Semerdu Senandung Surgawi

“dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (agama) Allah,….” (TQS. Fushilat 33)

Menurut kalian suara siapa yang paling merdu di jagat dunia ini? Mariah Carey? Katon Bagaskara? Siti Nurhaliza? Atau…?
Salah semua! Ternyata suara yang paling merdu bukan milik mereka semua? Bukan pula miliknya Ihsan Idol atau Rini Idol…. yoi mereka boleh saja dapat predikat juara kontes menyanyi paling bergengsi di Indonesia itu… tapi itu kan hasil polling sms! Ingat, polling sms bisa menipu. Bukan pula suara paling merdu miliknya Bang Haji Rhoma Irama (sejenak di ujung sana para ABRI alias Anak Buah Rhoma Irama tertunduk sedih…). Bukan!!
Lalu siapa yang paling merdu?!
Lha kan jawabannya sudah dibocorkan di awal pembicaraan kita…. Biar afdhal mari kita simak sekali lagi ayat Fushilat 33 barusan…
“dan siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada (agama) Allah,….”

Nah, jadi sudah jelas kan. Ternyata yang beruntung dapat anugerah penghargaan suara terbaik dan termerdu di dunia adalah Sang Penyeru kepada agama Allah… alias da’i alias…. para pendekar dakwah!
Jadi berbanggalah kalian wahai para pendekar dakwah! Karena suara kalian dihargai begitu tinggi!
Hmm…

Tertunduklah para Idol… lantas termangulah Bang Haji Rhoma….. Melirik sayu mata Michael Jackson dan Mariah Carey…. Mereka serempak cemburu…. Aduhai! sebegitu merdukah suara para da’i hingga dihargai teramat tinggi!?
Jangan protes! secempreng-cemprengnya dan sefales-falesnya suara mereka, pokoknya merekalah pemilik suara paling merdu! Titik! (Maksa yah…) Ini bukan dari polling sms atau penilaian dewan juri. Polling sms sering mengelabui, telinga dewan juri bisa tersalah. Namun kata-kata penilaian dari Allah tak pernah luput! Mahabenar Ilahi. Sungguh bagi Dia ternyata kemerduan suara bukan dinilai berdasar subjektivitas alunan yang melenakan, bukan dari paduan nada yang mendayu, apalagi dari akumulasi sms yang masuk. Mahasuci Allah dalam menilai perbuatan hamba-Nya…. Bagi-Nya suara-suara cempreng dan serak yang menyeru manusia kepada Syariat-Nya ribuan kali bahkan jutaan kali lebih berharga dari suara semerdu apapun yang mana tujuannya hanya sekedar melenakan manusia bahkan melalaikan mereka dari pensucian-Nya.

Bahkan mereka, tambah Imam Hasan al-Bashri ketika mengomentari ayat tadi, adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah. Mereka adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah karena dakwah yang diserukannya.
Menggadaikan suara… mendapat Cinta!
Haa… harga yang teramat menggiurkan! sungguh berbahagialah… karena ini merupakan perniagaan yang sangat menguntungkan. Bahkan siksaan macam apapun tak akan mampu membatalkan perniagaan itu.

Hingga Bilal bin Rabbah tak patah semangat meneriakkan alunan Ahad…. Ahad… nya.
Dan Abdullah bin Mas’ud, si kerempeng, bahagia dengan seruan tauhidnya… walau pada akhirnya harus rela digelitik oleh keroyokan pukulan kaum kafir Quraisy. Gelitikan itu pula yang membuat Abu Dzar, si orang asing, bangkit lagi untuk ke sekian kalinya setelah pingsan akibat keroyokan setelah seruan dakwahnya. Yoi, sobat! Hanya gelitikan! Karena bagi para pendekar yang telah tergembleng dalam padepokan ini…. siksaan apapun tak mempan… terlalu remeh dibandingkan janji ganjaran dari Allah yang begitu berharga.

Sehingga tak akan dijual satu huruf pun untuk kemunkaran dan kefasikan…. ”Diri saya telah dibeli!” begitu tegas buya HAMKA ketika beliau diancam akibat fatwanya yang dinilai bertentangan dengan kemauan pemerintah saat itu…. Ya… suara para pendekar dakwah tak akan pernah bisa kalian beli…. dengan harga setinggi apapun! Karena harga tawaran tertinggi telah diletakkan oleh Allah!

Jadi saksikanlah suara-suara itu semakin menggema….! suara yang memekakkan dan begitu buruk di telinga para pendosa. Tidak! Bukan suaranya yang jelek, namun telinga merekalah yang penuh kotoran sehingga tak pernah bisa membedakan harmoni yang indah dan yang bukan.

Maka para pendekar! Ikatkan sabukmu dan lantangkanlah seruan!
Kumandangkan dengan dahsyat kebenaran….
Hingga bahananya membelah angkasa….. hingga nada-nadanya menembus tabir angkara murka….
Atau berbisiklah…. bahkan bisikan amar ma’ruf kalian layaknya alunan musik….
Bukan musik biasa… namun alunan musik…. senandung para ahli surga…..

6 Komentar

  1. wah….ini tulisan yang berat untuk ditanggapi
    apakah anda sekarang ini sedang berbisik?
    ataukah anda sedang berkumandang?
    bisakah rhoma irama berkumandang menggunakan syair cinta?
    berbisik atau berteriakkkah buya hamka dengan karya sastranya?

    • saya sedang mengetik di depan komputer ka ahim…….

  2. Emmmm…….dan “suara itu” pazti akan lebih indah jika dkumandangkan bersama sama, ya toh?

    • iyyaaaaa

  3. ka’, ulun umpat copas la,, lagi nyari-nyari artikel gsan dimuat ni,,ok la kalo begintu?..

  4. boleh dong nyontek, bagus banget mas koas….(koas mana ya?)


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s