MANOHARA, DI PERBATASAN AMBALAT

30 Juni 2009, sebuah drama pembebasan layaknya di film-film Hollywood. Seorang Manohara Odelia Pinot, putri yang tersandera di sangkar emas Pangeran Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra. Setelah berbulan-bulan menderita tekanan fisik, psikis dan seksual dari Putra mahkota kerajaan Kelantan itu, akhirnya sang putri menemukan kesempatan untuk melarikan diri. Cerdik, saat bertandang di hotel Royal Palace Singapura, drama itu pun terjadi. Sang putri menekan tombol alarm lift lantai 3 berulang kali dan ini memicu keributan di hotel. Sang ibu, Daisy Fajarina, yang juga bersiap di hotel itu segera bertindak. Dibantu oleh Kepolisian Singapura Kedubes RI di Singapura, Kedubes Malaysia, dan 2 Anggota FBI akhirnya drama pembebasan Manohara pun berakhir dengan happy ending. Si putri bebas! Buah peluh perjuangan Daisy pun terpetik sudah. Tak sia-sia upaya keras yang ditempuhnya selama ini.

Selesaikah drama Manohara? Ah, sepertinya tidak. Setidaknya di pelbagai media dalam minggu-minggu ke depan masih akan bertabur bahasan tentang putri mantan model majalah ini. Tentang kesaksian siksaan-siksaan yang didapatnya, tentang suntikan hormon penggemuk badan untuk kamuflase tentang dirinya, tentang proses visum yang akan dijalaninya, tentang gugatan cerai yang akan dilakukannya, tentang tantangan balik dari pihak kerajaan Kelantan, tentunya lengkap dengan bumbu-bumbunya, tergantung media mana yang membahasnya… bila yang membahas semacam liputan 6 atau apa kabar Indonesia, pakar politik dan hukum akan nimbrung di sana, sebaliknya bila yang mengangkatnya adalah tayangan macam cek dan ricek atau silet, maka tak afdhal bila tak ada opini para artis. Hmfhh..

Berbarengan dengan Manohara, isu yang juga tengah mencuat kembali adalah masalah perbatasan Ambalat. Kembali, ditengarai pihak Malaysia lagi-lagi melanggar perbatasan Ambalat. Masalah yang sempat mencuat di medio 2005 lalu menghangat kembali. Blok laut seluas 15.235 kilometer persegi yang terletak di Selat Makassar ini memang sejak lama memicu konfrontasi kedua Negara tetangga itu. Perundingan demi perundingan seperti tak membuahkan hasil. Kini Ambalat, berbarengan dengan drama Manohara kembali memanaskan konfrontasi lama antara kedua pihak negara.

Kalau dirunut-dirunut ke belakang, dua negri rumpun melayu ini memang sudah terbiasa terlibat pertikaian.
Simak saja misalnya pada tahun 1963, dimana terjadi sengketa akibat keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei Darussalam, Sabah, dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu.

Lama berselang, konfrontasi mencuat kembali tahun 2002, muasalnya adalah pengakuan Malaysia terhadap kepulauan Sipadan dan Ligitan yang menurut Indonesia masih berada di teritorial Indonesia.
Tak lama berselang, tahun 2005, giliran kepemilikan blok Ambalat yang dipersoalkan. Saat itu istilah Ganyang Malaysia kembali ramai dijadikan slogan oleh beberapa oknum yang mengaku nasionalis sejati. Tak henti di masalah teritori, tahun 2007 masalah budaya jadi behan pertengkaran. Berawal dari ulah Departemen Pariwisata Malaysia yang mempromosikan pariwisata negaranya dengan menggunakan lagu Rasa Sayange. Padahal sudah lazim diketahui, bahwa lagu ini aslinya dari Maluku, daerah milik Indonesia, menyusul kemudian pengklaiman yang serupa terhadap kesenian Reog Ponorogo dan Batik. Ini belum lagi dengan permasalahan penyiksaan banyak TKW asal Indonesia yang selalu saja terjadi.

Maka Manohara dan Ambalat bisa jadi menjadi momen puncak kekesalan Indonesia terhadap arogansi Malaysia. Warga-warga yang merasa diri nasionalis pun terbangkitkan amarahnya.

Saya merasa tergelitik untuk ikut nimbrung bicara masalah ini. Bukan, bukan karena sedang ikut-ikutan trend media. Ada hal lain yang membuat saya merasa harus turut membicarakannya.

Di beberapa forum saya sering menanyakan begini: menurut kalian apa alasannya kenapa kita tergabung dalam bangsa Indonesia, orang Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Bali, Maluku, Sulewisi, dan Papua. Padahal dari alasan rumpun antara Sumatra, dan Papua sebagai contoh sungguh berbeda. Juga dari budaya dan bahasa sangat berbeda.

Dan kenapa yang jelas-jelas satu rumpun, mirip budaya dan bahasanya seperti Malaysia malah tidak dianggap sebagai satu bangsa?

