ONCE UPON A TIME IN ANDALUS

Berikut merupakan sebuah cuplikan kisah kunjungan duta besar negara-negara Eropa. Kisah ini dimuat dalam kitab Islam in Andalus karya ibn Arabi saya kutip dari buku karangannya Salim A Fillah

…………
Sepanjang jalan, mulai dari gerbang kota Cordoba hingga gerbang MadinatuzZahra, yang berjarak kira-kira 1 pasarange (sekitar 22 km), dibariskan dua jajar pasukan di tiap sisinya. Para prajurit ini, mengangkat tinggi-tinggi pedang mereka yang telanjang, berat dan panjang, hingga ujung-ujungnya saling bersentuhan membentuk semacam atap

Dengan menelusupi jajaran pedang berkilat yang rasanya tak habis-habis itu, para duta besar telah merasakan teror yang tak terlukiskan. Tanah yang mereka lewati dilapisi kain brokat, dari mulai gerbang kota hingga tempat peneriamaan tamu. Pada interval-interval tertentu di seberang jalan, disediakan tempat duduk bagi para pejabat, yang karena kemewahan bahan dan dekorasinya telah mereka kira sebagai singgasana.

Para duta besar itu berlutut dan menjatuhkan diri, yang segera disambut dengan ucapan santun,
“bangunlah… ini hanyalah pelayannya pelayan dari pelayan khalifah”

Sungguh sebenarnya mereka tak sanggup mengangkat muka. Tetapi pemandangan MadinatuzZahra terlalu menakjubkan untuk dilewatkan meski dengan lirik-lirik sekilas. Ada 13750 pelayan laki-laki, 3350 perwira muda dan sida-sida Sclavonia, ada 6314 dayang-dayang di harem, dan sesekali terlihat kerumunan para qadhi, khatib, ulama dan penyair berjalan dengan anggunnya melewati balairung-balairung yang megah, ruang penyokong yang mewah, dan halaman-halaman yang luas bertaman jelita. Memikirkan bagaimana memberi makan dan pakaian pada semua orang ini saja sudah membuat para duta besar itu pusing.

Berdampingan dengan istana, tampak sebuah taman dengan danau buatan yang di tengahnya dibangun sebuah ruang musim panas dari kaca buram dihiasi emas. Arsiteknya begitu baik merencanakan bangunan ini sehingga, dengan hukum geometri tertentu air danau dinaikkan hingga mencapai puncak kubah melalui ruang musim panas ini dan kemudian mengucur di kedua sisinya, bergabung lagi dengan air danau. Dalam ruangan ini, kita dapat duduk tanpa tersentuh air yang mengitari dari semua sisi, dan menghirup udara segar musim hangat. Kadangkala, lilin dinyalakan di dalam ruangan dan menghasilkan efek mengagumkan dari dinding yang transparan itu

Balairung khalifah, genteng penutupnya terbuat dari emas dan perak murni, dan terdapat sebuah kolam berisi air raksa di tengah-tengah ruangan ini; pada tiap sisi di kedelapan pintu memancang lengkungan gading dan kayu hitam, dihiasi emas dan berbagai jenis batu mulia, menyandar pada tiang-tiang beraneka ragam marmer, pualam, dan kristal bening.

Pantulan sinar mentari pun sudah cukup menyilaukan, ditambah lagi, jika khalifah ingin meminta tamunya pergi, ia tinggal memerintahkan agar air raksa dalam kolam digerakkan, hingga tercipta efek sorotan cahaya dan seolah-olah seisi ruangan itu bergerak dengan suatu poros mengikuti arah matahari dan mengerikan.

Akhirnya para duta besar itu sampai di ruangan yang mencolok sederhana, lantainya bertabur pasir. Di tengahnya seorang lelaki duduk lesehan di lantai dengan kepala condong ke depan. Pakaiannya terbuat dari kain kasar berlengan pendek tak berlapis-lapis. Semua yang dikenakannya berharga tak lebih dari 4 dirham. Di hadapannya terdapat sebuah mushaf, sebilah pedang, dan perapian kecil

“Inilah sang Khalifah!” pemandu memberitahu. Maka tiba-tiba mereka menyungkur sejud. Sebelum mereka sempat menggumamkan kata apapun, khalifah berkata, “Allah telah memerintahkan kami, wahai kalian, untuk menyeru bangsamu pada ini!”, sambil menunjuk mushaf. “Jika kalian menolaknya, kami akan memerangi kalian dengan ini!” ia menunjuk pedang, “dan celakalah kalian jika terbunuh, karena kalian akan terbakar dalam ini!”, ia menunjuk api

Teror puncak akhirnya menyergap para utusan itu. Khalifah memerintahkan mereka dibawa keluar sebelum sempat mengatakan apapun. Kemudian traktat disodorkan, dan mereka menandatanganinya gemetaran, lengkap dengan semua syarat yang diajukan khalifah. Tak ada tawar sedikitpun
——————

2 Komentar

  1. Asalamualikum
    Meski ga nyambaung ana cuma mau tanya karya akhi yang laen selain bety ta iye apa aj???ana nyari2 kok g ada??karena email ana gagal terkirim
    Sukron Katsir Wasalamualikum…………………….
    SEMANGAT!!!
    Terus Berjuang
    Terus Berdakwah dengan Pena!!!!!!!!!!!!!!!!

  2. Kalo saya menyimpulkan, Ibnu ‘Arabi yang hidup di abad ke-13 pastilah hanya bernostalgia ketika menulis cerita ini. Sebab, Istana Madinah al-Zahra’ (Medina Azahara) sudah hancur akibat perang saudara 200 tahun sebelum Ibnu ‘Arabi hidup. Dan di masa Ibnu ‘Arabi, istana itu sudah jadi puing2.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s