WE ARE THE ONE….


Luffy, Zoro, Nami, Sanji, Usopp…..

Para penikmat komik jepang pasti kenal persis dengan nama-nama di atas. Yep, mereka adalah komplotan bajak laut Topi Jerami. Kelompok bajak laut budiman yang bertualang di ganasnya lautan demi mencapai Grand line dan mendapatkan harta paling barharga di era bajak laut saat itu: One Piece.

Ini komik seru yang kayaknya sangat sayang untuk dilewatkan. Hahaha.. bukannya promosi yach, memang konon katanya ini komik adalah komik yang paling laris di Jepang sana. Jumlah penjualannya telah mencapai lebih dari 100 juta kopi. Film animenya juga tergolong laku, belum lagi marcandhise-marchandisenya. Jelas Eichiro Oda, si penelor One Piece ini- jadi tajir banget dibuatnya.

Tapi apa yang menarik yang membuat komik ini begitu laku keras?

Kalau saya yang dimintai pendapat, maka menurut saya yang paling menarik dari komik ini adalah nilai persahabatan dan persaudaraan yang begitu kental yang sangat apik dibawakan oleh Oda. Saya rasa para One Piecemania yang lain juga sepakat dengan saya. Persaudaraan yang mereka usung bukan hanya hiasan bibir doang. Namun persaudaraan yang siap menghadang maut. ”Dia anggotaku!!” seru Luffy bila ada satu anggotanya yang dirundung bahaya. Maka semua tahu dengan kalimat itu si manusia karet ini berarti tengah bersiap tempur sembari menggadaikan nyawanya.

Keren! Bentuk persaudaraan yang luar biasa, padahal mereka bukan saudara kandung. Bahkan latar belakang mereka rata-rata berbeda. Luffy si bajak laut, Zoro malah terkenal sebagai pemburu dan musuh para bajak laut, sementara Nami adalah sang pencuri yang hobi mencuri harta-harta milik bajak laut. Tapi kok bisa mereka menyatukan diri sebegitunya? Kesamaan visi! Saya kira ikatan itulah yang mempersatukan mereka.

Menyaksikan persaudaraan Luffy dan kawan-kawan membuat saya trenyuh. Saya sungguh merasakan sebuah ironi yang luar biasa. Ini tentang sebuah entitas bernama umat islam dan ukhuwah islamiyyahnya. Jujur, saya iri kepada Luffy dan kawan-kawan. Padahal mereka hanya sekumpulan bajak laut. Nah, kita…? Kaum mu’min yang memiliki satu aqidah, satu pemikiran, satu perasaan, dan visi yang serupa, jelas seharusnya lebih kokoh dan teguh lagi ikatan persaudaraannya.

Allah, Sang Pencipta sendiri telah mewanti-wanti:

Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara” (AlHujurat 10)

Dan Rasulullah yang tersayang pun tak lupa menegaskan,

Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal cinta kasih dan kasih sayang mereka adalah bagaikan sau tubuh; jika merintih (kesakitan), maka ia akan mengundang bagian-bagian tubuh yang lain, dengan panas dan terjaga (tidak bisa tidur).”

Tapi drama yang kita lihat sungguh mencengangkan,

Ketika salah satu negeri muslim disakiti, seyogyanya tubuh yang normal akan merasakan pedih yang luar biasa. Namun luar biasa analgesik yang disuntikkan kafir penjajah, sehingga kita, bagian lain dari tubuh itu tak bergeming.

Telah sakitkah kita ketika dengan tuduhan yang dusta semata saudara kita di Afghanistan dibantai oleh Kafir Amerika?

Telah sakitkah kita, ketika belum reda bara di Afghanistan, lalu 600 ribu lebih rakyat Irak dilumat-lumat kembali oleh pihak yang sama dengan tuduhan yang hampir serupa, yang tak pernah terbukti kebenarannya?

Tidak, bahkan lucunya satu tubuh itu tetap enjoy menikmati kesakitan bagian tubuh yang lain. Bukan hanya membiarkan, malah dengan riang gembira mempersilakan sang musuh untuk menghancurleburkannya.

Kami memang sakit bila diserang. Tapi kami lebih sakit lagi bila yang turut menyerang ini adalah saudara kami…” jerit rakyat Iran. Apa salah Iran, sehingga moncong peluru diarahkan kepadanya? Apa hanya karena nuklir yang digunakan untuk pembangkit listrik? Padahal Amerika dan sekutunya yang memakai nuklir untuk keperluan perang tidak pernah diganggu gugat. Maka lebih sakit hatilah, karena Indonesia, negri muslim saudara kandung kini turut berseberangan mendukung resolusi yang intinya sepakat melucuti dan menghabisi Iran.

