COPYRIGHT DALAM PANDANGAN ISLAM

Latar Belakang

Masalah Hak Cipta adalah hal yang begitu sering digembor-gemborkan akhir-akhir ini. No Piracy, menjadi begitu akrab di telinga. Pemerintah, tokoh masyarakat, para artis, hingga da’i sekalipun begitu menggelora menggemakan perang melawan segala jenis pembajakan. Bahkan, bisa jadi dakwah menyerukan kembali ke Syari’at Islam kalah pamor dengan ‘dakwah’ anti pembajakan. Ironis!

Entah bisa jadi karena umat sudah begitu jauh dengan pemahaman islam, hingga konsep hak cipta sendiri hampir tidak pernah secara benar-benar dipahami menurut tuntunan syara’. Ada suatu cerita unik ketika penulis menghadiri sebuah majlis ta’lim. Salah seorang hadirin bertanya kepada ‘tuan guru’ yang dari Martapura tersebut tentang bagaimana sih hukumnya hak cipta dalam islam. Tuan guru tadi menjawab dengan ala kadarnya, ‘selama itu didukung pemerintah maka kita wajib pula mendukungnya’. Nah lho… bukannya mengembalikan ke hukum fiqih, dalil alqur’an dan hadits, malah mengembalikan ke hukum pemerintah yang sejatinya adalah hukum kapitalistik.

Lalu bagaimana pandangan islam yang sebenarnya tentang konsep hak cipta? Dalam tulisan sederhana ini, penulis akan coba membahasnya lebih lanjut –tentunya dengan keterbatasan pemahaman islam yang dimiliki oleh penulis- . Namun sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya bila kita melihat sekilas realitas tentang fenomena hak cipta di masyarakat.

Orang Miskin Tidak Boleh Sakit

Pernyataan di atas adalah pameo yang sudah mafhum di masyarakat. Wajar, karena harga untuk berobat memang begitu mahal sampai-sampai Iwan Fals mewanti-wanti dalam senandungnya “Kalau anak kita jatuh sakit// lebih baik tak usah ke dokter// karena harga dokter di sini// terkait di awan tinggi. Tanya ken-apa? Hal ini karena kesehatan telah dikapitalisasi. Ada beberapa faktor yang menjadikan biaya kesehatan menjadi begitu mahal. Hal yang paling mencolok adalah harga obat yang begitu melambung tinggi. Kenapa harga obat begitu tinggi? Jawabannya, salah satunya karena adanya konsep hak cipta dalam ‘jualan obat’.

Dalam Industri farmasi ada beberapa pembagian jenis obat yang beredar di masyarakat. Ada obat paten, obat generik, dan obat generik bermerek. Obat paten adalah obat yang masih belum habis masa patennya. Ketika suatu perusahaan menemukan obat dan mematenkannya maka dia mendapat hak monopoli atas temuannya selama dua puluh tahun. Artinya selama 20 tahun perusahaan farmasi tersebut memproduksi, memasarkan, dan menetapkan harga jualnya sendiri, serta melarang perusahaan yang lain memproduksi obat yang serupa. Contoh obat yang masih paten adalah tamiflu, obat untuk flu burung. Obat ini hanya boleh diproduksi oleh perusahaan yang dapat lisensi hak cipta dari penemunya sehingga Indonesia mesti mengimpor dari asing. Nah, sebenarnya untuk membuat obat semacam tamiflu ini, orang Indonesia juga mampu, karena ibarat kue, asal resepnya ada, bahannya tersedia, maka siapapun bisa mengolahnya. Permasalahannya… ya hak cipta tadi. Makanya baru belasan tahun yang akan datang, perusahaan seperti kalbe-farma boleh membuatnya.
Sedangkan obat generik, adalah obat yang sudah habis masa patennya. Misalnya yang sudah akrab di telinga kita seperti parasetamol, amoxillin, dan sebagainya. Adapula obat generik yang bermerek, misalnya panadol, amox, dan lainnya. Apa bedanya? Panadol ya isinya parasetamol juga, amox isinya amoxillin, insya Allah khasiatnya sama, paling nilai plusnya di kemasannya yang menarik dan keterkenalannya, dan yang paling kentara adalah harganya. Sekedar ilustrasi, obat diabetes generik bermerek A harganya sekitar Rp 3.700 (tiga ribu tujuh ratus rupiah) per butir. Bandingkan dengan glibenclamide generik yang harganya hanya Rp 150 per butir. Demikian pula obat hipertensi bermerek C harganya sekitar Rp 3.400 per butir, sedangkan salah satu obat hipertensi generik, yaitu captopril harganya hanya Rp 250 per butir.
Lebih ngeri lagi kalau kita bicara obat paten. Contoh kasus adalah obat untuk penderita HIV/AIDS yaitu antiretroviral. Obat yang diyakini dapat menurunkan jumlah virus di dalam tubuh pengidap AIDS sampai sekarang masih diimpor dari perusahaan farmasi India, Aurobindo Ltd. Seorang pengidap AIDS menghabiskan Rp 600.000 sampai Rp 700.000 sebulan untuk terapi pengobatannya. Nah, masalah terjadi ketika barusan WTO mengancam akan menerapkan ketentuan paten yang lebih serius terhadap perdagangan obat, dikaitkan dengan aturan tentang hak atas kekayaan intelektual. Termasuk hak paten perdagangan obat antiretroviral.
Masalahnya, sejauh ini, obat antiretroviral diproduksi oleh sejumlah negara “tanpa membayar” royalti. Karena itu, obat-obatan tersebut dijual dengan harga yang murah. Semua ini dilakukan dengan alasan kemanusiaan. Di antara negara yang memproduksi obat itu terdapat India dan Thailand.

