IMAM YANG MANA?

Yusuf Kalla keluar dari koalisi kebangsaannya SBY. Amien Rais turun gunung dan meminta PAN merapat ke Cikeas, PPP terpecah dalam menentukan arah koalisi. Hanura kembali mesra dengan saudara tuanya, GOLKAR. PKS dan PKB mantap di lingkaran segitiga biru. Sementara blok Teuku Umar berusaha menggandeng partai-partai gurem

Program berita layar tivi minggu-minggu ini dipenuhi dengan berita-berita seputar koalisi capres-cawapres. Suhu politik negeri ini kian menghangat. Masing-masing kelompok sibuk bermanuver. Dan terbukti, pragmatisme ternyata adalah warna utama politik kita. Lupakan permusuhan zaman dulu….. sekarang saatnya menyatukan visi kita. Dan lupakan kemesraan yang terbangun tahun-tahun dahulu, kita sudah nggak cocok… begitu irama-irama yang disenandungkan para pegiat politik tingkat elit. Hffuuufff… betul-betul dagelan yang menggelikan.

……………………………

Jadi menurut antum siapa yang pantas menjadi presiden nantinya?” salah seorang teman menyela

Saya diam.

”Belum menentukan pilihan atau jangan-jangan tidak akan menentukan pilihan?”

Saya tetap bergeming.

Akhi, bukannya menggurui… tapi bagaimanapun sebagai seorang muslim kita wajib menentukan pilihan kita. Sebagai bentuk ketaatan nantinya kepada pemimpin kita… pada ulil amri!” ucapnya mantap. Saya tercenung.

”Kita hidup berjamaah, persis layaknya shalat berjamaah, maka wajib bagi kita mengangkat seorang imam yang akan memimpin kita!” lanjutnya lagi.

Blesshh… menguaplah kebekuan. Saya tertarik untuk masuk ke dalam lingkaran perdebatan ini. Masalahnya si Akh ini sudah mulai bawa-bawa dalil qiyas… namun sayangnya qiyas yang dibuatnya asal-asalan, bukan qiyas syar’iyyah.

Akhi..” tanggap saya. Karena di awal dia memanggil saya dengan akhi juga, maka saya merasa tak pantas untuk membalas panggilannya dengan pren, atau coyy.

Sepakat. Bahwa kehidupan kita harus berjamaah. Dan dalam berjamaah, wajib bagi kita untuk mengangkat seorang imam yang akan memimpin kita. Dan nantinya dalam kepemimpinannya, tidak ada kata lain selain ’taat’.”

Persis seperti shalat berjamaah. Maka segala perbuatan imam mesti kita turuti. Kalaupun imam melakukan kesalahan, maka makmum yang di belakang wajib meluruskan. Namun dengan cara yang sudah ditetapkan dan dengan bentuk yang santun. Kalau imam batal, shalat harus tetap dilanjutkan hingga selesai. Makmum di belakangnya lah yang maju ke depan menggantikan. Nah, hal yang sama berlaku pula dalam kehidupan bernegara….”

”Nah, jadi apanya yang salah?” si akhi menyela.

Saya belum selesai. Masalahnya hal itu berlaku dalam hal-hal yang dapat ditolerir. Begini, dalam shalat bila imam salah baca bacaan surah maka kesalahan ini dapat diperbaiki. Makmum bersuara dengan membetulkan bacaan. Bila imam lupa tahiyat awal atau kelebihan rakaat maka makmum memberi isyarat ”subhanallah”. Ini adalah bentuk koreksi terhadap kepemimpinan. Namun bila kesalahan imam fatal, seperti misalnya imam kentut atau imam melakukan hal yang di luar shalat, misalnya bukannya baca AlFatihah, malah nyanyi dangdut. Maka seketika itu juga imam wajib diganti.”

Saya menghela nafas dalam.

