BUIH JADI PERMADANI…..

Apabila telah datang pertolongan dari Allah dan kemenangan

Dan kamu melihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong.

Maka bertasbihlah, dengan memuji Rabbmu, dan beristighfarlah. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat.” (AnNashr 1-3)

Buih-buih

……yang terombang-ambing.

Menjadi hidangan

….. yang disantap dari segala penjuru

Demi Allah, Dzat Yang Maha Menatap, Dzat Yang Maha Berkuasa atas Segenap Sesuatu, Dzat Yang Maha Pelindung, Dzat Yang berada dalam genggamanNya seluruh lapis langit dan bumi.

Derita, sengsara dan bencana yang dialami oleh kaum muslimin sesungguhnya bukanlah sebuah episode penutup, ini hanyalah sebuah fase antara yang lebih sebagai cambuk. Teguran bagi hamba-hamba yang menyimpang… ujian bagi hamba-hamba yang beriman.

Karena setelah gelap akan muncul terang,

Setelah kesusahan akan tiba kebahagiaan,

Ketakutan berganti aman sentosa

Hina menjadi mulia

Hingga buih-buih pun menjadi permadani.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. An Nuur 55).

Maka bentangkan permadani penuh pesona itu, dimana celupan warnanya adalah pancaran dari nur ilahi. Lembut, menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wangi, meluluhlantakkan kejahilan, kemusyrikan, kekufuran, kemunafikan.

Di atasnya ramai dengan sujud-sujud para hamba, sementara kicauan merdu dzikir, diselingi senandung lantunan alqur’an lamat-lamat menggema.

Angin pun berhembus pelan, angin yang membawa seruan indah, dakwah.

Cahaya terpancar cerah, cahaya AlQur’an yang terpancar dari rona keshalihan manusia-manusia beriman.

Lalu mata menebar pandang ke tiap titik penjuru….

Alangkah agung…

Lautan kaum mukminin mendendangkan salam.

Dari wajah-wajah mereka menitik peluh air wudhu

Harta bergelimang, Kemenangan gemilang…

Namun kepala mereka tetap tunduk tawadhu

Bahkan para binatang pun berlompatan riang

Rumput pohon semak belukar

Tak tertinggal gunung-gunung dan lautan

serempak menyanyikan melodi-melodi paling indah..

Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, dan Maha Besar Allah!

Jadi hapuslah air matamu saudaraku,

Karena sudah terkubur derita,

Kini yang tersisa hanya bahagia………

Pada hari ini, orang-orang Mukmin merasakan kebahagiaan karena memperoleh pertolongan dari Allah.” (QS ar-Rum [30]: 4-5).

Iklan

2 Komentar

  1. melihat judul tulisan ini, saya kira isinya lagu malaysia. Ternyata bukan..

    • hehehe…. umat islam sekarang diibaratkan bagai buih…. namun ada saatnya kelak buih-buih itu menjelma menjadi permadani yang begitu menawan. dan saat itu segera menjelang


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s