SOLUSI KONKRIT PERMASALAHAN PENGKLAIMAN TARI PENDET OLEH MALAYSIA

Ribut lagi…. Cuma masalah remeh seperti tari pendet saja ributnya minta ampun. Terus belakangan mencuat pula isu bahwa lagu-lagu kebangsaan Malaysia ternyata mencontek dari lagu-lagunya Indonesia. Lagi-lagi saling klaim. Seperti tak ada habisnya, menambah rentetan panjang, mulai dari reog ponorogo, batik, dan lain-lain.
Emosi warga Indonesia semakin terkipasi. Belum lagi masalah lainnya seperti sengketa Manohara yang belum selesai-selesai, konflik perbatasan, masalah penyiksaan TKW….. dan uniknya Indonesia hampir selalu menjadi objek penderita. Layaknya seorang adik yang selalu dijahili kakaknya… sang adik hanya bisa nangis, tak bisa berbuat apa-apa.
Hmmm….

”Nah, pendapat ente bagaimana bang?” suatu ketika sobat saya menanyakan hal itu.
Ehem, dengan menutupi rasa girang saya berusaha menjawab. Sudah lama saya tidak berdiskusi masalah-masalah sosial politik. Sepuluh minggu stase kebidanan telah memenjarakan saya dari ranah dunia luar. Banyak perkembangan dunia yang terlambat saya ketahui. Ke internet pun sangat jarang sekali bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah. Sehari-hari berkutatnya hanya di masalah partus, sectio, preeklampsi, follow up, visite, huffff……..
Maka pertanyaan di atas seakan membuka kunci sel penjara yang membatasi saya dari dunia luar. Seakan injeksi yang mengembangkan pori-pori otak saya yang sempat atrofi.

”Jadi bagaimana?” desak sobat saya tadi….

Hmm… Saya kok memandangnya malah rakyat Indonesia ini yang terlalu lebay….
Masalah seni dan budaya itu kan adalah sesuatu yang abstrak, yang sebenarnya tidak terlalu masalah bila ada yang mencontek atau mengakuinya. Apakah Indonesia dirugikan hanya karena sebuah production house negara lain menampilkan salah satu kesenian milik Indonesia. Lagi pula dalam iklan tersebut juga tidak ada pengklaiman? Tidak ada bilang yang ini asli milik Malaysia, bukan milik Indonesia. Bahkan, kalau toh diklaim pun apa ruginya?
Sama halnya begini, kita dalam banyak video klip, film-film Indonesia banyak menampilkan adegan berdansa, disko, mabuk-mabukan, dll yang notabene budaya barat…. toh kita tidak merasa bersalah, dan barat pun tidak lantas mencaci Indonesia kan?

Lalu memangnya ada budaya yang benar-benar asli milik suatu daerah? Siapa yang bisa menjamin tari pendet asli bikinan orang Bali? Atau gamelan asli bikinan orang jawa? Siapa tahu dulunya juga meniru kebudayaan asing? Siapa yang menjamin tari reog tidak meniru tarian lain? Semua serba mungkin. Karena seni budaya adalah hasil akulturasi dan asimilasi. Banyak budaya Indonesia yang dipengaruhi oleh budaya bangsa lain yang masuk dulu. Bisa saja sebuah tarian itu aslinya dibawa dari India, kemudian dimodifikasi oleh orang Indonesia. Yang dari India itupun belum tentu asli punyanya India. Bisa saja sebelumnya hasil meniru kebudayaan orang-orang Arab. Arab mencontek punyanya orang Afrika. Nah, apakah rakyat Afrika mesti marah ketika tariannya dicontek kemana-mana? Kalau saya jadi orang Afrika sih malah bangga. Hasil kreativitas saya menyebar kemana-mana…..
Lalu masalah lagu kebangsaan yang dicontek dari Indonesia?? Yaa juga nggak masalah…. sekali lagi seharusnya reaksinya malah bangga…. bukan malah mencak-mencak. Bagus toh, kalau karya kita menginspirasi orang lain?
Lagipula memangnya kita juga tak biasa mencontek..? toh ST12 sekarang menyanyikan ulang lagu Isabella yang aslinya dari Malaysia. Lama kelamaan rakyat Indonesia akan mengklaim lagu Isabella itu adalah asli lagunya Indonesia…. hahaha…. apakah rakyat Malaysia harus marah?

