MEMBANGUNKAN SANG PENDEKAR

Izinkan saya mengutip sebuah ayat AlQur’an, firman Allah yang diabadikan dalam torehan AlBaqarah ayat 85:
“….Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”

Selanjutnya sejenak kita kembali menyimak perkataan Allah di Ali Imran 110, sebagaimana sudah diungkapkan di awal-awal:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Pengkeroposan Aqidah, pencaci-makian terhadap Rasulullah, pelecehan terhadap kitabullah, serta penghinaan yang sedemikian rupa terhadap Islam menyiratkan kelemahan, bahkan lebih tepatnya adalah kelumpuhan dari umat ini. Kemiskinan, keterbelakangan dalam sains teknologi juga merupakan indikasi kuat bahwa yang namanya umat Islam saat ini tidak ada apa-apanya dan tidak memiliki kekuatan di panggung dunia. Kemudian dengan pongahnya musuh-musuh Islam menjajahi negeri-negeri kaum muslimin, memporakporandakan tempat-tempat ibadah mereka, serta melucuti kehormatan wanita-wanita mereka… ini adalah kenyataan yang begitu mengenaskan. Dan semakin lengkaplah penderitaan ketika kita menyaksikan bahwa setelah membludaknya masalah di atas, kita harus pula menerima kenyataan bahwa kehidupan moral anak-anak muslim ini telah betul-betul tercerabut. Kemaksiatan, pornografi-pornoaksi, kriminalitas yang menjadi adalah tontonan sehari-hari.
Ada dua gelar yang nampaknya saling kontradiktif, Di AlBaqarah 85. Allah menyebutkan umatnya sebagai umat yang “khizyun” atau umat yang terhina. Berbeda dengan di AliImran 110, dimana Allah berkenan menyebutkan sebagai “Khairu ummah” alias umat yang terbaik. AsbabunNuzul AlBaqarah ayat 85 memang pada awalnya adalah sebuah teguran keras dari Allah kepada Umat Yahudi yang dinilai mempermainkan ayat Allah, beriman kepada sebagian ayat, namun kufur terhadap sebagian ayat yang lain. Namun, sesungguhnya ayat tersebut juga berlaku bagi umat muslim. Karena tidaklah AlQur’an diturunkan selain sebagai ‘ibrah. Nah, yang membuat hati saya bergidik adalah jangan-jangan predikat “khizyun” itu kini benar-benar sedang dilekatkan Allah kepada umat Muslim?!
Dan bisa jadi. Karena pada kenyataannya umat ini telah memenuhi ‘syarat’ yang ditetapkan di awal ayat,
“….kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain…”
Allah, Ya Kariim. Jika memang benar begitu maka sesungguhnya inilah jawaban sesungguhnya dari semua musibah yang menimpa umat ini. Semata karena umat ini telah melalaikan ayat-ayat Allah…..
Tidak perlulah kita bersusah payah mengadakan debat, mengadakan berbagai sidang, atau dengar pendapat, atau apalah namanya untuk membahas mengapa dan bagaimana masalah umat yang demikian pelik ini bisa terjadi? Tak perlu pula begadang bermalam suntuk guna menemukan solusi dari segenap persoalan….
Semata, sekali lagi karena persoalan sudah terlampau jelas, dan solusi sudah demikian nyata. Semua masalah berpangkal dari keingkaran kepada Allah, dan solusi paling praktis dan cerdas adalah mengeliminasi keingkaran itu, substitusikan dengan ketakwaan dalam segenap aspek kehidupan. Ketakwaan yang bukan sekedar kata lisan, namun ujud perbuatan. Ketakwaan yang bukan hanya dari individu-individu, namun ketakwaan dalam komunitas umat.
Karena ketakwaaan adalah kekuatan yang terlampau dahsyat!
Nah, bila kebangkitan adalah cita-cita, maka ketakwaan adalah prasyarat utama. Sedangkan dalam merubah dari keingkaran umat menuju ketakwaan, maka diperlukan sebuah jembatan untuk menyeberangi dua jurang yang terpisah tadi. Jembatan tadi adalah DAKWAH!
Yap, problematika yang begitu membuncah ini hanya akan teratasi dengan langkah perubahan nyata. Dan langkah itu adalah Dakwah!
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar… itulah dakwah. Dan dakwah inilah jalan kebangkitan yang hakiki, yang bakal membawa perubahan besar dari kehinaan menuju kemuliaan. Dari ”khizyun” menuju ”khairu ummah”
Dakwah ini adalah jalannya para nabi. Dimana jejaknya telah tertapakkan semenjak kurunnya Adam ’Alaihissalam hingga beribu tahun kemudian ditancapkan oleh Baginda Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Nabi penghujung zaman. Namun bukan berarti jejak-jejak itu telah berhenti sepeninggalnya. Bahkan, jejak itu akan terus berlanjut hingga sangkakala dari Israfil bergemuruh.
Dan semenjak lama, jejak-jejak yang tak pernah berhenti tadi telah membawa perubahan-perubahan. Dakwah adalah angin surga, yang dengannya dunia sejahtera dan terselamatkan. Hanya dengan keberadaan dakwahlah kelestarian dunia masih bisa dinikmati.
Dan dimanakah kini kita akan menemui jejak-jejak itu? Tidak, jangan bermimpi menemui jejak itu dalam hiruk pikuk wangi dunia, atau dalam taman-taman yang rindang. Namun, temuilah dia dalam semak belukar penuh duri, atau di padang pasir tandus yang membakar telapak kaki. Akan tetapi, ketika jejak itu telah melangkahi, maka yang tertinggal adalah wangi, padang tandus menjadi sungai susu, semak berduri menjadi taman bunga.
Dan tidak usah terbelalak dan bersedih ketika melihat jejak-jejak itu jumlahnya tidak seberapa, hanya segelintir. Karena memang hanya ksatria yang berani menjalaninya, hanya mental-mental pendekar yang tahan berjalan di jalannya. Betapa kita lihat lebih banyak jejak-jejak yang tertinggal berguguran, karena tidak tahan akan tajamnya duri dan hempasan gelombang. Hanya para pendekar yang bertahan….
Namun inilah jalan sejati, jejak-jejak yang ada padanya akan tetap abadi.

Saya bukanlah seorang manusia yang luput dari dosa, bukan pula orang yang pantas mendapat gelar ksatria sejati. Namun dengan barakah buku ini saya memancangkan tekad untuk mengabdikan diri di jalan sepi ini. Dan dengannya pula saya teriakkan lantang ke lembah-lembah dan pegunungan dimana para pendekar sedang tertidur pulas. Bahwa masa ini bukan masanya hibernasi. Ini adalah saat-saat dimana bola mata harus tetap terjaga. Saya menyerukan dari padang sunyi ini, bahwa tidak sepantasnya para pendekar umat saling baku hantam atau tetap berasikmasyuk di taman dunia. Waktu berleha-leha sudah usai, ini saatnya berlari.
Maka bangunlah wahai para pendekar. Bangkit dan melangkah memenuhi jejak-jejak tadi….
Dan membahanalah angkasa dengan takbir
Dan sirnalah polusi dunia dengan tasbih dan tahmid
Dan terpancanglah panji-panji tauhid
Dan terbenamlah bangunan kekufuran
Dan terbitlah fajar kebangkitan….

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s