Ambil Kesempatan

Tok! Tok!
“Ya, siapa di sana?”
“Ini Saya, kesempatan.”
“Nggak usah ngibul deh. Kesempatan tidak pernah mengetuk dua kali.”

(Norman Dale)

Jangan pernah membiarkan sebuah kesempatan datang dan berlalu begitu saja. Bersiaplah dengan mata terjaga terhadap setiap kesempatan yang datang pada anda. Kemudian raih dan peluklah kesempatan tersebut.
” The secret of success is to be ready when your opportunity comes.” Begitu nasehat dari Benjamin Disraeli.
Suatu ketika saat di kelas tiga SMA saya diminta menjadi pembicara di sebuah seminar. Ini akan menjadi kali pertama saya tampil sebagai pembicara, pikir saya. Betapa terkejutnya saya kemudian, ternyata peserta bukan hanya dari kalangan SMA, namun juga mahasiswa dan umum. Satu hal yang terpikir saat itu di kepala saya…. kesempatan tak akan datang dua kali. Ambil! Malu, urusan belakangan.
Atau di kali lain, saat salah seorang kawan menelepon meminta saya untuk menggantikan pembicara yang berhalangan di sebuah seminar bertajuk tentang sastra. Tak nyambung, mahasiswa kedokteran berbicara mengenai sastra. Siapa pesertanya? Lebih mengejutkan. Pesertanya adalah mahasiswa jurusan bahasa dan sastra lengkap dengan dosennya. Apa jawab saya kala itu? Setuju! Saya insya Allah siap!

Sekarang bagaimana bila sebaliknya begini…. anda ingin mendapatkan sesuatu sementara kesempatan tak kunjung datang.. jawabnya adalah: berusahalah menciptakan kesempatan itu!
Saya sangat ingin menjadi seorang trainer atau motivator. Saya sudah mencoba belajar bagaimana caranya menjadi seorang motivator yang baik, teknik persuasi, mengumpulkan bahan, membuat power point bertajuk motivasi dan lain sebagainya. Sayangnya kesempatan itu tak kunjung datang.
Saya bukan seorang penunggu yang baik. Maka akhirnya, dengan tanpa malu-malu saya melakukan hal yang sebaliknya. Saya menawarkan diri kemana-mana untuk mengisi acara training motivasi… tidak perlu dibayar, sebaliknya kalau perlu saya membayar untuk bisa mengisi training motivasi tersebut.

Karakter kedua dari kesempatan. Kesempatan jangan ditunggu, dia harus dicari… kalau tidak ketemu anda yang harus menciptakannya. Persis seperti kata Charles Buxton: “You will never find time for anything. You must make it.”

Iklan

7 Komentar

  1. salut buat ka2 yang mampu membuat kesempatan itu hadir. terkadang karena krisis percaya diri akhrx malah menawarkn kesempatan yang telah ada u/ orang lain. :p. tapi tenang, itu dulu. sekarang setelah melewati berbagai fakta yanghadir di depan mata, akhirx saya sadar ketika kesempatan itu ada maka yakin bahwa kesempata itu milk kita bukan yang lain, karena kita adalah orang yang tepat u/ mendapatkanx. sekarang juga berusaha u/ membuat kesempatan2 yang lain itu hadir,,,, doakan ya 🙂

    • amiin… jangan pernah mengabaikan kesempatan yang nongol di hadapan kita

  2. akhirnya gimana tuh om seminar bahasa sastranya?

    sukseskah?

    • menurut versi saya sukses…. karena saya berhasil melawan rasa ketidak percaya dirian saya. nggak tahu menurut versi peserta atau panitia

  3. urang banjar jua kah kalinya..pantas ae tiap jurus ada bahasa banjarnya,,kagum ulun lawan pian…kekekekek

    • inggih mang ai… abah alabiu, mama anjir, sorang lahir wan gonol di pasar hanyar

  4. Hoho….medical is an art^^, dunia kedokteran itu adalah seni, bagian dari sebuah karya sastra. btw, tulisan mu ni sdah memotivasi by org loh, gutlak yah


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s