Beruntunglah…. Beruntunglah… (Panji di Padepokan dakwah seri 2)

Wuusshh…..
Angin keras bertiup menebarkan debu-debu pasir. Tiupannya deras menghantam wajah putih bersih Panji. Hingga wajah mulus itu kini penuh debu. Wajah itu tak mengkilat lagi….
”Akh! Kotor, kek!” jeritnya sembari berusaha membersihkan debu pasir di wajahnya.
Kakek Matasatu menggumam pelan. Matanya mendelik tajam ke arah Panji.
”Hmm… Anak muda… itu baru hembusan angin pelan… baru kotoran debu pasir. Akan tiba masanya dalam perjalanan, kerikil akan menyapa kulit telapak kaki mulusmu, luka-luka dari semak berduri akan memenuhi sekujur tubuhmu, jilatan matahari akan membakar dan menghitam legamkan kulit putih bersihmu….”
”Huaahh… jadi separah itu!!” muka Panji langsung tertunduk layu. Pandangannya kemudian diangkatnya pelan, ditatapinya raut muka Kakek Matasatu. Tidak! Si kakek tidak sedang membual! Tatap matanya jauh dari kebohongan. Dia berkata kebenaran!
”Ya… ya… ya… masih belum terlambat untuk mundur dan pulang. Aku menyesal, sepertinya engkau bukan pemuda yang aku cari-cari. Dirimu sangat jauh dari mental seorang pendekar….. Sepertinya engkau tidak akan tahan…..” Ucap Kakek Matasatu pelan seraya sedetik kemudian beranjak pergi. Panji hanya terdiam termangu.

”Banyak pemuda datang… kemudian berlalu
Apa sebenarnya yang kalian ragu…
Apakah ayat mulia alQur’an hanya dianggap senandung bisu
Ataukah jannah yang indah itu cuma bualan semu..”
Senandung Kakek Matasatu sambil berjalan menjauh dari Panji yang masih duduk berlutut terdiam.
”Hai anak muda…. kalau kau memang bernyali pendekar…. kutunggu engkau malam ini di pondokanku….. Pondok Istiqamah…..” Ucap Kakek Matasatu dari kejauhan ke arah Panji.
Wuusshhh…. dan angin pun kembali keras bertiup.
”Tungguu!!” jerit Panji. Namun terlambat, Kakek Matasatu telah menghilang ditelan oleh hembusan angin barusan.
”Siaall!” teriak Panji sambil meninju-ninjukan tangannya ke pasir tempat tubuhnya berpijak. ”Memangnya siapa dia berani mengatai-ngataiku!! Aku berhak menentukan jalan hidupku. Memangnya apa untungnya berada dalam padepokan ini?!! Umurku masih muda. Aku tidak mau mati sia-sia di tempat keparat ini! Persetan dengan segala ucapan kakek tua bangka itu! Aku akan pergi dari sini sekarang juga!” Umpatnya keras.
Panji bangkit. Dibersihkannya segenap pasir yang melekat di pakaian menterengnya. Digantungkannya kembali ransel ke pundaknya.
Hari masih siang… belum terlambat untuk pulang… pikirnya seraya melangkahkan kaki keluar dari pintu gerbang. Namun anehnya, langkahnya terasa begitu berat, makin lama samakin berat…
”Akhh.. tempat sialan! Dasar kakek tua bangka! Sihir apa yang kau gunakan barusaaann!” Umpatnya lagi. Namun sia-sia saja, kini seluruh tubuhnya terasa begitu berat. Dan…. brukk… tubuhnya pun oleng ke tanah pasir tadi.

…….
Panji terbangun. Dia terperanjat ketika melihat dirinya berada di tempat yang berbeda. Ini bukan tempat barusan, teriak hati Panji. Matanya berbinar melihat pemandangan yang dilihatnya… ”Ya… ini seratus delapan puluh derajat berbeda! Hahaha… aku selamat! Aku berada dalam surga!!” teriaknya lagi.
Di depannya permadani indah terurai, gundukan emas tinggi berserakan, Sementara bibir-bibir molek mengecup mesra seakan-akan melambai-lambai mengajaknya untuk segera berlari ke sana. ”Ya ya ya… aku datang! Aku segera datang!” Diambilnya ransel dan tidak menunggu waktu lagi Panji segera berlari menyongsong pemandangan nikmat yang ada di hadapannya…. sebelum…
”Brakkk!” sesosok tubuh tegap menabraknya hingga terjatuh.
”Heii! Apa maksudmu menghalangiku! Bedebah!” Umpat Panji, namun sosok tegap tadi tidak memperdulikan umpatan kasar dari Panji, dia malah menampar wajah Panji hingga pingsan dan menyeretnya menjauh.
……

