ARIEL, LUNA MAYA, CUT TARI, DAN SAYA

Sudah lebih dari satu bulan, namun pemberitaan tentang tiga orang pesohor negeri ini tak kunjung mereda. Saban hari, nggak infotainment, nggak berita beneran (wehe… artinya infotainment bukan berita beneran dong) tak absen memberitakannya. Hari ini kisah lambaian mesra ariel di penjara, besok konferensi pers pengakuan dari cut, besoknya giliran luna maya lagi daan seterusnya. Tak lupa, numpang beken para tokoh-tokoh seputaran mereka, mulai dari pengacara, kawan dekat, keluarga, tokoh-tokoh masyarakat, dan sebagainya.

Kurang kerjaan. Bisa jadi. Kurang berita… mmm .. mungkiin… tapi kurang ajar! Itu pasti.. itu bukan kata-kata dari saya lho, tapi kata-kata dari rata-rata orang awam yang menanggapi kisah seputaran video asusila yang diaktingi mereka.

“kalau luna maya, masih mending… kan itu memang pacarnya…. Tapi cut tari? Masa punya orang diembat juga.” Eh ada juga obrolan seperti itu yang numpang lewat di kuping saya. Jenis pendapat yang bikin miris. Seakan hubungan Ariel dan Luna nggak jadi masalah karena sudah sah pacaran.
“Salah mereka… kenapa juga dividiokan?” nah.. nah.. nah…. Sebuah pembenaran lagi terhadap zina yang sirr…. Sembunyi-sembunyi. Seolah yang dicekal itu adalah penyebaran videonya.
“Lha iya lah… si Ariel cuma korban… yang bejat itu adalah oknum yang mencuri file dan menyebarkannya!” tanggap yang lain dengan geram, sementara matanya asyik memelototi video Ariel di hape layar sentuhnya.
“kapan ya… video Ariel dengan artis-artis yang lain keluar?” Weii..weii.. ini komentar yang paling parah…. Tunjuk jari, siapa yang berkomentar barusan!
Hening, beberapa orang ngibrit.

Belakangan, substansi berita-berita seputar video mesum Ariel mulai berubah. Tak ada lagi kegeraman tentang perilaku bejat si vokalis. Yang ada malah sebuah ‘kemakluman’, rasa kasihan, hingga kepedulian bahkan pembelaan. Para sahabat Peter pan dan para selebritis ramai-ramai menjenguk Ariel, para seniman menggelar konser peduli, pihak reskrim berupaya megungkap siapa pelaku penyebaran video, dan pembahasan tentang modus balas dendam si pelaku penyebar.

“Lho, ente sendiri? sebenarnya ente hanya menambah daftar panjang pemberitaan seputar Ariel? Ngapain juga ente mengangkat kisah ini di sini? Dasar penulis kurang kerjaan!” sebuah hujatan mendarat ke telinga saya.

Suka-suka saya dong.
Saya sejujurnya tak begitu peduli dengan isi-isi berita yang dilansir pelbagai media itu. Tapi, begitu mendengar statement bahwa “si Ariel hanyalah korban”.. tiba-tiba saya tercenung.
Kok dipikir-pikir betul ya….
Ariel, Luna, dan Cut sebenarnya tak jauh beda dengan saya.
Bukan, bukan tak jauh beda karena saya juga selebritis sama seperti mereka. Kita tidak sedang membahas itu.
Mereka dan saya sebenarnya sama… sama-sama memiliki banyak dosa dan kebejatan. Bedanya, Allah telah membukakan kebejatan dan dosa mereka di khalayak umum. Sementara Allah masih berkenan menutupi dosa-dosa dan kebejatan saya. Itu saja.
Sejenak saya merasa begitu bersyukur akan nikmat Allah yang satu itu, nikmat yang seringkali terlupakan, kenikmatan akan ditutupinya borok saya dari penglihatan manusia lain.

Tapi sejenak kemudian tiba-tiba tengkuk saya bergidik ngeri. Bukankah akan tiba waktunya nanti, dimana borok, panu, bisul, koreng dosa saya dipertontonkan lewat layar raksasa di milyaran mata manusia seluruh dunia?
Kebayangkah…? Dimana saat itu, setelah menyaksikan video keburukan tersebut seluruh mata kemudian berpaling serentak memandang penuh kejijikan kepada tubuh saya yang telanjang.
Wajar, bila pada hari itu.. peluh saya membanjir hingga menenggelamkan tubuh saya…
Wajar…. Muka saya bahkan menghitam karena saking malunya.
Bahkan, Ariel, Luna dan Cut pun turut prihatin menyaksikannya.

Dan saat itu..
Jangan harap bakal ada spanduk dukungan, jangan harap ada pembelaan pengacara.
Jangan harap ada konser peduli..!

13 Komentar

  1. aduh..
    mudaha-mudahan cepet kelar masalahnya..
    sangat sabertele-tele dan berlarut-larut bgt…

  2. Sip

  3. hhmmmmm….
    aib koq diumbar..
    aib koq dibuat topik pembicaraan… tulisan… gambaran….
    dok.. analisisnya agak ditajamin dunk..
    ntu kan masalahnya karna ga ada pemahaman tentang pergaulan, karna standart di masyarakat juga ga jelas, mana yang harusnya dicaci mana yang harusnya dibela.. kabur semua..

    • yap, namanya juga baru belajar menulis…. nanti saya perbaiki…. nah, para pembaca… penjelesannya sudah ditambahin oleh ‘nae’

  4. wew cara penyampaian yg berbeda..penulis ikut introspeksi,menyindir semua pembaca juga introspeksi…bukan tulisan yg memvonis tapi langsung mengena

  5. Besok justeru yang perlu dikasihani adalah kita…karena kita tak mendidik orang-orang sekeliling kita untuk membenci dosa…dan adakah yang kemudian melakukan bom bunuh diri untuk menghabisi orang-orang yang menghalalkan kedzoliman…akh kita juga gak bisa berbuat apa-apa…

  6. hha* .
    kapan* boleh tuh ngangkat cerita skandal para wakil rakyat🙂

  7. Hmmmm, miris juga y mas. Nampaknya indonesia kita yg dulu santun, sopan dan beradab sudah pudar. Keep inspiring Bro!!!

  8. hoi hoi … artis… fauzan minta nomornya dong, add facebook gw ya, alkemail@gmail.com, ini gw loka yang ngelayout save us gue dulu.

    • sudah saya kirim ke email bersangkutan mas.. apa kabarnya? saveus sudah jadi kenangan tempo dulu…. ntar sms saya ya

  9. Kita jarang memiliki cermin refleksi hati
    dtambah kontrol dari pemikiran serta naluri kebenaran yang murni
    jauh
    perjalanan perbaikan yg mesti ditapaki
    bila kurang ikhlas maka akan banyak halangan yg berasal dari diri kita sendiri

    subhanallah dok bhasanx
    btw,kpn2 nih kunjungan k sma anta dulu?
    Adik2 mu perlu sokngan ideologis dr pndahulux
    🙂

  10. seperti dah mahir dalam hal baris berbaris jadi rapi en tertata ne tulisan, nice post next

  11. ya orang mudah sekali menvonis orang ini dan itu padahal itu sih namanya kita memakan daging saudara kita sendiri, tapi aneh kenapa berita yang tak terlalu penting itu terlalu diekspos, padahal banyak berita yang lebih penting daripada itu tidak diekspos, seperti kebrutalan si sialan israel itu yang masih sampai sekarang menyiksa rakyat palestina


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s