KEKUATAN PIKIRAN

(Lanjutan tulisan antara khayal, mimpi, cita, visi, dan realita)

Menarik menyimak pertarungan sengit yang terjadi malam tadi: Joe Sandy versus Limbad, memperebutkan gelar The Master. Duel antara kekuatan pikiran melawan kekuatan fisik. Walaupun, jujur, sesungguhnya saya tidak benar-benar menontonnya. Saya hanya tertidur di depan televisi yang menyala, sehingga sama sekali saya tidak menyaksikan aksi spektakuler keduanya. Namun akhirnya saya terbangun juga pada akhir-akhir ’pertempuran’ itu, ketika tiba sesi komentar dewan juri terhadap aksi yang dilakukan Limbad. Salah satu komentar yang disampaikan bang Deddy Corbuzier saat itu kira-kira seperti ini ”Saya sempat ngomong-ngomong dengan Joe Sandy, apa yang akan kamu lakukan untuk mengalahkan Limbad? Joe Sandy menjawab: kekuatan pikiran! Masa iya sih orang Indonesia lebih menghargai kekuatan fisik ketimbang kekuatan otak?”

Nah, saya sepakat dengan statement master Joe tersebut, walaupun bukan berarti saya adalah pendukungnya dan menjadikan saya berminat mengirimkan sms mendukung kemenangannya. Saya adalah pendukung ’kekuatan pikiran’. Dan saya tersenyum penuh kemenangan ketika di akhir acara saya melihat perolehan sementara: Joe Sandy memperoleh 58% mengalahkan Limbad di 41%. Hmmhh… setidaknya untuk sementara otak mendapat kedudukan yang lebih tinggi…..

Kemarin, saya berjanji untuk melanjutkan tulisan sebelumnya, dari ’antara khayal, mimpi, cita, visi, dan realita’. Ada satu langkah terakhir yang belum dibahas: bagaimana melangkahkan jejak dari anak tangga bernama visi menaik menuju tujuan sebenarnya, yaitu realita.

Sebenarnya jawabannya secara tidak sengaja telah terjawab dalam duel the master malam tadi. Untuk menggapai realita langkahnya adalah kombinasi antara yang dielu-elukan pemuja Limbad dengan yang dibangga-banggakan pendukung Joe Sandy. Kombinasi yang sungguh sinergis: kekuatan fisik alias kerja keras dipadu dengan kekuatan pikiran!

Oke, teori itu sudah umum memang. Tapi kalau kita simak, yang selalu ditekankan dimana-mana adalah pada kekuatan fisik. Kekuatan pikiran sadar atau tidak masih diabaikan.

Sebagaimana yang sering dinasihatkan orangtua kita: nduk, kalau kamu pengen sukses, kuncinya adalah kerja keras…

Perhatikan, kerja keras! Yang ditekankan adalah kekuatan fisik.

Atau nasehat sang guru pada siswa-siswanya: bila kalian ingin pinter, kalian harus belajar dengan rajin…

Hey, bukankah belajar dengan rajin adalah bentuk kekuatan otak? Mungkin ada yang protes seperti itu. Hmmhh, untuk yang satu ini maaf bila saya mesti berbeda pendapat dengan anda. Bagi saya belajar dengan rajin -seperti yang biasa banyak orang lakukan- tetap adalah kekuatan ’fisik’, dianya bagaimanapun adalah sebuah bentuk kerja keras.

Oke, daripada melibatkan diri dalam pertengkaran lebih lanjut, lebih baik saya tampilkan sebuah contoh cerita yang pernah saya baca dalam bukunya Stephen R Covey. Suatu ketika ada salah seorang yang dipenjara bertahun-tahun. Orang yang dipenjara ini adalah penggemar golf. Namun bagaimanapun tetap bukanlah seorang yang ahli. Nah, untuk mengisi waktu senggang di dalam penjara, saban hari dia berlatih bermain golf di dalam sel. Lho, bagaimana bisa bermain di tempat yang sempit seperti itu? Jawabannya sederhana. Orang ini bermain golf di dalam pikirannya. Dia membayangkan dirinya memegang stik golf, mengayunkannya dengan tepat ke bola golf dan berjalan melangkahi padang permainan golf, hingga memasukkan bola tersebut ke dalam hole. Pikirannya membentuk gambaran itu secara sungguh detil. Dan dia melakukannya hampir setiap hari di dalam selnya.

Ketika pada akhirnya dia keluar dari penjara, sahabat-sahabatnya mengajaknya bermain golf. Tebak apa yang terjadi? Sahabat-sahabatnya tercengang, orang ini mengalami kemajuan yang sangat luar biasa.

