REFERRED PAIN (NYERI ALIH)

Dalam dunia medis kita mengenal istilah referred pain atau nyeri alih. Mekanisme ini sebenarnya sederhana, namun gara-gara bentuk nyeri alih ini seringkali seorang dokter salah memberikan terapi kepada pasien. Angina misalnya, sakitnya bisa saja tidak di dada, bisa ke lengan atas, ke punggung atau ke kepala… apa jadinya bila si dokter malah mengobati masalah kepalanya? Tentunya tidak lucu.

Hal yang sama jadi momoknya adalah di dunia psikologis dan pendidikan. Ada mekanisme referred pain yang sebenarnya juga awalnya sederhana, namun malah menjadi momok ketika hal tersebut dibiarkan.

Pernahkah anda memperhatikan bentuk pendidikan yang diajarkan orangtua kepada para balitanya? Salah satu hal yang saya perhatikan adalah seringnya para orangtua mengajarkan mekanisme nyeri alih atau referred pain ini.

Misalnya seperti ini. Ketika seorang balita terjatuh karena terpeleset di lantai yang agak licin, maka si balita akan menangis dengan keras. Si orangtua pun dengan dengan berbagai cara berusaha meredakan tangis anaknya. Salah satu cara yang paling ampuh seperti ini… “Catuk lantainya nak ai….dasar lantai nakal….” Maka si anak pun memukul lantai yang membuatnya jatuh itu. Cara ini lumayan ampuh. Tangis si balita mereda. Melihat kesuksesan cara itu, maka si orangtua akan menerapkannya dalam kasus-kasus yang lain. Saat anak menangis karena terantuk meja, kejepit pintu, dan lain sebagainya. Tindakan ini sepertinya tidak bermasalah. Toh, si balita berhenti menangis, dan orangtua pun lega. Tapi tanpa disadari bentuk didikan seperti itu akan menyebabkan terbentuknya psikologis nyeri alih pada diri anak sampai akhirnya dia tumbuh dewasa.

Ketika dia terjatuh atau terantuk dan disuruh memukul lantai atau meja maka dalam psikologis dia terbentuk sebuah pembenaran… yang salah adalah lantai dan meja bukan dirinya. Padahal kenyataannya, bukan lantai yang membuat dia terjatuh…. namun karena ketidakhati-hatian dia. Disini terbentuk ego dalam dirinya… aku benar… yang salah orang lain. Bentuk psikologis semacam ini terus menerus dipupukkan dalam jiwanya, sehingga terbawa sampai dewasa. Maka tidak heran, ketika dia suatu waktu mendapatkan suatu masalah, maka yang dia pikirkan pertama adalah orang mana atau benda mana yang harus aku salahkan…….?!

Ketika misalnya, seorang dosen memarahi atau menghukumnya karena sesuatu kesalahan. Di benaknya otomatis berpikir, siapa yang harus dia salahkan atas terjadinya masalah ini…. tentunya, ketika dia berpikir sang dosen dalam posisi yang susah dia salahkan, maka fokus kesalahan akan dialihkannya kepada orang lain yang terkait…. pada mahasiswa lain yang terkait dengan masalah ini, atau siapa saja, yang penting bukan dirinya.

Pada saat itulah berjalan mekanisme referred pain atau nyeri alih.
Padahal seharusnya ketika dia mendapatkan suatu masalah seperti di atas, hal yang seharusnya ada dalam benaknya adalah… ”Ya, aku memang salah, ada baiknya aku mengintrospeksi diriku. Kesalahan itu mesti diperbaiki. Mungkin orang lain juga ada salah… tapi mengapa aku harus ribut untuk kesalahan orang lain?”
Ini tentunya lebih positif dan lebih dewasa….

Dan sama bahayanya dengan referred pain dalam dunia medis, gara-gara referred pain ini kita juga akan salah dalam memberikan terapi… bukannya menyelesaikan masalah, yang terjadi malah kita menimbulkan masalah yang baru….
Maka biasakan untuk meniadakan mekanisme referred pain ini dalam penyelesaian masalah. Selesaikan masalah langsung ke etiologinya… bukan hanya ke gejala-gejala yang nampak.

Sehingga ketika suatu waktu anda melihat seorang balita menangis karena terantuk meja, maka kita sudah paham apa yang seharusnya kita lakukan.
”Cup…. cup… sayang….. jangan nangis lagi ya….. lain kali si adik harus lebih hati-hati lagi…… ya….”
Dan tak usah lagi mengajarkannya untuk memukul si meja….. apa salah meja jadi harus dipukul?

5 Komentar

  1. Ey kang, emang akang dulu kul nya dimana ya???

    • fakultas kedokteran… sekarang juga masih kuliah…

  2. msh kuliah or dah koass bang?bgs bener blognya …jazakillah khoir bang

    • sudah selesai dokter mas riza

      • kok masih doktermuda liar? hee


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s