Panji kembali terbangun. Kali ini kembali di tempat yang berbeda… Dirinya terbaring dalam sebuah dipan emas berbantalkan sutra. Dipandanginya sekitar, wahai! Ini pemandangan yang sungguh indah, bahkan saking indahnya dirinya sendiri tak pernah sebelumnya membayangkannya walau selintaspun. Di hadapannya taman bunga berwarna-warni, di bawahnya mengalir sungai indah jernih dari susu, sementara di halamannya para wanita dengan kecantikan sempurna asyik bermain… mereka secantik bidadari! Gumam Panji berdecak.
“Mereka memang bidadari…” tiba-tiba satu suara asing membuyarkan lamunannya.
Sosok tegap yang menubruknya keras tadi. Kali ini bersama dua orang temannya. Yang satu seorang pemuda berwajah sangat tampan, sedangkan di sebelahnya lagi seorang yang berperawakan hitam legam. Ketiganya tersenyum cerah kepadanya.
”Assalamu’alaikum warahmatullah….” ucap ketiganya hampir berbarengan.
”Wa….wa alaikum salam….. Tempat apa ini…? dan… dan siapa kalian…?”
Ketiganya hanya tersenyum simpul.
”Hmmm… kisanak… sepertinya engkau terlihat sangat lelah. Istirahatlah dahulu” ucap salah seorang yang berbadan tegap tadi sembari menyodorkan sebuah piala dari emas berisi minuman. ”Minumlah dahulu…”
Dengan agak curiga Panji menghirup air yang disodorkan padanya.
”Wuaahhh…. luar biasa! Minuman apa ini? Sungguh kenikmatan yang tiada tara!!” teriak Panji takjub.
”Minuman itu adalah minuman khusus yang diperuntukkan bagi para penghuni surga…” jelas temannya yang berkulit hitam legam
”Maksudmu…. ini di surga?”
”Ya kisanak, namaku Hamzah, dan dua orang temanku ini adalah Mush’ab dan Bilal” Sahut sosok tegap tadi memperkenalkan diri dan teman-temannya.
”Tapi kenapa engkau tadi menabrakku dan menamparku?!!” sergah Panji masih penuh tanya.
”Oohh… tadi barusan aku menghalangimu…. engkau terbuai dengan pemandangan semu. Kau bergegas menuju ke sana… kau kira itu kenikmatan sejati, padahal tepat di bawahmu terdapat sebuah jurang sangat dalam dengan jilatan api yang membakar. Kau begitu bergegas menuju ke sana, aku terpaksa menghajarmu supaya engkau tidak melanjutkan tindakan bodohmu itu” jelas Hamzah.
”Melihatmu ini aku seperti melihat diriku yang dulu,..” Si pemuda tampan bernama Mush’ab menimpali.
“Dulu aku dikenal dengan julukan si Mush’ab yang wangi. Di kotaku tidak ada pemuda yang bisa menyaingiku dalam kesenangan hidup. Ketampanan, kekayaan, kebangsawanan, dan orangtua yang selalu memanjakan. Bahkan para wanita selalu melirikkan matanya ke arahku……”
“Sayangnya suatu ketika aku bertemu dengan sebuah cahaya. Dan aku memutuskan bergabung dengan cahaya itu. Cahaya yang sungguh indah…. walaupun supaya bisa bersama cahaya itu aku harus membuang segala kenikmatan di awal tadi. Namun aku ikhlas membuangnya, karena aku yakin kenikmatan yang ditawarkan Cahaya itu terlampau indah untuk dilewatkan. Kesempatan tidak akan datang dua kali, kalau kutolak kesempatan itu mungkin aku akan selamanya terjerembab dalam kesenangan semu yang melenakan. Maka kupilih bersama Cahaya, dan jadilah aku si Mush’ab yang lusuh dan compang-camping miskin… namun jiwanya merdeka.. jiwanya begitu bahagia… hingga syahid menjemputku…. dan Dia tak pernah ingkar janji. Kenikmatan tiada tara menjadi hadiah sepadan bagi jalan terjal yang kutempuh….” Si Mush’ab menuturkan riwayatnya.
”Kalau aku…. mungkin kau sering mendengar ceritaku…. si budak hitam yang tidak ada harganya” kali ini giliran si hitam yang bercerita. ”Hari-hariku suram sesuram warna tubuhku… aku tidak punya masa depan. Orangtuaku budak, diriku budak, dan keturunanku nantinya juga budak. Namun tiba-tiba terpampang jalan Cahaya di depan mataku. Maka tanpa pikir panjang kupilih jalan itu… kuikuti jalan Cahaya. Meski akhirnya diriku disiksa di luar batas yang dibayangkan manusia, ditindihi batu diterik panas tanpa sehelai pakaian… namun yang kubayangkan saat itu adalah kebahagiaan… mereka boleh menyiksa ragaku… namun mereka tak kan pernah bisa menyiksa jiwaku… karena jiwaku bersama Cahaya. Maka berkat ketabahanku menempuh derita, maka anugerah inilah yang kudapat. Maha Suci Dia atas segala nikmat tiada tara….”
”Nah, kalau si gagah yang menabrakmu tadi itu lebih hebat lagi…” Jelas si hitam sambil menepuk si tegap Hamzah.
”Dia bahkan menjadi tameng terdepan yang membela jalan Cahaya. Keahliannya bertempur menjadi kekuatan tersendiri untuk memuluskan jalan Cahaya itu. Berkatnya kekufuran yang selalu mengganggu menjadi bergidik. Dan pengorbanannya… mungkin kau belum pernah memikirkan tentang tewasnya seseorang di medan tempur dengan tubuh dibelah dan jantungnya diambil untuk dilahap…. beliaulah orangnya si penghulu syuhada. Dan kini kesedihan telah terhapus… bahkan kami seperti tidak merasakan penderitaan apa-apa ketika melihat kenikmatan yang diberikan olehNya ini…” Si Tegap yang diceritakan hanya manggut-manggut.
Panji tertegun keheranan, masih tak percaya dengan kejadian yang dialaminya.
”Ya, beruntunglah pendekar-pendekar yang mengikuti jejak-jejak kami menempuhi jalan Cahaya… Sungguh kenikmatan sejati sedang menunggu mereka…” ucap mereka serempak
”Beruntunglah…. Beruntunglah…. Beruntunglah….”
Kata-kata itu terus bergema…. semakin mengeras…. dan tiba-tiba pandangan Panji kembali menghitam……