”Ente selalu menganggap masalah itu sederhana, ini sebenarnya masalah harga diri, masalah kedaulatan Bangsa yang dicabik-cabik! Lalu bagaimana coba dengan masalah Manohara, masalah penyiksaan TKW, masalah perbatasan Ambalat…… apa itu juga nggak masalah?”
Lho, janjinya kan bicara masalah seni budaya saja….. kalau masalah itu sih lain urusan….. tapi tetap tak usah dilebay-lebaykan..
Masalah Manohara…. selesaikan saja itu di ranah antar keluarga. Itu kan kasus KDRT, ya selesaikan sebagai kasus KDRT. Tak perlu merembet jadi cekcok antar negara. Toh Manohara juga sekarang diuntungkan jadi mendadak artis gara-gara kasus itu.
Masalah TKW adalah masalah kriminal dan ketidakberesan pengurusan ketenagakerjaan…. selesaikan secara bilateral secara serius, tapi nggak usah sampai perang juga antar kedua negara.
Masalah Ambalat….. memang apa untungnya buat kita? Minyak disana? Yang ngambil nanti perusahaan swasta asing juga kan?

”Tuh kan? Ente selalu menganggap sederhana….. toh ente juga tak ngasih solusi yang jelas… Ente cuma sekedar menyederhanakan masalah…”

Lho, siapa bilang saya tak punya solusi. Solusi saya konkrit dan jelas malah….

”Apa?”

Yaaa… daripada terus-terusan saling cekcok …klaim masalah seni budaya, ribut masalah perbatasan…. mending kedua negara besar ini bergabung saja jadi satu negara…. toh kita serumpun, sebudaya, berdekatan, bahasa hampir mirip…. ngapain berpisah. Bersama kita kan jadi lebih perkasa…. terserah nantinya namanya apa… Malayindo, Indonemalaye……

Atau Daulah Khilafah Islamiyah Indonemalaye aja…… terus kita ngajak lagi negeri-negeri berdekatan untuk bergabung rame-rame…. wuihh…. terbayang nggak betapa dahsyatnya jadinya???? Hehehe…..

21 Komentar

  1. Pertanyaan Orang bodoh berotak dangakl seperti ini contohnya

    “Siapa yang bisa menjamin tari pendet asli bikinan orang Bali? Atau gamelan asli bikinan orang jawa? Siapa tahu dulunya juga meniru kebudayaan asing? Siapa yang menjamin tari reog tidak meniru tarian lain?”

    Anak TK di kasih pertanyaan di atas , jawabannya simple

    “Lah wong adanya cuma di indonesia kok itu tari pendet, gamelan,reog ponorogo,batikdll…dari ratusan negara di dunia gak ada tuh kebudayaan kaya begitu kecuali di Indonesia…dan dari ratusan negara di Dunia cuma Malaysia aja tuh yg sepertinya begitu bernapsu sama kebudayaan Indonesia hihihi

    tp saya setuju pendapat doktermudaliar untuk menjadikan Malaysia sebagai bagian dari Indonesia atau menjadi Provinsi termuda (ke-34) di Indonesia

    • hahaha….. alhamdulillah masih ada yang mengingatkan tentang betapa bodoh dan dangkalnya otak saya…..
      iya sih…… makanya saya perlu terus belajar mas….
      saya belajar masalah itu seikit saja sih mas….. yang saya tahu, budaya itu selalu hasil percampuran…. tak ada yang bisa dikatakan asli…..
      tapi kalaupun pengetahuan saya salah….. saya yakin pernytaan saya agar masalah ini tidak perlu terlampau diributkan tidak salah. ngapain berdebat dengan masalah yang sepele…. Indonesia dan Malaysia satu saudara… tak perlu ribut untuk masalah yang tidak jelas… kita sedang diadu domba aja….

