PERGINYA SEORANG PENGGANTI

Apabila waktu zuhur tiba.. sosok laki-laki usia 60 ini akan bergegas menuju masjid asy syifa, beliau pemenang pertama yang lebih dulu sampai…. beliau sang muadzzin, beliau pula sang imam…. Nama beliau: pa Masturi, perawat senior di poli kulit kelamin.
Dan apabila hari Jum’at tiba…. sosok baya ini pulalah yang hadir dengan senyum sumringahnya terlebih dahulu di sana… senyum mengembang seolah ini sebagai sebuah ekstase terpenting dalam kehidupannya. Jam dua belas tiba, beliau akan memandangi saf-saf yang berjejer di belakang.
Jam dua belas lewat sepuluh, beliau akan mencari-cari sang muadzin yang sedianya bertugas pada hari itu… tarik nafas lega, ketika yang dicari datang menyalami beliau…
jam dua belas lewat lima belas, beliau akan membuka catatan di kertasnya, mengkaji ulang bahan yang akan dibacakan… pengumuman kas masjid…
Jam dua belas lewat dua puluh… beliau meraih mikrofonnya….
“assalamua’alaikum wr wb…… kami himbau jamaah masjid asysyifa yang masih berada di saf paling belakang untuk mengisi shaf yang paling depan bla bla bla… bersama ini kami sampaikan beberapa buah pengumuman…. pengumuman pertama.. kas masjid minggu ini … penerimaan infak jum’at bla bla bla….
pengumuman kedua.. yang akan bertindak sebagai khatib pada hari ini insya Allah adalah almukarram…. (beliau akan menyebutkan nama lengkapnya plus seluruh titelnya)..”
beliau pun duduk kembali…
Jam dua belas lewat dua puluh lima, beliau mulai resah…. beliau akan celingak-celinguk mencari-cari sang khatib yang tak kunjung datang… sambil menghibur diri, beliau akan berbincang dengan jamaah yang duduk paling dekat dengan beliau… “Insya Allah, kalau ustadz yang satu ini biasanya datang saja…”
Jam dua belas lewat dua puluh delapan…. beliau semakin resah…. mata beliau akan menatap sayup kosong….
Jam dua belas lewat dua puluh sembilan…. beliau menuju ke dua pintu yang terletak di kiri kanan mimbar…. harap-harap cemas…… kemana sang khatib?
Jam dua belas lewat tiga puluh beliau akan menarik nafas panjang…. beliau meraih mikrofon dan tongkat khatib…. perlahan tapi pasti beliau menaiki mimbar….
“Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…”
Adzan jum’at membahana….. jum’at kali ini kembali terselematkan…..

Dan hampir setengah dari perjalanan jum’atan di masjid asySyifa ini akan melewati episode yang berulang seperti itu….. Sang khatib seringkali ingkar janji…. namun sosok tua ini tak pernah mengabsenkan tubuhnya barang sedetik pun… sang pemain cadangan tanpa teks…. yang siap di segala kondisi.

Hingga akhirnya pada jum’at 26 Juni kemarin….
“Hari ini jum’atku terakhir di masjid asySyifa… nak.. ” bisik beliau kepadaku pelan di sela-sela menunggu jum’atan…..
“Ah…. terus siapa yang bakal menggantikan khatib-khatib yang berhalangan nantinya Pak? masa ulun?” ucapku bercanda.
Beliau hanya tertawa renyah….
“… Sudah pensiun…. kayaknya lebih enak di kampung….” ucap beliau lirih….
Senyap.

(Tak lama kemudian, layaknya kaset yang diputar ulang, putaran waktu itu….
hingga….

