IRONI SENGKETA INDONESIA – MALAYSIA

Tulisan saya sebelumnya yang berjudul solusi konkrit permasalahan pengklaiman tari pendet oleh Malaysia ditanggapi dingin oleh sebagian pihak. Beberapa komentar bernada minor, bahkan ada yang menyebut saya bodoh dan berotak dangkal. Yep, tulisan berikut bukan sebagai pembelaan diri atau pembuncahan emosi. Anggap saja tulisan ini sebagai pelengkap tulisan pertama. Dan walaupun aroma sengketa sudah mulai mendingin, sedikit terhapus gara-gara heboh berita gempa, tak ada salahnya untuk tetap kritis terhadap permasalahan ini.

Ironi Pertama
Akar dari persengketaan Malaysia Indonesia sebenarnya karena kedua negara ini terpisah. Coba kalau kita berada dalam satu bingkai kesatuan negara, mestinya permasalahan seperti pengklaiman budaya-budaya tak akan pernah terjadi.
Pertanyaannya, kok bisa Indonesia dan Malaysia terpisah? Pikiran awam saya tak sampai melogikakan…. kok bisa kita yang suku melayu menjadi satu bangsa dengan orang papua yang dari ras berbeda, tentunya budaya pun berbeda… satu bangsa dengan orang Flores yang juga berbeda jauh akar kesukuan dan budayanya…. tapi kenapa dengan sama-sama orang Melayu di Malaysia dianggap bukan satu bangsa?
Saya mencoba runut jawabannya? Padahal sejak zaman kerajaan Sriwijaya dulu kita dan Malaysia berada dalam bingkai satu bangsa satu negara, diteruskan ke masa Majapahit dan pada awal-awal Kesultanan islam…. lalu faktor apa yang menyebabkan kita terpisah berjalan sendiri-sendiri?
Jawabannya sangat menyakitkan…. kita terpisah menjadi bangsa dan negara yang berbeda hanya gara-gara penjajahan…. daerah semenanjung Malaka dan Kalimantan Utara dijajah Inggris, daerah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulewisi, Papua dijajah Belanda… maka bercerailah kita?
Ironi?

Ironi kedua
Saya blogwalking ke beberapa tulisan orang mengenai sengketa Malaysia Indonesia. Arus utama adalah berupa caci maki kasar…. ada yang menulis Malingsia… bahkan Malingshit!
Saya berulang kali mengatakan apa salahnya mereka meniru budaya kita…. yang kita sendiri juga tidak seratus persen yakin bahwa budaya kita itu asli seratus persen punya kita…. rugikah kita? Kalau pun rugi, serugi apa?
Oke, kalaupun kalian bersikeras itu adalah sebuah pencurian, maka seharusnya kalian lebih meradang lagi terhadap negara-negara seperti Amerika Serikat yang memang tidak mencuri budaya kita, namun lebih dari itu… mereka mencuri sumber daya alam kita…. mereka kuras freeport, mereka habisi kekayaan batubara diangkut ke negara mereka… mereka habisi hutan Indonesia, mereka kuras ladang-ladang minyak… mereka pula yang dengan nama lembaga-lembaga donor bersikap sebagai rentenir menjerat rakyat Indonesia dengan beban bunga hutang yang berlipat. Berkat mereka pula BUMN kemudian dijual satu persatu….. atas jasa mereka pula, hasil akhirnya rakyat Indonesia termiskinkan.
Pertanyaan ironi, lebih parah mana, pencurian budaya oleh Malaysia (kalau tetap dianggap mencuri) atau perampokan harta habis-habisan oleh Amerika?
Nah, mana hujatan maling kalian? Kok kalian tak bersuara dan tak marah?

Ironi Ketiga
Kita menghujat Malaysia sebagai negara pencontek budaya…..
Sekarang mari kita introspeksi sebelum menghujat orang lain…. jangan-jangan kita tak beda jauh dengan mereka.
Memangnya negara ini bukan negara pencontek? Bukankah kita dengan sangat mudah mengeadopsi budaya-budaya orang luar…. budaya diskotik, budaya narkoba, budaya free sex, budaya konsumerisme, budaya hedonis. Apakah itu bukan mencontek?
Terus menghujat orang lain mencontek? Apakah kalian telah bersih dari budaya mencontek. Andai dilakukan survey, berapa banyak dari hasil ujian kalian yang tidak didapatkan dari hasil mencontek?
Ah, jangan menghujat orang lain si pencontek, jangan-jangan (mudah-mudahan jangan) kalau malaysia digelari nera pencontek budaya, kita malah dapat gelar sebaliknya… negara budaya pencontek…..

Ironi Keempat
Marah budaya kita diambil? Memang selama ini kalian berusaha mempertahankan? Toh kalian lebih suka pakai jeans dibandingkan sarung batik. Toh lebih suka jojing ke diskotik semalam suntuk dibandingkan dengan nonton wayang kulit. Lebih hobi main musik rock dibandingkan gamelan….. lebih suka kentucky dan pizza hut dibandingkan rendang. Ketika orang lain berusaha melestarikan, jangan marah lah….

Ironi Kelima
Indonesia dan Malaysia satu agama….. kita sama-sama muslim, tak layak antar muslim bersengketa, apalagi saling ancam….. sungguh tak layak. Hanya gara-gara hal sepele, kita membenci saudara kita….. kebencian kita seharusnya terarah kepada para penjajah yang telah memecah belah kita, menguras harta benda kita, menjajah tanah-tanah kita, membunuhi membabi buta saudara kita.
Tak layak, ketika sebuah rumah sedang diserbu oleh perampok, sedang dibakar, sedang berusaha diluluhlantakkan…. dua kakak beradik yang ada di rumah itu, bukannya berusaha melawan malah saling bertengkar…..

Demikian. Semoga Allah Yang Maha Kasih mempersatukan hati-hati kita. Wallahu ’alam bi ash-Shawab

7 Komentar

  1. xixixixi
    ada benarnya juga bung.😀

  2. tetap berpiir jernih dan tidak mudah mudah terprovokasi…. itu jauh leih baik.
    Berkoar-koar tari pendet milik kita, tapi kita sendiri tidak pernah melihat ciri khas dan melestarikan potensi budaya yang kita miliki.

  3. Mantap tulisanya bagus ! teruskan !
    http://citrahusadabali.blogspot.com

  4. wah-wah…

  5. Boleh baca pandangan dari kaca mata orang biasa di blog saya mengenai :
    Malaysia dan Indonesia – jiran vs saudara

  6. Yaaaa, benar juga…. Tapi, bukan berarti mereka boleh nginjak2 kita dengan cara ngedit lagu Indonesia Raya. Itu namanya bukan MELESTARIKAN. Ada kata2 yang gak patut dicontoh…. Kita gak pernah salah apapun sama mereka.

  7. siiip bro….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s