DAKWAH, SAYA, ANDA, KITA…

Kalau saya sodorkan kata dakwah dan da’i…. maka apa yang akan terlintas di benak anda?
Bless… muncullah di atas kepala anda bayangan sosok berkopiah haji memakai sorban, dengan jubah putih… sementara jenggot panjang nangkring di dagunya…. di tangan kanannya ada tasbih, di tangan kirinya memegang sebuah kitab kuning….
Lalu…. Cek cek. Assalamualaikum warahmatullah… innal hamdalillahi….. Kaum muslimin yang dirahmati Allah…. Sehingga intinya adalah pengendalian diri…. Jagalah hati…. Qoolallahu ta’ala fi qur’anil kariim….. dan bla bla bla…
Bagaimana kalau bayangan di atas kepala anda saya hapus. Saya ganti dengan bayangan seperti ini…
Seorang tukang becak dengan topi purunnya, mengayuh becak di tengah terik. Sementara di dalam becaknya sepasang muda-mudi sedang asyik bercumbu… mulai berpegangan tangan saing rayu… hingga sebuah kecupan bibir hampir mendarat di pipi si cewek. Mendadak becak berhenti. Ciuman si cowok gagal mendarat. “Astaghfirullah! Nak, nggak baik…. Maksiat nak! Gusti Allah nggak suka….” Seru si tukang becak. Brakk… tak terima, si cowok turun dari becak dan menghadiahkan bogem mentah kepada si tukang becak… apes…
Nggak jauh dari jalan itu… seorang pemuda sedang bersepeda, tiba-tiba dia melihat ibu-ibu membuang bungkus makanan ke jalan. Si pemuda berhenti tepat di depan ibu tersebut. Dengan senyum renyah tanpa bicara sedikitpun dia memungut bungkus makanan itu dan memasukkannya ke bak sampah yang terletak tak jauh dari sana.
“Huh, anak muda sok bersih” suara si ibu sewot.
Dan tepat di seberang jalan tempat ibu yang masih mengumpat sewot itu, di kantor seorang pengacara..
“Win win solution saja Pak. Bapak untung, saya juga untung. Kita tutup saja kasus ini…” seorang berperawakan gendut. Dibukanya lembar cek bernilai ratusan juta.
Di hadapnya, seorang pria kelimis berjas berdasi duduk anggun di belakang mejanya.
“Maaf Pak, bukannya apa-apa. Tapi saya takut dengan ancaman Allah, yang menyuap dan yang disuap tempatnya adalah neraka…” sahutnya.
…………….
Yup… semoga anda setuju… bahwa yang namanya dakwah bukan hanya ceramah seperti di contoh pertama. Semoga anda setuju pula bahwa yang namanya dai tak melulu memakai sorban dan jubah. Dia bisa saja memakai kaos oblong celana jeans atau pakai jas dan kemeja yang rapi. Dia tak mesti berjenggot panjang, tak selalu bawa-bawa tasbih.
Karena dakwah itu bukan penampilan.
Dan da’i si penyampai dakwah tak mesti ada di mimbar masjid, tak mesti berada di atas panggung. Dia bisa saja ada di belakang meja kerja, atau sedang mengangkut barang, atau sedang menulis, atau sedang mengajar di depan kelas.
Karena da’i bukanlah profesi.
Dia bisa saja berperan sebagai seorang polisi, seorang hakim, seorang murid sekolah, seorang pedagang, atau seorang pemulung
Dan saya harap da’i itu adalah saya
Lha saya punya mulut, saya punya tangan, punya kaki….. berarti nggak ada alasan buat saya tidak dakwah
Dan saya harap da’i itu juga adalah anda.
Lha wong anda sama dengan saya… punya mulut juga, punya tangan dan kaki juga…. Jadi tak ada alasan menolaknya.
Sehingga dai itu saya harap adalah kita.
Alasan paling sederhana dan paling utama, karena kita adalah muslim… dan otomatis kita tak bisa menolak seruan dari Allah tentang kewajiban bernama dakwah tersebut.
Masih menolak juga? Kebangetan!

5 Komentar

  1. Saya bangga jadi Muslim
    Saya bangga jadi pendakwah!

    RUARR BIASA!

  2. ya, kita juga sama-sama lagi dakwah, dakwah bit-tadwin

  3. wuich…
    tambah semangat berdakwah nih….
    mudahan stay on trus dalam dakwah… amin

  4. ok banget artikelnya….

    mudahan stay on trus dlm dakwah

  5. Menjadi Kewajiban kita Bersama untuk bertarung MELAWAN pemikiran Kapitalisme… berda’wah adalah tugas kita semua sahabat


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s