Ada audiens yang menjawab karena alasan sejarah Nusantara dulu….. diambil dari kejayaan Majapahit dan Sriwijaya yang menyatukan kepulauan Nusantara.

Salah! Tolak saya, kalau mengikut Majapahit, orang-orang semenanjung Malaya semestinya bagian dari bangsa kita dong? Papua malah tidak masuk.
Kesamaan bahasa… justru seharusnya orang Sumatera jadi bagian dari bangsa Malaysia bila demikian….

Jadi atas alasan apa, sebagian menjadi bangsa Indonesia, sebagian lagi menjadi bangsa Malaysia?
’Alasannya, karena kita dijajah oleh Belanda makanya kita menjadi bangsa Indonesia, sedangkan orang-orang semenanjung Malaya dan utara Kalimantan dijajah oleh Inggris makanya mereka menjadi bangsa Malaysia.’ pungkas saya.

Lucu ya…. mau-maunya diikat rasa kebangsaannya dengan alasan yang demikian. Padahal, kalau hitung-hitungan dekat-dekatan kerabat, orang Sumatera lebih dekat dengan orang Malaysia dibandingkan dengan orang Maluku atau orang Papua…. tapi mengapa orang Sumatera menjadi saudara sebangsanya orang Papua, sedangkan dengan orang semenanjung Malaya bukan dianggap sebagai saudara sebangsa.
Nah, itu dia…. dari dulu saya juga tak habis pikir.

Sehingga untuk menanggapi masalah-masalah seperti di atas… saya sering mengajak agar membicarakannya dalam lingkup bukan sebagai masalah antar kedua negara. Mari kita abaikan bahwa kita adalah bangsa Indonesia dan mereka adalah bangsa Malaysia.

Masalah Manohara misalnya, saya sangat tidak setuju dengan perlakuan kekerasan dari sang Pangeran Kelantan itu. Namun tentunya sangat berlebihan bila gara-gara itu saya jadi membenci Malaysia.
”Tapi, lihatlah para pejabat Malaysia seakan tidak peduli dengan masalah tersebut? ”
Oh, kalau begitu yang disalahkan adalah pejabat Malaysia bersangkutan… bukan Malaysianya. Lagipula di Indonesia, para pejabatnya juga seringkali sama tidak pedulinya dengan masalah-masalah seperti itu, bahkan yang lebih parah dan menimpa komunitas besar, seperti tragedi Lapindo misalnya, mana bentuk kepedulian mereka?…. sekali masalah Manohara kok jadi dianggap besar begitu yah?

Masalah TKW yang disiksa? Yap, jelas ini kejahatan dan saya mengecamnya… tapi tidak serta merta membuat saya harus membenci Malaysia….. yang harus ditindak adalah oknum yang melakukan penyiksaan dan para pejabat yang bertanggungjawab. Jadi tak perlu sampai Ganyang Malaysia segala…

Lalu Ambalat…… rebutan daerah seperti itu sama sekali tidak menguntungkan warga kedua negara. Yang diuntungkan mah para pengusaha yang nantinya akan mengelola tambang minyak di sana. Kita? Ikut ribut? Ngapain?

Masalah lagu rasa sayange? Nah…. ini lagi…. kenapa juga bertengkar masalah-masalah seperti itu…. saling aku mengaku hak atas keaslian budaya. Toh, kenyataannya Indonesia sendiri banyak mengimpor budaya dari negara luar. Apa yakin anda kalau batik asli dari Indonesia? Reog asli Jawa? Madihin asli Banjar? Siapa tahu itu dari negara lain pada asalnya…. Masalah lagu..? bukannya kita juga banyak mengimpor dari negra lain. Pop, Dangdut, Keroncong, Rock … bukannya itu musik jiplakan dari negara lain…. Toh negara lain itu tidak mencak-mencak….
Jadi sudahlah……

”Ah, anda ini sungguh tidak nasionalis!!” tuding seseorang.
Memang…. saya memang tidak nasionalis. Kenapa? Karena menjadi nasionalis berarti masuk dalam kriteria Ashabiyyah….

Dan menurut Rasulullah, laysa minna…. man da’a ila ashabiyyah, man qatala ila ashabiyyah, wa man maata fii ashabiyyah…..
Bukan dari golongan kami, yang menyeru kepada ashabiyyah, yang berperang karena ashabiyyah dan yang mati karena ashabiyyah.

Sekian.

1 Komentar

  1. hebat tu manohara, belum seminggu aj tu perempuan dah terkenal banget.
    tiap hari di tv, di acara gosip atau berita pun muncul terus.
    bahkan bisa dikatakan berita Pilpres kalah rating dengan berita Manohara.
    Salut ma ibu Deasy yang menpublikasikan anaknya, semoga bermanfaat.
    http://sosialnet.blogspot.com/
    http://statcivil.blogspot.com/


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s