      • Berpikir cerdas tentang setiap hal itu harus. Kalau sekarang kita dihadapkan pada persoalan Indonesia-Malaysia, jangan sampai kita hanya melihat Indonesia dan Malaysia saja. Lihat dunia secara luas. kondisi politik seperti apa. bagaimana dunia politik global itu berpengaruh terhadap Indonesia dan Malaysia. Hubungkan. Lalu analisis. Ada apa di balik setiap kasus antara Indonesia dan Malaysia? jawabannya: ada adu domba. Siapa yang adu domba??? yaaaa…. cari sendiri dong. jempol buat bang fauzan!!!!

    • wah wah, koq jadi merasa rela sih kebudayaan kita di curi negara lain??
      bukannya kita mau meributkan hal yang sepele, but justru dari hal sepele itulah akan berujung pada permasalah yang rumit..
      coba anda bayangkan, kalo saja ibu anda diklaim sebagai suami orang yang menurut anda itu bukan bapak anda??
      apakah anda bakal diam saja??padahal anda juga g tau kan ibu anda yang sekarang itu apa benar2 yang melahirkan anda??(mau tau gmna??lahir aja kalah cpet)
      mungkin anda menganggap itu ibu anda karena anda dirawat oleh beliau, n semua bilang luk itu adalah ibu anda??tapi apa anda tau kenyataannya???

      • baca penjelasan lebih lanjut di postingan berjudul IRONI SENGKETA INDONESIA – MALAYSIA.
        terima kasih atas komentarnya… namun asosiasi ke ibu menurut saya kurang tepat…..
        harap pahami permasalahannya saat ini adalah upaya pemecahbelahan antara saudara kandung bernama Malaysia Indonesia
        semoga Allah mempersatukan hati-hati kita tak lagi tersekat antar batas negara

      • betul, asosiasi ke “ibu” kurang tepat. coba cara berpikirnya lebih tepat lagi. saya sedih mendengar ini semua. Ya Allah, turunkanlah pertolonganmu… segera…

  2. Benar kenapa mesti ribut2,mendingan kt bersama2 belajar bagaimana caranya kita memajukan negara kita,agar tidak tertinggal dg negara2 lain.,

  3. bner-bener,,,
    emm… boleh minta pendapat g ni,,,
    menurut abang apakah kebanyakan rakyat indonesia khususnya masyarakat awam apakah akan emosi mendengar berita2 tentang pengklaiman banyak hal indonesia oleh malaysia?
    kalo misalnya bikin judul Pengaruh Intensitas Menonton Tayangan Berita tentng Pengklaiman Budaya Indonesia oleh Malaysia di Televisi dengan Tingkat Emosional Warga Indonesia Terhadap Malaysia, kira2 gimana tuh?
    tlg balas hari juga kalo sempet,,,
    ke imelku,,,thx

    • kayaknya… terutama yang media minded….. apapun kata media dimakan mentah-mentah. maaf baru bisa online sekarang

  4. aduh bahay juga tuh malaysia kaya penyakit aja, menjalar kesemua aset negara kita ,jngn sampai juga tuh gempa diklaim oleh malaysia klo terjadi kita serbu ……………………………………………………………………………………..uuuuuuuuuuuu,hehehehhehehe,

  5. kalo menurut saya sich,, masalah indo ma malay… sungguh memboosankan… dri dlu g kelar2… mslh satu ajah lom slse eh mslh yg laen dteng lg,,ngpain kita musti pikirin,, pemrintah ajah cuek2 ajah ma masalah ini…
    so,,, biarin ajah… nanti juga malaysianya capek sendiri hehehhe….

