TAK ADA YANG ABADI (Menyoal rencana pasangan SBY-Budiono)

Ini bukan tentang syair lagunya Peter Pan. Ini tentang dagelan politik yang sedang dipentaskan di negri ini. Beberapa saat yang lalu, publik dihebohkan dengan langkah teranyar yang dilakukan oleh Capres incumbent Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah sebelumnya satu persatu partai papan tengah menyatakan diri menempel dengan ’segitiga biru’, ….. eh menjelang pengumuman siapa sang cawapres yang bakal diusung, tiba-tiba berembus kabar kalau Mas Bambang ini telah mengkhianati koalisi yang sedang dibangun. Alih-alih memilih salah satu tokoh parpol koalisi (Hidayat dari PKS, Hatta dari PAN, Muhaimin dari PKB), eh malah memilih tokoh lain, yakni Budiono, sang gubernur BI.

Lha ini belum seumur jagung, koalisi telah terancam bubar.

Entah apa yang ada di benak Mas Bambang sehingga sampai memilih nama Budiono. Berbagai spekulasi pun bermunculan. Mulai dari alasan karena diperlukan tokoh independen yang lebih memahami manajerial dan ekonomi agar pemerintahan yang ada lebih berjalan stabil. Mas Bambang mungkin ogah kecebur dua kali setelah sebelumnya sempat mereguk kenangan pahit koalisi bersama Aa Yusuf. Spekulasi yang lain berkata ini adalah hasil urun rembug dengan PDIP beberapa hari yang lalu. Sebagaimana yang kita ketahui, Budiono bagaimanapun tetap lekat sebagai kader PDIP. Keberadaannya berarti mewakili partai banteng bergincu putih itu.

Lain lagi pendapat pakar konspirasi…. Budiono bagian dari Mafia Barkeley, mafia yang getol memperjuangkan ekonomi neoliberal. Sehingga neeh…ada kemungkinan pencalonan Budiono merupakan pesanan dari pihak asing.
Atau bisa jadi juga….. Mas Bambang ini sengaja memilih Budiyono, supaya mendapatkan kemistri yang tepat… kan sama-sama nama belakang ”Yono”. Jadi klop! Yono berganda….

Apapun itu, bagi empat partai yang telah menyatakan koalisi dengan demokrat, tak ada satupun alasan yang bisa diterima. Empat partai, PKS, PAN, PKB, PPP dalam pertemuan yang digelar siang tadi menyatakan menolak. Bahkan mereka mengancam putus! Ouw ouw ouw ada apa gerangan mas Bambang? Dirimu laksana seorang lelaki yang berpoligami dengan empat istri…. namun engkau bersikeras memilih selingkuh dengan wanita idaman lain. Empat istri itu merasa dikhianati… dan dalam waktu bersamaan menggugat cerai!!

Semuanya memang baru sekedar ancaman. Nama Budiono pun baru sekedar wacana, setidaknya sampai tulisan ini dibuat. Namun bisa jadi, ancaman itu menjadi kenyataan. Pukul tujuh malam WIB, saat saya menulis tulisan ini, sedang digelar pertemuan partai-partai papan tengah di hotel Mikko, membahas langkah ’gugatan cerai’ yang mungkin akan dilayangkan oleh mereka. Lalu kalau memang jadi cerai, mau kemana mereka?
Salah satu alternatif yang mungkin akan ditempuh oleh para koalisor ini adalah membentuk kubu baru yang berjudul koalisi antar partai islam dan berbasis massa islam.

Hmmmm…..
Saya tidak akan mengkritisi masalah pilihan yang jatuh ke Budiyono ini….. kapan-kapan aja ngebahasnya… terlalu prematur.
Lebih menarik ketika mengamati sepak terjang yang justru dijalankan partai-partai Islam. Sejak awal, bahkan sebelum pemilu legislatif digelar PKS sudah berwacana PKS legislatifnya, SBY presidennya. Maka wajar, ketika hasil Quick count mulai stabil menempatkan demokrat di urutan pertama, PKSlah yang pertama menyatakan diri berkoalisi. Menyusul kemudian muker yang akhirnya menyarankan tiga nama kader PKS yang diancangkan sebagai cawapres mendampingi SBY. Tak jauh beda dengan PKB kubu Muhaimin yang tak lama juga segera merapat, dengan mengusung nama ketua umumnya sebagai cawapres. PPP sempat terpecah, namun pada akhirnya memutuskan lebih memilih SBY. Belakangan, PAN yang sempat kisruh kemudian mantap memilih membersamai SBY setelah sesepuh PAN Amien Rais pada akhirnya turun gunung.