Bila ketentuan WTO tersebut dilaksanakan, harga obat antiretroviral dapat dipastikan akan melambung tinggi. WTO juga akan melarang negara yang memproduksi obat antiretroviral generik mengekspor ke negara lain. Artinya Indonesia yang masih belum bisa (baca: tidak dapat lisensi) membuat sendiri, terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam. Sebagai gambaran, obat antiretroviral generik yang harus dikonsumsi dalam sebulan harganya antara Rp 600.000 hingga Rp 800.000. Sementara obat antiretroviral paten dalam jumlah yang sama, harganya mencapai Rp 8 juta!
Ini baru satu kasus betapa bermasalahnya hak cipta. Tentunya kasus-kasus lain masih tumplek menggunung.

Sekilas Tentang Copyright

Secara umum Hak Kekayaan Intelektual dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu. Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi Paten, Merek, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Rahasia Dagang dan Varietas Tanaman.
Di dalam peraturan hak cipta ada beberapa hak yang di dapatkan oleh seseorang atau beberapa orang yang secara hukum telah menjadi pemegang hak cipta, yaitu hak ekslusif, hak ekonomi dan hak moral.

1. Hak eksklusif dalam hal ini adalah bahwa hanya pemegang hak ciptalah yang bebas melaksanakan hak cipta tersebut, sementara orang atau pihak lain dilarang melaksanakan hak cipta tersebut tanpa persetujuan pemegang hak cipta.
2. Hak ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan serta produk hak terkait. Seperti menjual barang yang telah di ciptakannya.
3. Hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus dengan alasan apapun, walaupun hak cipta telah dialihkan.

Jika seseorang yang telah mendaftarkan hasil ciptaannya kepada pihak berwenang maka dalam hal ini dia akan mendapatkan suatu petanda hak cipta yang menunjukkan barang atau ciptan tersebut memiliki hak cipta, dan mempunyai kekuatan hukum yang jelas. Sehingga dengan adanya tanda ini diharapkan bahwa pihak lain tidak dapat seenaknya memberlakukan barang ciptaan itu untuk dimanfaatkan. Atau dengan kata lain konsumen akan dibatasi penggunaannya terhadap benda ciptaan tersebut. Tanda tersebut biasanya dengan menggunakan sebuah huruf c di dalam lingkaran (yaitu, ©), atau dengan menggunakan kata “copyright”, yang diikuti dengan tahun hak cipta dan nama pemegang hak cipta.

Apabila ada orang yang melanggar ketentuan hak cipta ada sanksi tertentu untuk menjeratnya baik termasuk dalam sanksi pidana ataupun perdata. Sanksi pidana atas pelanggaran hak cipta di Indonesia secara umum diancam hukuman penjara paling singkat satu bulan dan paling lama tujuh tahun yang dapat disertai maupun tidak disertai denda sejumlah paling sedikit satu juta rupiah dan paling banyak lima miliar rupiah, sementara ciptaan atau barang yang merupakan hasil tindak pidana hak cipta serta alat-alat yang digunakan untuk melakukan tindak pidana tersebut dirampas oleh Negara untuk dimusnahkan.