Bagaimana kamu bisa menjadi sehebat ini?” tanya salah seorang sahabatnya.

Orang tadi menjawab dengan santainya. ”setiap hari saya berlatih di dalam sel” dan sahabat-sahabatnya itu hanya melongo keheranan.

Sobat, inilah yang saya maksud dengan kekuatan pikiran.

Di awal kemarin kita telah menjabarkan apa itu visi. Visi adalah cita-cita yang memiliki metode pencapaian. Lalu bagaimana bisa dari visi yang hanya berupa gambaran-gambaran abstrak dalam pikiran tersebut menjelma menjadi realita?

Izinkan saya menjawabnya, dengan menirukan gayanya Joe Sandy ketika menghadapi Limbad. Kuncinya adalah “kekuatan pikiran!”

Semakin kuat pikiran anda, dalam kata lain semakin tajam dan fokus visi anda, maka semakin dekat diri anda dengan realita.

Maka untuk dapat benar-benar menjejaki realita tersebut. Langkah yang penting adalah anda harus bisa melihat realita tersebut. Dia belum terjadi, namun anda harus punya gambaran yang detil tentangnya. Jadikan gambaran itu tiga dimensi, jelas dilihat dari sisi manapun. Bahkan kalau perlu jadikan hidung anda layaknya mampu mencium aroma hawanya, kulit anda mampu meraba hangat dan sejuknya. Simpulannya buatlah gambaran yang utuh tentangnya.

Saya akan menginjakkan kaki saya di altar suci Sorbonne” begitu ucap Ikal dalam novel Sang Pemimpi, sekuelnya Laskar Pelangi. Ikal memiliki gambaran yang jelas dalam benaknya, walaupun pada kenyataannya saat itu dia berada sangat jauh. Dia berada di kampung Belitong, sangat jauh dari Paris. Namun sekali lagi adalah kekuatan pikiran, sobat. Maka Andrea Hirata alias Ikal tadi mampu menjadi lulusan Universitas ternama dunia itu.

Contoh lain lagi, di zaman Rasulullah. Saat itu Rasulullah dan para sahabat sedang berbahagia selepas dari kemenangan dalam sebuah pertempuran. Seperti biasa Rasulullah membagikan harta rampasan perang kepada para prajuritnya. Uniknya, tersebutlah salah seorang sahabat yang menolak rampasan perang tadi. Dia malah berkata,

Tidak ya Rasulullah, bukan untuk ini. Aku berperang agar ini!” Ia menunjuk satu titik pembuluh darah di lehernya. ”Kalau dia jujur kepada Allah”, kata Rasul, ”Dia akan mendapatkan apa yang dicitakannya.”

Dan benar, di perang berikutnya ia mendapatkannya. Dia mati syahid dengan sebuah anak panah menancap tepat di titik yang dulu dia tunjuk dengan jarinya.

Satu lagi kita menyaksikan kekuatan sebuah visi.

“Interupsi!”

Silakan,

”Anda seakan-akan mengabaikan apa yang dinamakan sebagai ’takdir’. Bukankah segala sesuatunya tergantung dari takdir?”

Sepakat, dan saya tak pernah berkata kalau saya mengabaikan takdir. Namun ada yang perlu diluruskan dulu mengenai persepsi kita tentang takdir. Jangan-jangan selama ini persepsi kita tentang takdirlah yang memenjarakan kekuatan pikiran kita. Oke, pada saatnya nanti saya akan mengulas panjang lebar tentang kata ’sakral’ bernama takdir tersebut. Namun, biarlah kalimat ini sebagai jawaban awal bagi anda: membentuk visi dan memfokuskan serta memperkuatnya bukan berarti menentang takdir!

Saya sering mengibaratkan visi itu laksana sebuah proposal tentang masa depan. Semakin jelas dan detil isi proposal maka kecenderungannya akan semakin mungkin untuk diterima. Dalam hal ini, kita percaya betul bahwa yang menentukan apa yang terjadi di masa depan adalah Allah, Tuhan kita. Namun kita dianjurkan berdoa untuk pencapaian sebuah kehendak kita. Visi adalah bentuk lain dari do’a kehendak kita tersebut. Pertanyaan dari saya sekarang adalah bagaimana mungkin Allah mewujudkan kehendak kita, kalau kehendak kita tidak jelas atau sangat kabur bak bayang-bayang?