Dan apa yang kita rasakan, ketika kemudian giliran rakyat Palestina dibantai dengan keji oleh laknatullah Yahudi Israel?!! ”Ainal muslimuun…!!” jerit pemuda mereka… jerit anak-anak mereka, jerit wanita-wanita mereka…

Dan dagelan semakin lucu. Karena kini sang tubuh berusaha menyakiti dirinya sendiri. Tangan kiri adu jotos dengan tangan kanan, mulut meludahi kaki sendiri, sedangkan kaki balas menendang kepala…..

Apa yang namanya ukhuwah itu sudah betul-betul luntur ya? Atau jangan-jangan tinggal kata-katanya saja, wujudnya sudah terlanjur raib ditelan bumi.

Kalian akan seperti buih-buih…..”

Tentunya Rasulullah dan para Sahabat yang berada di majlis saat Hadits itu diucapkan akan menangis deras. Inikah umat mulia yang layaknya satu bangunan itu?

Dan berpegangteguhlah kalian pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai…” (TQS Ali Imran 103)

Makanya, mari kita perkuat ukhuwah Islamiyyah!!” salah seorang teman satu pengajian berujar.

Sebentar khi, apa betul tekad itu? Atau jangan-jangan –sekali lagi- ini hanya hiasan bibir atau sekedar motto semata saja?” saya tergelitik untuk mengusik kalimat yang diserunya barusan.

”Kok malah tidak sinkron ya” lanjut saya.

Tidak sinkron apanya menurut antum?” kejar teman saya.

Ya…. tidak sinkronlah antara ucapan dan perbuatan. Maksud saya fakta yang paling dekat saja. Antar sesama pengemban dakwah, sama-sama mencita-citakan kebangkitan islam, namun kebetulan beda harokahnya. Yang saya lihat –mudah-mudahan penglihatan saya salah- para pejuang islam itu malah saling gontok-gontokan dan kesannya malah tidak akur yahh… –sekali lagi moga-moga saya salah.

….Saling ejek, saling ledek, saling sikut, mengganggu kegiatan atau kalau perlu mengupayakan kegagalannya, berupaya menjegal bila ada sobat dari harokah lain bakal maju sebagai pengurus salah satu lembaga…..”

Saya tidak mengatakan semuanya begitu, namun setidaknya saya pernah melihatnya bahkan mengalaminya sendiri. Itu dilakukan oleh kita-kita yang mengaku ingin memperkokoh ukhuwah islamiyyah. Tapi apa buktinya?”

Lucunya, kepada orang lain yang bukan siapa-siapa –maksudnya bukan aktivis harokah- kita seringkali tampak begitu santun, begitu shaleh. Tapi ketika sudah berhadapan dengan sesama pengemban dakwah namun beda harokah, malah yang muncul wajah-wajah beringas kita. Allah Yarham…. mudah-mudahan sekali lagi saya yang salah…”

”Tapi kan…..”

Saya berlalu meninggalkan teman saya tadi. Tampaknya dia masih belum puas, dan masih berusaha berargumen melawan pendapat saya. Tapi saya sudah terlampau malas.

Tak tahu kenapa tiba-tiba saya merasa begitu lelah.

Saya tidak sesemangat Luffy yang walau dalam keadaan terluka parah masih mampu berteriak kencang sembari menyiapkan tinju tangan karetnya. ”Ini balasan buat perlakuanmu kepada saudaraku!!!”

Akhh

Umat Islam terpecah-pecah menjadi lebih dari 50 negara.

Masing-masingnya saling baku hantam antar sesama.

Muncullah pejuang ’harokah-harokah’ Islam mencoba memperbaikinya.

Namun apa dinyana…

Antar pejuang islam itu pun saling sikut saling hantam.

… nasib jadi buih-buih yang terombang-ambing…. kocar-kacir.

Hmm…

Tiba-tiba saya jadi merasa cemburu kepada Luffy dan kawan-kawan bajak lautnya.

Iklan

2 Komentar

  1. Yup, betul bget apa yang kamu bilang…
    persatuan umat Islam udah tidk ada lagi, pdhal sama-sama umat yang menjunjung tinggi Al-Qur’an, namun karna perbedaan harokah jadi saling sikut, saling brebut kader kader, gnerasi muda..bukankah tujuan kita sama, sama-sama menegakkan kalimatullah.. mari kita semua umat Nabi Muhammad bersatu dibawah panji-panji Islam, kita bersatu untuk menghapuskan kapitalisme dan berusaha menegakkan syariah dan khilafah di muka bumi ini..Allahu akbar..

    • sepakat!
      beda harakah namun satu ghoyah. tegakkan izzah islam
      la izzata illa bi islam. wala islama illa bisy syariah.
      wala syariata illa bi daulah khilafah.
      wala daulata illa bi dakwah
      wala dakwata illa bi istiqomah!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s