SELAMAT DATANG DI PADEPOKAN… (Panji di Padepokan Dakwah seri 1)

Selamat datang di padepokan dakwah.
Padepokan dimana di dalamnya berhimpun manusia dari berbagai macam ras dan suku bangsa. Padepokan dimana bahasa percakapan sehari-harinya adalah amar makruf dan nahi munkar, jurus-jurus kanuragannya adalah hikmah, mau’izah hasanah dan jaadilhum billati hiya ahsan, senjatanya adalah Do’a dan Istiqomah, sensei agungnya adalah Muhammad Sallahu ’alaihi wa sallam, dan Kitab pusakanya adalah AlQuran dan Sunnah.
Inilah padepokan yang telah berhasil mencetak ribuan pendekar tangguh dari segala zaman. Pendekar-pendekar yang telah dengan gemilang mengukir karya-karyanya mewarnai semesta.
Tidak sulit untuk memasuki padepokan ini. Engkau tidak perlu merapal mantra-mantra khusus terlebih dahulu, atau bertapa berpuluh hari sebagai prasyaratnya. Cukuplah syarat bahwa engkau beraqidah islam, maka otomatis engkau telah diterima di padepokan ini. Karena sesungguhnya, padepokan dakwah adalah padepokan yang sudah semestinya digeluti oleh yang mengaku muslim. Ketika mereka memancangkan syahadatnya, maka dirinya telah berkewajiban berada dalam barisan di padepokan ini.

Selamat datang di gerbang padepokan dakwah…..
”Hei, tapi kok sepi sekali…..?”
Seorang pemuda berwajah putih bersih dengan penampilan perlente menenteng ranselnya tertegun di depan gerbang pedepokan. Di hadapannya seorang kakek tua bersandar di tongkatnya. Wajahnya penuh kerutan namun memancarkan cahaya. Mata kirinya sudah memutih dan tampaknya memang sudah tidak bisa dipakai lagi. Namun mata kanannya yang tersisa terlihat begitu tajam, lebih tajam dari mata elang.
”Ya, memang sepi. Padahal seharusnya, seperti yang sudah disebutkan, semua yang mengaku beriman mestinya bergabung dalam padepokan ini…”
”… lalu….. kenapa?” tanya si pemuda tadi
”Anak muda, di padepokan ini ada syarat yang seringkali tidak bisa dipenuhi…”
”Apa itu?” sergah si pemuda penasaran
Sang kakek terdiam lama.
”Syaratnya adalah tekad yang kuat. Engkau lihat, di luar banyak yang masih belum mau memasuki padepokan ini. Karena mereka belum merasa perlu untuk berada di sini. Beberapa yang telah masuk ke sinipun tidak lama segera menyingkir dan mengundurkan diri, dengan berbagai alasan. Ada yang sibuk dengan sekolahnya, pekerjaannya, keluarganya. Ada yang tersesat masuk dalam perangkap maksiat. Ada yang dilingkupi oleh perasaan futur, malas, dan lainnya. Namun yang jelas, inti permasalahannya adalah sama… karena tidak kokohnya tekad mereka.”
”Hmm… Kau belum mengenalkan siapa dirimu….” Sergah si Kakek tua
”Oh, iya maaf, Kek. Nama saya Panji.. Kakek sendiri siapa dan kenapa ada di sini?” Panji balik bertanya.
“Kau bisa memanggilku Kakek Matasatu, anak muda. Aku penghuni padepokan ini”
”Sebentar. Kalau memang ini padepokan…. saya kok tidak melihat ruangan latihannya…” tanya Panji
”Hahaha… padepokan ini bukan padepokan biasa. Padepokan ini luas, seluas tempat di bumi yang dihuni manusia….. Ketika azzam telah bulat memasuki padepokan ini, maka seluruh bumi telah manjadi ruangan latihanmu. Dan setiap aktivitas hidup yang engkau jalani, setiap guliran detik yang engkau lalui adalah ajang latihanmu..” Kakek Matasatu hanya terkekeh melihat raut bingung Panji.
“Ya… ya.. ya… Oke…. Tapi kira-kira sampai kapan saya akan berada di sini?”
”Panji, sampai kapan itu engkau yang memutuskannya. Sampai besok, lusa, minggu depan, tahun depan, bahkan sekarang pun engkau bisa minggat dari sini. Semua itu adalah pilihan engkau. Namun satu hal, pendekar sejati akan berada di sini hingga ruhnya terpisah dari jasad. Ini padepokan abadi, yang akan tetap eksis selama dunia masih ada.” lanjut si kakek

Sepi….
Ketika gerbang padepokan terbuka, tiba-tiba terpampang bebatuan terjal, semak berduri, lahar panas, terik matahari, kerikil tajam…..
Sementara di saat yang sama, berada di samping padepokan, tiba-tiba terbuka pula gerbang yang lain. Wangi harum menyengat tercium, lambaian tangan-tangan halus dan mata-mata nakal menyerling. Bangunan dari koin-koin emas tersusun mengkilap….
Aakhkh…
”Nah, sekarang terserah engkau, Panji…. pilihan sepenuhnya di tangan engkau, hendak memasuki gerbang yang mana…..”

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s