat, kalau kau di luar sana sudah mulai kelaparan, maka buatlah kembali satu kejahatan, dan biarkan dirimu ditangkap. Karena di sini di penjara kita dapat tempat enak, dapat makanan bergizi tanpa perlu susah payah banting tulang.

Dan penjara layaknya sebuah universitas khusus bagi para kriminil. Di sini maling ayam setelah ‘tamat’ bisa jadi maling kendaraan. Disini jagoan kampung bisa menjelma menjadi seorang pembunuh bayaran. Satu-satunya mungkin sarana pendidikan yang betul-betul gratis di negri ini!

Maka wajarlah bila di setiap saat dan di setiap tempat kita akan selalu dihantui rasa cemas. Di pertokoan, berhati-hatilah banyak pencopet atau tukang hipnotis. Pulang dari Bank, tasmu menjadi incaran kawanan perampok. Di parkiran, kendaraan yang sudah dikunci pengaman saja bisa lenyap. Pulang ke rumah, tutup rapat semua pintu dan jendela, maling bisa masuk kapan saja dan dari mana saja. Bahkan jangan pernah membawa sandal sepatu mahal ke mesjid, sandal jepit butut yang warnanya beda dan termasuk golongan homo (maksudnya kiri sama kiri, atau kanan sama kanan) saja bisa raib!

Kriminalitas betul-betul merajalela. Orang-orang kelaparan, dia perlu makan. Perusahaan sudah memPeHaKa, jadi tukang ojek mesti punya persatuan, pengemis tak ada yang kasihan, maka jadi maling bisa jadi adalah satu-satunya pilihan.

Dan nyawa pun begitu tidak berharganya. Harganya serupa dengan uang seribu rupiah. Seribu rupiah? Ya, kita saksikan, bahkan demi memperebutkan selembar ribuan itu nyawa bisa melayang. Salah bicara sedikit sudah main tikam. Sedikit-sedikit main jotos. Ih, betapa mengerikannya. Saya merasa seperti sedang berada di rimba belantara, dimana kekerasan merupakan satu-satunya jalan penyelesaian.

Dan yang lebih mengerikan di dalam benak saya bahwa kriminalitas yang tanpa henti ini sebenarnya adalah sebuah budaya dan tradisi yang akan betul-betul lestari. Hingga di suatu saat nanti kita jangan terkejut ketika generasi cucu-cucu kita ketika ditanya apa cita-citanya, akan menjawab….

Saya mau jadi perampok yang hebat, Kek” katanya dengan bangga sembari membusungkan dada.

Na’udzubillahi min dzaalik…

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s