SAYA VERSUS INTELEJEN

Seperti biasa, hampir di setiap acara yang diselenggarakan hizb selalu ada intelejen yang memata-matai. Entah kenapa, mereka nggak pernah kapok. Ngapain repot-repot memata-matai aktivitas dakwah saudara sendiri? Data apa memangnya yang diinginkan? Toh semua ide hizb telah diblow up semuanya di media. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Tak perlu repot-repot kirim intel. Kalian bisa melihatnya langsung di berbagai media yang dikeluarkan hizb, entah cetak atau di media maya. Memata-matai apa lagi? Mencoba nyari alasan untuk mengaitkan dengan aktivitas teroris? Sayang sekali… kalian, wahai para intelejen akan pulang dengan tangan hampa….. tak ada bukti yang mengarah ke sana. Hizb berjuang menegakkan khilafah dan syariah tanpa kekerasan. Kami berjuang dengan pertempuran pemikiran! Lalu apalagi yang kalian cari?

Maka wajah sumir itu pula yang nampak beberapa hari kemarin …… pada acara dialog ramadhan yang diselenggarakan di auditorium IAIN. Di tengah ratusan peserta yang khusyu mendengarkan paparan dari pembicara di depan.
Saya, paling hobi duduk di deretan belakang…. mengamati acara dari jauh. Saat itu saya dan kawan saya main tebak-tebakan, kali ini mana dari peserta yang sesungguhnya adalah intelejen yang sedang menyamar? Biasanya tebakan kami benar…. dulu bahkan kami iseng mengabadikan foto-foto mereka.
Mau tahu caranya mengenali intelejen. Di acara hizb, pesertanya biasanya bisa dikenal dari raut wajah mereka. Sebagian adalah tampang-tampang yang sudah familiar, di luar itu biasanya tampang mahasiswa, atau tokoh masyarakat. Raut wajah intelejen biasanya datar, tidak terlalu berminat mengikuti jalannya acara. Badannya tak mungkin kayak saya yang kerempeng, gak mungkin juga gempal. Umur yang diutus biasanya berkisar 20-30an. Mereka hobi duduk di tengah atau di belakang. Mencatat-catat jalannya kegiatan (biasa…. buat laporan ke atasan). Mereka juga biasanya meminta buletin, majalah atau apa saja yang bisa sebagai dokumentasi pelaporan….

Nah, kayaknya dia! Seru saya girang! Sembari menunjuk ke seorang pria yang duduk di belakang sambil sesekali mencatat.
Pria itu sesekali keluar ruangan. Lain waktu dia mengirim sms atau memperhatikan suasana acara.
Saya terus mengamatinya sampai berakhir acara. Di akhir acara, pria berbaju kotak-kotak itu sengaja meminta tabloid media umat yang dibawa-bawa panitia.

“Mas, boleh minta satu?” pintanya.
Saat itu segera saya sergap dia……. dan mulailah aktivitas kontra intelejen saya….. deng deng deng….
”Apa kabar mas?” saya ambil tangannya memaksa dirinya berjabat erat. Sok kenal….
”Ya?” raut mukanya terperanjat….. kesan pertama….. intel yang satu ini masih amatiran!
”Nama mas siapa?” sergap saya menginterogasi…. hebat ya…. biasanya intel yang tukang interogasi. Sekarang terbalik.
”Memangnya kenapa?” tanya dia agak ragu….. lho kok mulai gugup mas? Nggak saya apa-apain kok…… batin saya
”Nggak pa pa….. nama saya Fauzan mas…” jabat tangan saya makin erat.
”Ooh… saya Bobby…” balasnya… kali ini mencoba mulai tersenyum.
”Dari mana mas?” kali ini giliran si intel yang balas interogasi
”O oh…. saya dari….. oh…. anak kuliahan” lha kok saya jadi kumat gugupnya.
“Mas sendiri dari mana?” sergap saya. Skak!! Ayoo, mau bilang dari mana loe? Mau jujur dari kepolisian….?
Hening sejenak. Si Bobby tampak berpikir….
” aaahhh… biasa…. saya diundaaang……” akhirnya, kalimat asal itu yang keluar dari bibirnya…
”Hahaha….” saya tertawa renyah……. dalam hati menertawakan keamatiran si intel…
”Panitia acara?” tanyanya…. model-model interogasi……
”Aaaahh…. biasaaa…..” balas saya menirukan kalimatnya tadi… ”kebetulan lewaaaat!”
Sejenak kami saling tertawa renyah. Menertawakan kebodohan masing-masing.

Hening……
Tak lama, kami pun berpisah…. tak penting meneruskan pembicaraan dengan si Bobby. Intelejen amatiran melawan syabab amatiran….. nggak ada habisnya…. hehehe….

Dan, persis…. seperti yang diungkapkan oleh pembicara di seminar…… Pengaitan terorisme dengan Islam merupakan sesuatu yang memang dibuat-buat. Para kaum kafir dan antek-anteknya selalu berusaha mencari jalan untuk melebarkan pukat harimaunya untuk menghabisi apa yang mereka namakan radikalisme islam. Semua gerakan yang berusaha menegakkan kembali Islam harus dibabat habis….
Saat ini… mereka sedang menjalankan makarnya….. memata-matai, menginfiltrasi, penyesatan opini, stigmatisasi….
Namun tahukah mereka, bahwa sesungguhnya ’makar’ dari Allah jauh lebih dahsyat??!

9 Komentar

  1. wahh,,d bandung kmrn jg ada yg mata-matai gitu juga..
    tp cz acara akhwat smua,,jd gda yg brani nanyain drmn,,mo apa..cz si wartawannya laki2..dia asal foto2 tanpa izin,,gtau jg mo d tulis artikelnya ttg apa..
    huhu..moga bukan hal negatif yg disebar2kan..amin..

  2. Sekali-kali, hizb yg memata-matai kegiatan intelijen..🙂

    • sayangnya,….. berdasarkan hukum syara…. haram hukumnya memata-matai sesama muslim mas….

      • Sayangnya, justeru yg dimata-matai intelijen adalah kaum muslimin…

      • hahaha…… itulah mas…… makanya tak pantas ada saling curiga antar sesama saudara

      • tulisannya bagus-bagus, andai udah punya rezeki, saya pengen undang sampeyan buat ngelatih saya & teman2 menulis, di kalltim.

      • kenapa harus nunggu ada rejeki? emang saya minta bayaran apa buat sekedar sharing ilmu.. hehehe… kapan-kapan kalau ada waktu ya… kita bikin acara yang sederhana aja.. gak usah yang keluar dana…

  3. kalo punya waktu kosong di hari sabtu / ahad pada bulan-bulan april-mei, email saya ya ? jkk.

    • insya Allah.. akhir bulan mei sudah santai


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s