  6. nampaknya wawasan kebangsaan indonesia belum benar benar menghujam dalam benak anda, melihat sejarah panjang perjuangan bangsa indonesia hingga saat ini terwujudnya NKRI seharusnya kita bisa lebih menghargai perjuangan mereka terutama dalam mengisi kemerdekaan.Penjajahan kali ini bukan dalam bentuk kontak fisik lagi , penjajahan saat ini sudah dalam bentuk penjajahan modern yang tujuannya menghilangkan jati di suatu bangasa. kita sebagi bangsa indonesia haruslah memiliki idealisme kebangsaan sehingga rasa untuk melindungi bagian dari bangsa indonesia termasuk kebudayayan indonesia sendiri tetap ada. nampaknya anda sudah termakan oleh dampak negaatif dari globalisasi, memang generasi sekarang ini cenderung apatis terhadap budatya bangsa dan lebih suka mengkonsumsi kebudayaan luar dari pada kebudayaan sendiri. masalah pengklaiman kebudayaan memeng perlu di perhatikan karena di takutkan anak cucu kita tak lgi memeiliki kebudayaan sebagai jati diri.

  7. . . . . .Menurut saya solusi untuk masalah ini yaitu;
    1)PERTIMBANGAN UNTUK MENAKAR seperti;adanya prinsip saling menghargai di antara dua negara tersebut,prinsip memberlakUukan persamaan kedudukan dalam hak dan kewajiban masing-masing.
    2)HARUS SADAR CITRA . . . . .
    3)PERLU DI BERI PENDIDIKAN . . . . .
    4)HIDUP ITU TIDAK MUDAH . . . . . . . . .

  8. emangnya hebat sih pemikiranmu…..antara banyak yang saya ketemu, kamu antara kalangan yang pemikirannya terbuka…salam dari saya…anak IAIN SU’09 ,warga Malaysia.

    • salam buat saudara serumpun seaqidah malaysia

      • salam juga buat saudara2 seaqidah di Malaysia. Ayo kita bersatu dalam Islam…jangan lagi terpisah oleh negara2 bangsa…

  9. saudara belum paham arti sebuah budaya.

    • menurut mas taufiq apa yang salah?

  10. Dasar2 gak punya perasaan banget sich, udah tau TARI PENDET punya INDONESIA masih saja m0 diambil2 aja, se’enaknya aja m0 ambi gitu aja. Dasar maling gak punya etika pengambilan punya hak 0rang lain.
    Wes. . . . . . .wes. . . . . . .wes. . . . .
    Wong keake’en dosa sek nambah ae. . . . . . . .??????????????????
    Kurang cukup ta. . . . . . . . . !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Namanya 0rang kayak gitu, ya gak bisa bersyukur kpd ALLAH SWT atas kesehatan yang mereka dapatkan.l

  11. Alhamdulillah….gue gmbra kok…..sya darahnya campur, bpa indonesia, ibu pla malaysia…..kta kna paham kok bkan smua org siftnya baik…mana2 ngara pun ada…makanya kta prlu sling pikir rasional….gak bguskan berantem.:)

  12. tadinya aku g mengerti, kenapa ada orang yang rasanya kurang punya nasionalisme ya? tidak menyukai sistem governisasi yang ada..dan lain2…tapi setelah membaca beberapa buku autobiografi tokoh2 indonesia dan para mantan pemimpin dunia, cieee, kupikir mungkin karena baginya islam adalah dunianya, tanah airnya, Selama itu islam, selama itu negara muslim semua adalah saudara…gak perlu saling menghujat untuk hal2 yang tidak berhubungan dengan prinsip akidah, “we are family” dan dalam family mungkin ada yang kurang2 tapi tetap family kan…maybe like that…mungkin pola pikir yang terbentuk dari masalah apa yang no 1 di dalam hidupmu aja, kalau yang bikin tulisan habibie, soekarno, amien rais, confucius, hitler, kubilai khan mungkin pendapatnya lain lagi, ahahaha #efek membaca opini di siang bolong


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s