……..

Panji kembali terbangun. Kini dia berada di tempat semula, tempat yang sama ketika dia bertemu dengan si kakek tua. Gerbang itu masih terbuka…..
”Ah, hanya mimpi….” pikir Panji. Hari sudah senja, masih sempat untuk pulang, pikirnya lagi. Dicobanya untuk bangkit… kaki dan tubuhnya kini tak seberat semula. Bergegas dia bereskan barang bawaannya yang sempat berserakan dan dimasukkannya dalam ranselnya.
Panji melangkah keluar meninggalkan pintu gerbang, ketika tiba-tiba…
”Beruntunglah orang-orang yang menempuhi jalan cahaya…. Beruntunglah… Beruntunglah…” Suara itu! Entah dari mana munculnya. Suara dari tiga orang yang ditemuinya dalam mimpi….
”Beruntunglah…. Beruntunglah… Beruntunglah….” Suara itu terus bergema tak mau berhenti seperti hendak memecahkan gendang telinganya…
”Aaarggghhhhh!!!!” teriak Panji sekeras-kerasnya.

………………….

Malam bertabur bintang. Udara dinginnya menusuk, merembesi hingga ke dalam pilar-pilar pondok. Sebuah pondokan sederhana….. dimana di dalamnya duduk bertelekan seorang kakek tua, asyik tepekur sembari jari-jarinya tak putus memainkan tasbih kayunya.
”Hehehe…. sudah kuduga engkau akan datang anak muda…..” suaranya terkekeh.
Di hadapan pintu seorang anak muda terduduk terengah. Nafasnya tersengal, keringat membanjiri tubuhnya. Wajah putih bersihnya penuh kotoran. Kaki dan tangan serta bagian tubuhnya yang lain penuh luka, darah merah merembes melalui pakaiannya yang kini penuh dengan robekan.
”Jadi apa keputusanmu, anak muda?” Tanya si kakek sambil tetap menusuri tasbihnya.
Panji, dengan suara terengah… “tekadku sudah bulat…. aku tak akan kembali….. aku akan berada dalam padepokan ini….. menempuh jalan Cahaya!” dalam lelah wajahnya terlihat berseri.
“Hehehehe…..” Kakek Matasatu hanya tertawa terkekeh.
“Beruntunglah…. Beruntunglah….” gumamnya kemudian.

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imron: 104).

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s