Jam dua belas lewat dua puluh lima, beliau mulai resah…. beliau celingak-celinguk mencari-cari sang khatib yang tak kunjung datang… sambil menghibur diri, beliau berbincang dengan saya… “Insya Allah, kalau ustadz yang satu ini biasanya datang saja…”
Jam dua belas lewat dua puluh delapan…. beliau semakin resah…. mata beliau menatap sayup kosong….
Jam dua belas lewat dua puluh sembilan…. beliau menuju ke dua pintu yang terletak di kiri kanan mimbar…. harap-harap cemas…… kemana sang khatib?
Jam dua belas lewat tiga puluh beliau menarik nafas panjang…. beliau meraih mikrofon dan tongkat khatib…. perlahan tapi pasti beliau menaiki mimbar….
“Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…”)

7 Komentar

  1. hmm, ustadz, buka blog kolektif kami.

    mafahimcenter.wordpress.com

  2. Assalamu’alaikum.wr.wb
    Apakah benar anda adalah Dokter muda Fauzan Muttaqien yang tugas di RSUD Banjarbaru? Jika benar apakah dokter masih ingat dengan pasien ny. US yang rawat inap di kamar bersalin Merpati VIP1? Saya adalah anaknya.
    Sebenarnya saya agak kaget saat membaca nama di pakaian dokter. Nama yang familiar di benak saya. Saya jadi menduga apakah benar dokter adalah Doktermudaliar ini. Jujur saya sudah khatam membaca tulisan dokter. Semuanya saya suka dan banyak yang saya ambil hikmah dan pelajaran dari blog ini. Tapi, saya belum mengenal orangnya. Saya jadi surprise karena anda adalah salah satu dari dokter yang menangani mamah. Tapi, saat itu saya kurang yakin apakah itu adalah dokter atau bukan. Dokter cukup jelas mendiskripsikan perangai dan perawakan dokter di blog ini. Tentu saja saya jadi meragukan dengan apa yang saya lihat karena sungguh berbeda dengan yang saya bayangkan. Hehe
    Sosok dokter yang kalem dan bersahaja sangat kontras apabila saya mengimajinasikan anda sesuai dengan pendiskripsian dari blog ini. Sebenarnya saya cukup mengenal dokter karena teman sekolah saya yang juga akhwat HTI pernah jadi peserta di acara yang saat itu dokter jadi mentornya. Dari dia dan dari blog inilah saya jadi termotivasi untuk terjun ke medan dakwah dan tholibul ilmi. Alhamdulillah sudah 1 bulan ini saya ikut halaqah di HTI. Mengingat masa lalu memang seperti kembali ke zaman jahiliyah. Saya yang dulu memang masih dudul banget. Hehe
    Saya memang tidak punya kemampuan tapi saya memiliki kemauan untuk memberikan kontribusi dalam dakwah ini.
    Terimakasih karena secara tidak langsung sudah memotivasi saya.

    • waalaikum salam wr wb. yap… betul….. memang itu saya mbak…. kalem dan bersahaja? wah….. berlebihaaaannn….. memang bayangan sebelumnya gimana? tampang kayak preman?
      alhamdulillah kalau dari blog ini berkontribusi buat perubahan…. semoga tetap istiqomah ngaji dan dakwahnya…. dan salam buat ibu utami sahara… moga beliau senantiasa sehat wal afiyat…. jaga asmanya jangan sampai kambuh…….

      • Tampang kayak preman?
        Tidak mungkin saya membayangkan seperti itu.
        Otak saya cukup waras untuk mengimajinasikan yang lebih masuk akal.
        Ingatan itu tidak perlu disinggung lagi, takut malah jadi fitnah.
        hehe
        Insya allah saya tetap istiqomah dan berusaha untuk ikhlas mencintai allah dan rasulullah yang saya aplikasikan dalam kehidupan saya.
        Saya minta doanya semoga mamah diberikan ketabahan dalam mengahadapi cobaan ini. Bagaimanapun allah memberikan cobaan sekaligus dengan jalan keluarnya dan kami sekeluarga dapat lulus dari ujuian ini. Amien . . .

      • insya Allah… Amiin. kebetulan di Ulin kemarin saya ketemu sama ibu lagi. rencana kemoterapi…. semoga diberi kesabaran menjalani kemoterapi.

  3. wah…berjiwa pmberani n bertanggung jwb beliau…

  4. luarr biaassa


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s