Siapa Untung, Siapa Rugi?

Bila kita menengok dari sejarah kelahiran konsep Hak Kekayaan Intelektual ini, maka jelas negara yang paling diuntungkan dari konsep ini adalah negara-negara maju kayak AS. Industri berbasis Hak Kekayaan Intelektual merupakan bagian dari daftar industri terbesar dengan nilai peningkatan tercepat yang memberikan pertumbuhan perekonomian AS. Bahkan Industri ini konon sudah menjadi industri terpopuler, mengalahkan industri lain, seperti industri mobil, penerbangan, dan perminyakan. Di tahun 2002 saja, industri berbasis Hak Kekayaan Intelektual AS meraup $89,26 miliar dari penjualan luar negeri dan ekspor. Oleh karena itu, suatu hal yang tidak aneh jika AS dan negara-negara maju lain menjadikan konsep hak cipta sebagai acuan untuk setiap negara yang ada di dunia. Bahkan, tidak kepalang dengan menggunakan WTO, mereka memberikan arahan kepada setiap negara untuk membuat suatu undang-undang tentang Hak Kekayaan Intelektual, termasuk Indonesia.

Salah satu alasan yang sering dikemukakan oleh para pengusung ide hak cipta adalah dengan adanya konsep ini, maka akan tercipta tatanan sosial ekonomi yang dinamis dan mendorong kompetisi. Dengan hak cipta para pencipta dan ciptaannya akan dihargai, sehingga terjadi peningkatan inovasi dan penelitian-penelitian baru. Namun pada faktanya ternyata tidak segiu-gitu ama. Justru, realitasnya dengan adanya hak cipta ini manusia akan memberikan batasan kepada ciptaan itu tanpa memberikan suatu motivasi apa pun untuk meningkatkan penelitian lebih lanjut dalam pengembangannya.

Misalnya dalam beberapa kasus, hak cipta yang menghasilkan hak paten justru akan menghambat inovasi. Sejak 1875, perusahaan AT&T mengumpulkan paten untuk mengamankan monopolinya dalam bidang telepon. AT&T memperlambat pengenalan radio selama sekira 20 tahun. Di Jepang, 45% perusahaan mendaftarkan paten dalam rangka mencegah pengembangan, pembuatan, dan penjualan produk sejenis; 41% perusahaan mendaftarkan paten untuk kepentingan defensif, yaitu paten terhadap teknologi-teknologi yang perusahaan tersebut sendiri tidak punya rencana untuk menggunakannya, tapi hanya ingin mencegah perusahaan lain agar tidak menggunakannya; 10% perusahaan mendaftarkan paten dengan harapan mendapat keuntungan dari pengaturan lisensinya.

Lebih lanjut, negara yang berkembang atau terkebelakang, seperti Indonesia akan semakin terpuruk dengan adanya konsep hak cipta ini, dan akan kesulitan untuk membuat sebuah produk berkualitas. Sebagai contoh saja, untuk membuat kamera digital dibutuhkan lebih dari 1000 paten. Sehingga kemungkinan perusahaan di Indonesia untuk bisa menghasilkan begitu banyak paten adalah tidak ada. Jalan satu-satunya untuk menghasilkan produk, perusahaan Indonesia harus membeli lisensi teknologi dari negara atau perusahaan luar negeri. Ini berarti menambah ongkos produksi. jika satu lisensi dihargai satu juta -walaupun permisalan ini terlalu murah- maka berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk membuat kamera digital tadi? Akhirnya, jalan keluarnya ya… impor!

Islam Memberikan Solusi

Islam Rahmatan lil ’alamin. Dia merupakan sebuah ideologi yang sudah terbukti bisa menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi oleh manusia, dan tentunya jelas, juga mampu menangani kekisruhan dalam masalah ini. Di dalam Islam memang tidak ada konsep hak cipta, tetapi Islam memiliki konsep lain yang lebih baik dan lebih fair dalam distribusi keuntungan daripada konsep hak cipta.

Menyangkut kepemilikan ataupun pemanfaatan suatu materi, Islam punya konsep, bahwa terdapat dua materi, yaitu: materi yang real (contohnya adalah merek dagang, barang dagangan, produk industri, dll), dan materi yang abstrak (misalnya teori-teori ilmiah, ide-ide kretif tentang suatu rencana inovatif yang masih tersimpan di dalam otak si pemikir).

