NEK MINAH SALAH ZAMAN (Elegi Tiga Buah Kakao)

Tsabit bin Ibrahim sedang dalam puncak kegundahannya. Ditimang-timangnya buah apel yang tinggal separuh. Tadi siang, sungguh dia betul-betul tidak sengaja saat memakan separuh dari apel tersebut. Apel ranum yang ditemukannya tergeletak di tanah sebuah kebun.
Perasaan berdosa begitu menggelayutinya. Seharusnya dia tak boleh memakannya! Namun apa daya, perasaan lapar begitu menderanya saat itu.

Tsabit memutuskan untuk menemui sang pemilik kebun dan meminta maaf. Kalau perlu, dia siap menanggung hukuman apa saja yang diminta oleh sang pemilik kebun. Singkat cerita, setelah perjalanan panjang berliku, Tsabit berhasil menemui orangtua pemilik kebun.

“Tidak, aku tidak bisa menerima permohonan maafmu…. kecuali dengan satu syarat.” Alangkah terperanjatnya Tsabit mendengar reaksi dari si orangtua pemilik kebun.
“Sebagai hukumannya, Engkau harus mengawini putriku !” lanjutnya kemudian.
“Oh, iya… sebagai informasi. putriku yang akan kau kawini itu adalah seorang wanita yang bisu, buta, tuli…. Dan lumpuh….” Lanjut si orangtua lagi.

Deg! Tsabit semakin terperanjat. Ya Allah…. Begitu beratkah hukuman bagi seorang pencuri separoh apel, yang tidak sengaja memakannya karena kelaparan?

Tapi tekad Tsabit sudah bulat. Dia harus menebus segala dosanya, bagaimanapun beratnya. Tsabit menyanggupi segala syaratnya. Dia terima nikahnya perempuan bisu, buta tuli dan lumpuh itu.
Tak dinyana betapa terkejut dan bahagianya Tsabit melihat kenyataan yang ditemuinya setelah dia menemui malam pertamanya. Wanita yang dinikahinya ternyata adalah seorang wanita yang begitu rupawan tanpa cacat sedikitpun. Lalu dimana letak bisu buta tuli lumpuhnya?

“Aku dikatakan buta karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah Aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku dikatakan tuli karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak diridhai Allah. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”. Begitu jelas si wanita seraya tersenyum cerah menyambut suaminya. Barakallahulahum.

………………………………..
Bisa jadi, cerita tersebutlah yang ratusan tahun kemudian menginspirasi Minah, seorang Nenek tujuh orang cucu berusia 55 tahun yang tinggal di dusun terpencil Sidoharjo Banyumas, Jawa Tengah.
Hingga akhirnya dia nekat mencuri tiga buah biji kakao seharga kira-kira dua ribu rupiah milik perkebunan PT Rumpun Sari Antan pertengahan Agustus yang lalu. Nenek buta huruf ini tidak mengetahui kalau di kebun yang penuh kakao ranum ini telah dipasangi tulisan besar: larangan mengambil buah di perkebunan. Yah wajarlah…. Nek Minah tak dapat membaca. Nek Minah juga pasti tak menyangka, bahwa saat dia mengambil kakao itu, seorang mandor sedang mengawasinya bersiap menyergapnya.

Tertangkap basah! Nek Minah kepergok oleh sang mandor yang kemudian diketahui bernama Sunarto itu dalam keadaan sedang menimang-nimang tiga biji kakao!

Nek Minah layaknya Tsabit bin Ibrahim saat itu. Bedanya, Nek Minah bukan menimang apel.. tapi kakao. Nek Minah juga belum sempat mengapa-apakan tiga buah kakao itu. Tapi sama jujur dan sama bertanggung jawabnya dengan Tsabit…. Dengan lugu Nek Minah mengaku…. Dia salah… telah mengambil yang bukan haknya

“Inggih dibeta mawon. Inyong ora ngerti, nyuwun ngapura,” tuturnya dalam Bahasa Banyumas yang kental, meminta maaf kepada sang mandor….
Layaknya Tsabit juga, dia siap menanggung resiko dari perbuatannya… agar dosanya dapat gugur. Agar di yaumil hisab kelak Allah mau mengampuninya.