Mengimbangi pilihan koalisi ke SBY, sebenarnya banyak tokoh umat dan berbagai ormas Islam yang lebih mengharapkan partai-partai islam itu bersatu sejak awal membentuk koalisi partai islam. Tak perlu menghinakan diri memelas-melas ke partai sekuler. Setidaknya, Pak Din Syamsuddin pernah menganjurkan koalisi tersebut. Menurut beliau jangan sampai partai Islam hanya jadi pelengkap penyerta, bahkan jadi pelengkap penderita……
Walaupun seruan itu tetap tak diindahkan.
Ah…… menyedihkan….

Saya jadi teringat dengan salah satu pesan kampanye salah satu kader parpol islam saat mengajak orang agar tidak golput….. ”Kalau kita umat islam tidak memilih partai islam, ntar yang menang adalah partai sekuler. Bayangkan bagaimana pemerintahan nanti akan menerapkan pemerintahan sekuler…..” Eh, kemudian setelah selesai pemilu, mereka malah menelan kembali ludahnya… toh mereka pada akhirnya sama saja….. malah memilih bergabung dengan partai sekuler…. lha apa bedanya… artinya mereka akan terlibat juga membentuk dan melanggengkan pemerintahan sekuler.

Alasan mewarnai? Pantaskah islam mewarnai sekularisme yang notabene sebuah bentuk kekufuran? Biar warnanya islam.. kan tubuhnya tetap sekuler. Tak layak yang haq bercampur dengan yang batil. Sebagaimana tak layak daging babi dikemas dalam kaleng bertuliskan daging ayam asli halal 100%.
Seharusnya sejak awal partai-partai Islam itu istiqomah. Mantap, kalaupun koalisi harus dengan sevisi islam. Kalaupun tak mencukupi untuk maju atau kalaupun kalah, lebih elegan tampil sebagai oposisi memuhasabahi pemerintahan yang sekuler tersebut dari lingkaran luar.

Jadi tak perlulah main ancam-ancam dulu. Langsung aja nyatakan talak tiga dengan partai sekuler!

Maka sobat, inilah dagelan politik ala machiavelis…. semuanya serba pragmatis. Kemarin kita lihat Mas Bambang masih bergandengan tangan dengan Aa Yusuf. Aa Yusuf tiba-tiba ingin terbang sendiri, di raihnya sayap Kang Anto. Jeng Wati awalnya tampak mesra dengan Om Bowo. Eh belakangan Jeng Wati mulai naksir dengan kegagahan Mas Bambang….. sementara partai-partai Islam celingak-celinguk nyari-nyari gandengan…

Begitulah….. di dalam politik versi machiavelis…. tak ada lawan abadi dan tak ada sahabat yang abadi….. yang ada hanyalah kepentingan abadi….

4 Komentar

  1. yo……..
    demokrat emank lagi d awang2, secara dia dapet lebh dari 20% suara gitu….gimana gag nggaya……
    yup! stuju tuh…..partai2 Islam bersatu aja…..gag usah pada meminta belas kasihan partai2 tu……..

  2. Wah… mantap banget kata2nya…
    Nih tulisan kalo tersebar sampai ke luar mungkin dapat mengakibatkan partai2 Islam akan bersatu dan umat Islam akan tersadarkan akan akibat memilih partai sekuler

    Mungkin saya meminta izin utk mengcopy tulisan ini dalam bentuk kertas dan di jadikan Opini Islam yg akan saya sebarkan di wilayah SMAVEN dulu dalam bentuk Nasyirah atau Sevenmind…

    Wassalam

    • masa cuma di smaven… han…. kasihkan ke para capres dan cawapres dong… hehehe….. garap terus blognya….

  3. sby emang pinter,coba kalo pilih wapres dari salah satu parte islam pendukunngnya,Bagai mana dengan parte islam lainya,apa tidak ngiri and meri.
    begitulah pemimpin yang bisa ngemong adil untuk semua.sebageai partai islam
    harus punya konsekwensi kalo mau mendukung demi kemajuan bangsa negara
    dan agama,jangan setengah hati apalagi karena pengen mendapatkan imbalan.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s