Di dalam Islam setiap individu berhak memiliki semua materi yang ada di dunia kecuali yang berkaitan dengan kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Dalam kepemilikan dan pemanfaatan suatu materi yang real seseorang bisa memiliki dan memanfaatkan benda tersebut dengan cara mengolahnya menjadi suatu usaha atau dengan cara menjualnya. Hak ini dilindungi negara, sehingga tidak boleh ada yang melanggarnya. Seperti kepemilikan suatu buku, seseorang bisa memanfaatkannya dengan cara menyewakannya ataupun menjualnya. Itu hak dia untuk memutuskan. Bahkan jika dia membakarnya itu juga adalah haknya sebagai pemilik. Seseorang tidak boleh melanggar hak tersebut dari pemiliknya, jika itu terjadi maka akan mendapatkan sanksi dari negara.

Sedangkan dalam kepemilikan dan pemanfaatan suatu materi yang abstrak, seperti ide-ide kreatif atau pandangan ilmiah yang belum ditulis oleh pemiliknya dalam suatu buku, Seseorang juga bisa memiliki dan memanfaatkan benda tersebut. Ia boleh memanfaatkan ide-ide tersebut baik dengan cara menjualnya ataupun mengajarkannya kepada orang lain. Namun pemikiran tersebut harus memiliki nilai yang bermanfaat kepada umat dan mubah di mata syara’. Ketika pemikiran itu dijual kepada orang lain ataupun diberikan kepada orang lain dengan mengajarinya, maka dengan sebab syar’i pemikiran tersebut bisa dikelola oleh orang tersebut. Seperti misalnya profesor Fauzan yang memiliki ilmu yang tinggi, ketika dia menemukan suatu rumusan atau teori tentang anti-gravitasi, maka teori tersebut adalah miliknya dan dia pun bisa memanfaatkanya dengan cara menjualnya dengan harga yang sangat mahal ataupun megajarkannya kepada orang lain. Nah, setelah dijual maka orang lain berhak untuk mengelolanya tanpa terikat dengan pemiliknya itu. Hal ini dikarenakan di dalam Islam ketika seseorang telah membeli suatu barang, maka kepemilikan barang dan pemanfaatannya telah beralih kepadanya. Jual-beli merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kepemilikan dan pemanfaatan suatu benda di dalam Islam. Pemanfaatan barang tersebut tidak dibatasi dengan apapun kecuali hukum syara’. Namun penisbatan nama penemuan tetap harus kepada penemunya yang menemukan ide tersebut, yaitu profesor Fauzan. Sebab, jika pengatasnamaan itu terjadi kepada selain penemunya maka dia telah melakukan pendustaan dan penipuan. Sehingga siapapun tidak boleh mengakui atau mencuri sesuatu yang bukan hak karyanya karena penipuan dan pendustaan sangat dilarang oleh syara’.

Sehingga, didalam Islam hanya alasan syara’lah yang menentukan arah pemanfaatan suatu benda. Ketika ada akad yang tidak sesuai dengan syara’ maka hal tersebut adalah batil. Bahkan haram hukumnya jika bertentangan dengan syara’, walaupun pembelinya rela dengan syarat tersebut. Saat hukum sekarang memperbolehkan para pemegang hak cipta untuk memberikan syarat tertentu kepada konsumen untuk membatasi hak pemanfaatannya demi perlindungan hak cipta, maka kita tidak wajib mengikuti syarat tersebut. Lagipula Rasulullah saw pernah bersabda bahwa, “Siapa saja yang mensyaratkan suatu syarat yang tidak terdapat dalam Kitab Allah (al-Qura’n) maka persyaratannya batil” (HR. al-Bukhari, Ibn Hibban, Ibn Majah, al-Daruqutni, an-Nasa’i).

Oleh karena itu, Islam tidak mengakui adanya hak eksklusif dalam hak cipta dimana pemegang hak cipta bebas memiliki dan memanfaatkan penemuannya, sementara orang lain dilarang memiliki dan memanfaatkan penemuan itu. Orang lain bisa memiliki dengan cara membelinya tetapi dalam pemanfaatannya orang tersebut dibatasi, tidak boleh menyalin, atau memperbanyaknya.

Akan tetapi, tidak mengakui dan menentang hak cipta bukan berarti Islam membolehkan mencuri ide atau mengatasnamakan (ngaku-ngaku) sesuatu yang bukan hasil karyanya. Islam memiliki konsep yang mengakui hak moral dari penemu atau pemikir, dalam artian orang lain tidak boleh mencantumkan nama pada setiap benda penemuan seorang pemikir, walaupun benda tersebut telah dibelinya. Sehingga nama penemu akan selamanya dinisbatkan kepada temuannya.