Tapi nasib Nek Minah tak seberuntung Tsabit. Nek Minah tak dihukum dengan ‘tugas’ mengawini seorang yang bisu, buta, tuli dan lumpuh. Tidak! Dia malah diganjar dengan hukuman satu setengah bulan!

Tak seperti Tsabit pula. Hukuman itu bukan sebuah kiasan. Seperti menikahi wanita bisu buta tuli dan lumpuh yang merupakan kiasan bagi wanita yang rupawan yang terpelihara dari segala maksiat. Tidak! Hukuman satu setengah bulan itu nyata… dan dia memang harus menjalaninya…

Tapi Nek Minah tetap berusaha tak berburuk sangka. Ada beberapa kemungkinan, bisa jadi inilah yang ada dalam benak Nek Minah saat itu, kenapa kisahnya tak berakhir happy ending seperti kisah Tsabit.
Kemungkinan pertama…. karena Mandor Narto tak memiliki anak yang bisa dikawinkan ke Nek Minah. Tapi kan masih ada si mandor Narto? Kenapa bukan mandor Narto saja yang akhirnya kawin dengannya?
Kemungkinan kedua, ini yang ditakutkan oleh Nek Minah… jangan-jangan Mandor Narto tak cinta padanya…. Sehingga urung mengawininya… Akh…. dan saking tak cintanya Mandor Narto kepadanya, sampai-sampai dia tega mengganjar Nek Minah dengan hukuman satu setengah bulan.

Aahh… sayang sekali….. Nek Minah tak tahu bahwa pikirannya semua itu salah… bukan, semua bukan karena salah Nek Minah. bukan pula karena salah mandor Narto, atau salah si pemilik kebun. Tapi semata karena Nek Minah telah salah memilih zaman. Dia hidup di zaman yang salah.

Dan sayangnya lagi Nek Minah tak terlalu luas wawasannya sehingga dia tidak tahu tentang pasal-pasal hukum di zaman dimana dia hidup. Bahwa barangsiapa yang mencuri dari harga seribu perak sampai beberapa juta maka dia harus menjalani hukuman yang berat. Pidana penjara atau denda yang banyak.

Namun, apabila nilai curiannya sudah mencapai ratusan juta, milyaran, atau trilyunan… maka dia berhak bebas, bahkan berhak dikawal dan dihormati segala oleh pihak polisi…

Makanya Nek Minah…. harusnya nenek belajar baca tulis betul-betul, jadi bisa tahu bagaimana perkembangan zaman……..

Iklan

9 Komentar

  1. izin ambil ide ya.. idenya sama tapi insya Alloh redaksi berbeda.

    jazakallohu khayran katsiran

    • idenya sama redaksinya sama juga nggak pa pa bos…..

  2. Negeri ini memang selalu penuh ironi. Salah satu contoh terbaru adalah bagaimana para ‘pencuri’ kelas teri mendapat hukuman yang kurang setimpal dengan perbuatannya. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh para pencuri ‘koruptor’ kelas kakap yang banyak menghilangkan miliaran uang rakyat.
    Sungguh sebuah fakta yang menyesakan dada. Mudah-mudahan di kemudian hari hal seperti tidak terjadi lagi. Hukuman harus diberikan dengan seadil-adilnya, sesuai dengan beratnya kesalahan yang dilakukan.
    Cara Membuat Blog

    • amiin

  3. sapa dulu khalifahnya SBY khan!!!!!!

    • hahaha… sayang SBY tak memenuhi syarat untuk jadi khalifah…. alasannya sederhana: karena dia tidak mau menerapkan syariat islam secara total

  4. Kondisi tragis dr masyarakat tragis d dalam negri tragis yg mentradisikan ketragisan.

  5. mohon ijin untuk share beberapa artikel utk temen2 di FB. Jazzakumulloh Khoiron katsir….

  6. ijin untuk copas+share artikel niy yaa 🙂
    10 jempol buat kak akin :D, smoga nantinya tetep kosisten untuk menulis artikel yang inspiratif dan yang pasti ngga lepas dari koridor syara’..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s