Dan permasalahannya adalah…. mari kita lihat kepemimpinan di negeri ini. Apakah imam yang ini wajib kita taati? Atau anda bilang kita wajib mengangkat imam yang baru… untuk memimpin kita layaknya shalat berjamaah. Pertanyaan utama yang harus kita tanyakan dahulu …. sebelum kita mengangkat sang imam untuk memimpin shalat… apakah yang akan kita lakukan ini adalah shalat berjamaah? Apakah kiblat kita sudah menghadap ke arah ka’bah? Bila belum, maka betulkan dulu niat shalatnya, luruskan dulu arah kiblatnya. Baru kita shalat berjamaah. Lalu bagaimanapun imamnya, wajib kita taati.”

Kali ini si akhi yang giliran mengernyitkan dahi.

Begini, Akh. Sebelum ribut-ribut masalah siapa presidennya.. harusnya kita mempertanyakan dulu, apakah corak pemerintahan atau kepemimpinan yang akan dijalankan itu nantinya adalah sistem islam atau bukan? Apakah benar itu shalat berjamaah? Bukankah selama ini sistem yang dijalankan adalah sistem yang sama sekali mengabaikan aturan islam? Ajaran ilahi sama sekali dikesampingkan. ”Tuhan” yang disembah di ’shalat’ ini adalah demokrasi. ’rukun’ yang digunakan adalah kapitalisme. ’syarat sah’nya adalah materialisme. ’Wudhu’ nya dengan sekularisme. ’Ushalli’nya dengan nasionalisme dan kiblatnya adalah Amerika Serikat!” lanjut saya.

Maka apakah ini yang dinamakan shalat berjamaah?” tandas saya retoris

”Jadi maksud antum, antum mengajak golput aja nih?” si akh bertanya menyelidik.

Nggak. Jawab saya mantap. Kalau saya mengajak sekedar golput saja berarti sama saja seperti saya mengajak orang untuk tidak shalat. Yang saya ajak adalah mari membenahi shaff-shaff kita dan ’shalat berjamaah’ sesuai dengan aturan shalat yang telah digariskan oleh Allah. Lalu angkat imam yang sudah berwudhu, sesuai syarat sah imam, dan menghadap betul-betul ke arah kiblat.”

Paham maksud saya?”

Iklan

8 Komentar

  1. hmmmmmmmmmmmmmm…………………………….

  2. sekarang kita bicara dilingkup yang lebih kecil saja
    bagaimana sikap anda dalam pemilihan ketua rt dikampung anda?
    bicara masalah negara
    apa yang paling penting untuk anda suarakan?

    • sayangnya di kampung saya ga ada pemilihan ketua rt… hehehe…. pengertian imam yang saya maksud di tulisan saya adalah dalam konteks negara… artinya adalah kepala negara.
      yang penting disuarakan tentunya adalah perubahan sistem. alasannya sangat jelas, karena sistem yang kita jalankan adalah sistem yang bertentangan dengan islam…

  3. oke……. kalo rukun2 shalatnya belom bener, berarti Anda gak akan memulai shalat itu sebelom membenarkannya kan???
    Truzz bagaimana hukumnya orang yg menjalankan sholat tp rukunnya gak bener, padahal dia udah tau rukun itu gak bener??( kita pake pengandean aja)

  4. subhanallah…
    logikanya ngena..!! karena sekarang susah sekali menyadarkan org dg ayat2 al quran. belum sampe ana membacakan surat al maidah 44, 45, 47, udah dibantah abis2an dg logika seenaknya sama guru2 sekolah ana yg kurang informasi itu…
    akhi, kalo punya artikel2 atw tulisan2 menarik dlm bentuk ebook, kirim ke emailku ya…
    disuruhbikinemail@yahoo.co.id
    jazakallahu khayr

    • untuk tulisan di blog ini…… merupakan sebuah kebahagiaan bila ada yang membajak dan mempublikasikannya… bahkan tanpa menuliskan referensi blog ini sekalipun….
      mengenai e-book.. nanti kalo ada waktu saya kirim

  5. Masalahnya nih kdd imam yg ky it sampai sekarang, jadi apakah kita harus tetap memilih????

    • Semisal tidak memilih… bukan berarti diam saja. Justru kita berjuang untuk mencari bentuk perubahan yang lebih baik…. jadi jangan mau golput… jadi golsyar…. golongan syariah


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s