PUPUKLAH NEKAT SEJAK DINI

Nekat harus ditumbuhkan sedini mungkin. Sejak masih anak-anak…….

Saat itu, seingat saya, saya baru kelas 1 SD. Hari itu sedang ada acara semacam festival keislaman bertempat di Lingkungan Masjid Sabilal Muhtadin.
Saya ingat, saat itu, banyak orang bergerombol mengelilingi sebuah stand. Saya, tentu saja paling hobi bila ada kerumunan…. Harus ada di sana… dan harus paling depan menonton.
Dan saya berhasil menerobos kerumunan tersebut…. Oh, bagi-bagi hadiah!!

“Oke, adik-adik… sekarang kakak akan bagi-bagi hadiah lagi…!” seru si panitia laki-laki lewat mikrofonnya.
“siapa yang bisa, boleh memilih 3 hadiah yang ada di sini..” si kakak menunjuk deretan hadiah menggiurkan di sampingnya…
Deg, semua anak saat itu sepertinya bersiap untuk angkat tangan merebut hadiah itu.
“Nah, mau hadiahnya?” seru kakak tadi. Serentak tentu saja semua anak koor menjawab mau, tak ketinggalan saya, yang terkenal rakus akan yang berbau hadiah. Suasana pun riuh.

“Pertanyaannya? Siapa di antara kalian yang hapal surah Yasin…. Dan tentu saja harus membacakannya di depan sini….!!” Serunya. Terlihat senyum kemenangan di kakak itu…. Kena, pikirnya!
Dan terbukti, suasana pun mendadak sepi… para anak yang riuh dan siap tunjuk jari urung. Terdiam…. Wuih, surah Yasin weiii.. pikir mereka.. panjang….. susah
Saya celingak-celinguk melihat keadaan itu…. Iyaa ya… surah Yasin, susaaah… pikir saya juga.

Tapi dasar anak nekat, maka tanpa pikir panjang, saya tunjuk jari tinggi-tinggi… “Saya kak!” seru saya. Dan dengan gagahnya kemudian maju ke depan meraih mikrofon.

“Siapa namanya dek?” Tanya si kakak.
“Fauzan kak, dari Marhamah!” jawab saya mantap.
“Oke, jadi adik hapal surah Yasin?” Tanya si kakak. Hebat juga pikirnya, masih kecil sudah hapal.
“Nggak, kak…” ucap saya agak malu-malu. Seketika penonton bersorak huuu…
Si kakak mengernyitkan dahi.

“Eh, habis susah kak hapalnya…. Tapi saya janji nanti bakal menghapalnya kok!?” suara saya keraskan. Protes atas teriakan huu para penonton.
Si kakak menggeleng-gelengkan kepala.
“Nah, gantinya, saya hapal kok surah yang lain kak..” tawar saya. Saya menyebutkan satu nama surah pendek. Dan tanpa menunggu persetujuan dari si kakak, saya langsung membacakan surah pendek yang saya maksud tadi dengan percaya diri. Para penonton masih terlihat jengkel.

“Hmmm.. ya sudahlah…. Silakan adik milih tiga buah hadiahnya”
Senyum berbinar. “Yang itu… kak!” saya menunjuk sebuah piala besar. Saya mendekati piala besar itu bersiap mengambilnya.
“Eee… eee!!!” mata si kakak terbelalak. “Jangan yang itu!! Itu sih hadiah utama buat juara festival lomba hari ini!!” serunya kelabakan.
Dan akhirnya saya mengelah… akhirnya, saya memilih 3 buah hadiah. Satu buah tabanas, satu lembar kaos, dan satu potong roti karena saya kelaparan.
Segera setelah mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Tanpa banyak ba bi bu…. Saya tinggalkan kerumunan itu… tak peduli ada acara apa lagi terusannya…. Biarin kata orang apa? Biarin panitia pada protes…. Biarin… yang penting dapat hadiah!!!

(dedicated to almarhum Ibu Nur kepala TQA Marhamah yang telah mengajak saya ikut di berbagai acara -termasuk acara di atas- mengajak saya siaran radio hampir tiap minggunya, membiayai dan mendampingi saya ikut berbagai lomba yang tidak pernah sama sekali saya menangkan. Saya menyesal, tak menemui ibu di akhir hayat ibu)

3 Komentar

  1. hehe…bagus..bagus..bagus. stelah baca tulisan dik dokter yang masih takut nikah, sekarang rasanya saya mulai tahu mengapa banyak lamaran datang …

    • kenapa?

  2. Cerdas..^^


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s