Hmmhh…

****

Mungkin dari anda ada yang keberatan dan menyangkal mengapa di sini saya begitu mementingkan kekuatan pikiran, dan meletakkannya di atas kekuatan fisik. Padahal toh, bukan pikiran yang mengantarkan seseorang menuju sebuah pencapaian. Tetap gerak atau kerja keraslah yang dominan dalam pencapaian sebuah tujuan.

Saya jawab: salah besar!

Kembali ke contoh nasihat sang guru kepada muridnya di awal: ’kalau kamu pingin pinter, harus rajin belajar’ menurut anda apa yang akan dilakukan oleh sang murid? Dia akan belajar…. ya…. namun belajarnya tanpa arah. Dia belajar terus…. tapi buat apa? Dia tidak memiliki visi yang jelas. Belajar yang dilakukan tanpa visi tak ada bedanya dengan seseorang yang saban hari mengangkat batu besar… dia mengangkatnya dengan susah payah dari tempat A menuju ke tempat B. begitu terus saban hari…. tapi buat apa dia mengangkat batu itu? Apa gunanya?

Atau seperti orang yang ingin berkendara dari Banjarmasin menuju Banjarbaru misalnya, sementara dia tidak punya gambaran mengenai Banjarbaru, dan tak tahu ke arah mana dia harus berkendara. Mungkinkah dia sampai? Kalaupun sampai pun itu adalah sebuah kebetulan. Beda halnya dengan orang yang memiliki gambaran jelas tentang Banjarbaru, paham detil bagaimana menuju ke sana… maka dia akan berjalan ke sana sesuai guide yang ada di pikirannya. Insya Allah dia bakal sampai. Kalaupun gagal, maka yang berperan adalah faktor ’x’. Bisa karena ban kempes, kecelakaan atau lainnya. Tapi yang jelas dia telah berada pada jalan yang tepat.

Berkendara menuju Banjarbaru adalah bentuk kekuatan fisik. Sedang guide yang menuntun dia ke arah sana adalah kekuatan pikiran, kekuatan visi. Tanpa guide dalam pikiran, beratus liter bensin pun akan percuma. Dia hanya akan berputar-putar tanpa pernah sampai ke tujuan.

Begitu pula halnya, sobat…. maka tanpa visi yang jelas dalam perjalanan hidup kita, maka percayalah…… kita hanya akan berputar-putar tidak karuan di sana.

6 Komentar

  1. Assalamualaiku,

    Setuju Dok,
    Kedudukan akal dalam Islam sangat penting…yang boleh shalat, puasa dan ibadah lainnya adalah orang yang mempunyai akal..Kecepatan pikiran melebihi kecepatan cahaya…buktinya orang yang khusuk dalam shalatnya dengan samgat cepat bisa bertemu Tuhannya..
    Bahkan Iman pun ditentukan oleh akal baru dibenarkan oleh hati..Lihatlah bagaimana Bapak para Anmbiya dan orang beriman Nabi Ibrahim A.s. mencari Tuhannya.Bukankah dengan berpikir tentang semesta..Bahkan ketika malaikat protes ketika Allah akan menjadikan manusia menjadi Khalifah..Jawaban Allah bukanlah “karena Aku yang Terkuat.”.Tapi “Aku lebih Mengetahui” the point Is Pengetahuan use Akal…

    Salam

    Blogger Urang Banua Banjar

    • hehehe…. vote for kekuatan pikiran!

  2. berpikir belum tentu berakal..

    • sobat, janganlah berpikir parsial sep itu. it hanya akan mempersempit pemikiran dan wawasan anda dalam kehidupan yang penuh ragam, dan pada hakikatnya semua ragam kehidupan itu hanya satu. dalam islam banyak sekali contoh kekuatan pikiran yg pemeluknya sendiri belm memahaminya.
      kekuatan pikiran pada hakikatnya adalah menggabungkan antara kekuatan berpikir, berakal, perasaan, bahkan kekuatan Ilahi yg bercorak khas spritual yg agung. bukan sekkedar bermimpi ato bervisi…mohon menjadi petimbangan. thanks

  3. tidak sepakat : yang boleh shalat, puasa dan ibadah lainnya adalah orang yang mempunyai akal.. ada hadistnya ??

    Di Kitab 5 MAzhab yg sy baca, Para Imam tdk ada satupun yg mengatakan shalat hanya untuk orang yg berakal.. =))

  4. memang begitulah kekuatan pikiran sudah sangat banyak teori yang membahasnya. sangat setuju dan sy juga termasuk menggunkan kekuatan pikiran. hasil luar biasa. salam super kreasi with kekuatan pikiran.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s