Islam pun sangat memberikan penghargaan kepada seorang intelektual yang telah susah payah menghasilkan karya intelektual. Jika ada seseorang yang melakukan pencurahan daya ciptanya untuk menghasilkan suatu buku karya intelektual yang bermanfaat untuk kemajuan umat, maka negara harus memberikan upah yang tinggi, misalnya dengan memberikan gram emas seberat buku yang telah dia hasilkan untuk umat. Dengan demikian, akan timbul suasana kompetitif dalam sains dan teknologi.

Penutup

Akhirnya, yang namanya hak cipta pada hakikatnya hanyalah hak Allah SWT semata. Kita manusia, sejatinya hanyalah mengolah dari bahan yang sudah disediakan oleh Allah. Alangkah naifnya bila kita, dengan kelemahan yang ada sebagai makhluk (yang dicipta) berkoar-koar dengan hak cipta sampai-sampai membatasi orang lain untuk menikmati hasil karya kita. Na’udzubillahi min dzalik.

Rujukan:
1. Al-Bagdhdadi, Abdurrahman. Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam. Pustaka Thariqul Izzah, hal. 139-140.
2. Andi, Taofik. Antara Copyright, Copyleft dan Islam’s Right (Menanggapi konsep hak cipta sebagai kajian intelektual). http://gemapembebasan.or.id. diupload tgl 10 Agustus 2006.
3. Lazuardi , Muhammad. Juai-beli Dalam Islam (Yang Boleh dan Yang Terlarang). Jurnal al-Wa’ie. Agustus 2005.
4. Nainggolan, Nancy. Pengadaan Obat HIV/AIDS Terancam Ketentuan WTO. http://www.google.co.id

Iklan

12 Komentar

  1. terimakasih atas pembahasan hak cipta dari pandangan islamnya. Nambah ilmu dan membuka mata bagi makhluk yang kurang ilmu agama seperti saya. tadinya saya pikir yang namanya hak cipta pasti bermanfaat untuk penciptanya dan tidak memberi mudharat bagi orang lain (kecuali pembajak), ternyata kalau kasusnya hak paten obat, jadi mudharat juga. mungkin saya masih sangat perlu belajar mengenai perekonomian dunia dan sistem perekonomian yang mengatur dunia, minimal dunia kesehatan. btw, saya baru memaknai kata salah satu dr favorit saya sekarang, kata beliau: “sebelum jadi dokter cobalah merintis usaha bisnis (yang halal dan baik tentunya), biar saat jadi dr g kepikiran mengejar setoran semua biaya kuliah dan kalaupun tidak ada niat dan usaha untuk mengejar setoran, setidaknya dengan usaha sampingan yang menjadi usaha utama tsb kita masih bisa dengan hati ikhlas menggratiskan pasien berapa orang pun karena penghasilan utama bukan profesi kedokteran.

    tapi satu hal yang mungkin agak membuat saya kaget, betapa mahalnya antivir AIDS padahal setau saya di poli penyakit dalam dikasih gratis. berarti negara yang membiayai antivir tersebut atau mungkin yayasan donatur HIV/AIDS yang membiayainya.

    yah At last .. semoga bermanfaat tulisannya bagi yang membaca dan penulisnya (yang susah2 membuatnya seperti paper) juga mendapat manfaat. berelaan lah ka….

  2. O hak cipta itu kytu kh…Q kira cuma kada boleh pakai nama yg sama. Jd misal A mencipta kamera, lalu mematenkan. Trus B mencipta kamera jua tanpa blajar dari A, apa itu melanggar hak cipta jua secara hukum Internasional saat ini?
    Trus misal C membuat buku atau software lalu dipatenkan dan dijual. trus si D mengcopy smua isi buku atau software lalu menjual jua untuk keuntungan sendiri tanpa berbagi dengan C apa itu melanggar hak cipta dalam sistem Islam?

    • menurut hukum internasional saat ini memang kalau kada salah kaitu. kalau dalam islam, tentunya ada etika dalam berkarya. tidak sembarangan juga

  3. ya bro emang dokter itu 99,9 % materialis walaupun ngkaku aktivis dan da’i
    di t4 ane dokter HK S**** jadi dokter kanduang merangkap dai tapi terlibat mafia obat
    banyak pasien jadi korban target penjualan obat.

    Juga ada dokter dari kelompok ikh*** yang praktek tanpa mempedulikan orang miskin, pasang tarif tinggi

    mudah2 an antum ga kaya’ gicu

    • amiin.. makanya doakan saya terus tetap jadi dokter yang liar? nggak mau ikut-ikutan gaya dokter-dokter materialis itu

  4. Mantap….jadi tambah ilmu nih..

  5. […] Tidak cukup hanya di dunia teknologi. Dalam bidang kesehatan pun, copyright pun berpotensi negatif, karena negara-negara yang miskin tidak akan sanggup membeli obat-obatan yang harga lisensinya mahal. […]

  6. Sekadar berbagi informasi. Jika saya salah, mohon diingatkan.

    Hak paten dan hak cipta itu sebenarnya adalah dua hal yang berbeda, tetapi masih dalam satu kelompok hak kekayaan intelektual (HKI). Beda keduanya adalah hak paten melindungi konsep/gagasan/cara kerja, sementara hak cipta melindungi bentuk dari suatu karya.

    Jika suatu karya dipatenkan, kita boleh membuat karya dengan bentuk yang sama, tapi tidak boleh dengan cara kerja yang sama. Ini hak memang bikin dahi mengkerut. Menjengkelkan!

    Sementara jika suatu karya memiliki hak cipta (copyright), maka kita boleh membuat karya dengan cara/gagasan yang sama, tapi dalam bentuk berbeda. Contohnya, membuat film. Saya belum pernah mendengar pihak tertentu mempatenkan konsep cerita film yang diproduksinya. Jika memang ada, sungguh keterlaluan.

    Hak cipta saya rasa masih wajar, tapi hak paten…, hihi…^^

  7. copyright hanya menguntungkan pihak tertentu. Masa sudah beli produk masih diatur oleh penjual, adahal barang itu sudah dibeli.

  8. waduh salah ketik, maksudnya padahal bukan adahal.

  9. tanya: kalo qt sdh meyakini hak cipta adalah milik Allah apakah kemudian qt bisa dengan sertamerta menggunakan/meniru barang2 yg sdh dipatenkan tanpa minta ijin kpd pemegang paten?

  10. Menarik topiknya, dalam juga pembahasannya.
    Seandainya masalah hak cipta ini dikaitkan dengan software gimana…, seseorang sudah membeli software (non-free), lalu dia berniat sharing ke orang lain dengan harapan bisa bermanfaat. Saya juga pernah membaca salah satu kalimat Term Agreement software mengatakan, krg lbh gini “…software ini dilisensikan bukan dijual…”, saya kurang paham, apa maksudnya softwarenya disewakan ?, atau yang saya bayar adalah perizinan untuk penggunaannya. Adakah konsep muamalat seperti ini yang diakui islam ?, kalau ada bagaimana pengamalannya ?, Kalau tidak ada, halalkah kita tetap mengikutinya ?.
    Saat ini Alhamdulillah saya menggunakan software yang berlisensi resmi, ataupun freeware dan opensource.
    Terkadang saya ada rasa tergerak ingin membantu orang yang butuh software berbayar itu, namun tidak punya/rela mengalokasikan dana seharga software berbayar yang dia butuhkan, saya tawarkan freeware atau open source, mereka bingung lagi (ada juga yang menurut mereka kurang lengkap dan sebagus software berbayar), butuh adaptasi yang tentunya membutuhkan waktu, tenaga, uang, yang mungkin ‘tidak mudah’ mereka sediakan. Saya coba jelaskan sedikit urgensi dan keutamaannya menggunakan software yang ‘resmi’, namun sepertinya hal2 seperti itu kurang tertangkap oleh mereka, malah sampai ada yang bicara “…dari pada beli software seharga itu, lebih baik saya sumbangkan ke orang yang membutuhkan (fakir miskin, anak yatim atau lembaga sosial keagamaan)…”, lepas dari konsisten atau tidaknya setelah ia punya uangnya, itu sudah masalah ghoib, saya manusia hanya mendengar ucapannya dari sisi dzahir saat itu. Terkadang karna pengetahuan agama saya yang masih sangat terbatas, ucapan itu menjadi ‘kick balik’ buat diri saya. Saya minta pandangan saudara dalam hal ini dan mohon maaf kalau kepanjangan dan ada kata2 yang salah,Trimakasih.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s