SAYA DAN THE LAW OF ATTRACTION

Itu, tema yang sontak ramai dibuahbibirkan orang-orang setelah mengkaji buku The Secret, karya salah seorang perempuan berpengaruh, Rhonda Byrne. Idenya, hukum daya tarik, dimana sesuatu akan menarik sesuatu yang mirip dengannya. Makna pentingnya, saat kita memikirkan sesuatu sesungguhnya kita sedang menarik sesuatu itu ke arah kita. Dalam hukum daya tarik ini, bayangkan bahwa pikiran kita laksana sebuah medan magnet yang akan menarik hal-hal yang bersesuaian dengannya. Pikiran kita memiliki getaran frekuensi yang kita pancarkan ke sekeliling kita. Bila getaran frekuensi yang kita pancarkan merupakan getaran kesuksesan dan kebahagiaan, alam semesta akan mengatur kesuksesan dan kebahagiaan itu sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Sebaliknya, bila yang kita pikirkan adalah marabahaya, maka kemungkinan besar hal-hal itulah yang bakalan menghampiri kita.

Saya bukan umatnya Byrne. Saya umatnya Muhammad saw. Dan jauh sebelum Byrne berkicau tentang pentingnya daya tarik keinginan yang akan menarik sebuah realita ke magnet bernama diri kita. Guru saya yang mulia itu, belasan abad yang lalu telah bertutur tentang kekuatan sebuah doa. Do’a itu senjata kaum mukmin, ujarnya.

Dan saya percaya itu.. jauh melebihi kepercayaan saya terhadap sabda Byrne. Aksiomanya hanya sebagai pembenaran. Tak lebih.
Dan sebagai umat yang beriman, iman saya tak terpenjara di pikiran. Saya membuktikan. saya melakukan hukum daya tarik dengan keimanan itu.

***
Ibu saya, seorang penjual daster di sebuah toko dua kali dua teramat sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu, terdapat sebuah attraction yang begitu rumit. Attraction ibu saya berbunyi: ”saya meski jual daster, namun tekad saya anak saya akan jadi dokter”
Saat itu si anak bukan potongan anak yang bisa diharapkan. Kerjaannya cuma main robot-robotan di toko. Kalau lagi bosan hobinya jalan-jalan keliling pasar menyaksikan ’tukang sulap’ keliling yang mengamparkan tikarnya beratraksi. Lebih parah lagi, si anak adalah phobia dokter… paling benci dengan makhluk Tuhan yang bernama dokter. Tapi apa dinyana, umur 18 ketika lulus SMA si anak di detik-detik terakhir pemilihan jurusan kuliah, malah mencontreng pilihan: fakultas kedokteran.

Remaja itu kini memasuki masa-masa awal penerimaan kuliah di fakultasnya. Dengan konyolnya dia maju ke depan saat-saat penutupan acara. Berkhutbah layaknya orator ulung. ”saya akan menjadi yang terbaik di antara kalian” ucapnya asal. Tepukan beramu ejekan membahana. Si remaja puas. Keinginannya untuk tampil ke depan sudah tersalurkan. Tapi bagaimana dengan bualannya barusan? Akh… emang gue pikirin…. jawabnya.
Dan terbukti, dia memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di tengah lautan prestasi bernama mahasiswa-mahasiswa kedokteran. Dia adalah makhluk kacangan. Kacang yang berharap orang-orang sudah lupa dengan bualannya di awal.

Tak lama, sebuah spanduk kegiatan berkibar dan nyeletuk di hadapan matanya. Dialog mahasiswa menghadirkan pembicara ’mahasiswa berprestasi UNLAM’. Huahahaha…. nama saya kelak yang akan tertulis di spanduk itu…. pikir dia dengan yakinnya.

Dan percayakah anda, semuanya berawal dari celetukan iseng dari rongga kepala itu, maka remaja konyol itu bertekad bagaimanapun caranya harus bisa meraih gelar itu….. buat apa? Supaya namanya bisa tertulis di spanduk itu. Dan hup! Dua tahun berselang, dan semuanya terbukti. Entah bagaimana caranya, walaupun dosen pembimbing menghinanya dengan mengatakan dirinya sama sekali tak pantas menyandang gelar terbaik se UNLAM bahkan menjamin seandainya si dosen jadi juri, tak bakal mau dia memilihnya…
Ejekan itu terdengar seperti tabung gas yang meledak dan terlanjur membakar potensi yang tersisa. Maka si remaja tadi mengukuhkan diri. Dia bertekad harus meraih gelar itu… bukan lagi untuk spanduk… tapi untuk membalikkan ejekan sang dosen!
Unik, attraction’nya berbunyi… saya harus menjadi juara 1 mahasiswa berprestasi se UNLAM. Hampir semua orang mendelik ragu ke arahnya. Namun terbukti lagi, remaja konyol itu mampu menggondol ’attraction’nya. Dia telah menjadi juaranya. Dan si dosen takluk, spanduk pun berkibar di acara tahun depannya.

Masih ingat dengan ’attraction’ sebelumnya…. menjadi yang terbaik…. kini dia kuatkan medan magnet yang dia miliki untuk menarik realita ke arah dirinya. Semua orang tahu, dia bukan orang cerdas dengan intelektual tinggi. Dia juga sadar akan hal itu. Tapi tebak apa yang terjadi di saat wisuda sarjana: ada tiga orang yang nilainya tertinggi dengan IPK yang sama persis…. dan dia salah satunya. Lagi-lagi, dengan cara yang unik hukum attractionya kembali berlaku.
Si konyol semakin percaya dengan kekuatan magnet attraction tersebut. Maka lagi-lagi dia melakukan ’attraction’: ”saat sumpah dokter nanti saya akan menjadi yang terbaik, saya akan berpidato di tengah hadirin dan membuat ayah ibu saya bangga.” Demikian ujarnya.

Namun, perjalanan koass tak gampang. Meraih nilai tinggi tak semudah yang dia bayangkan. Maka tibalah saatnya yudisium dokter. Alhamdulillah, dia yang semula ragu akan kelulusannya ternyata mampu lulus. Sempurna….
Tapi apa kabar dengan nilainya? Nilainya memuaskan. Tapi jangan mimpi menjadi yang terbaik… banyak kawan-kawan yang meraih nilai yang melangit lebih tinggi dari dirinya.
Sejenak, si konyol mulai patah hati dengan kekuatan attractionnya. Dia, sekop demi sekop mulai mengubur attraction tersebut.
Lagu Bondan feat fade2black pun berbunyi nyaring di earphone-nya
”ketika mimpimu yang begitu indah… tak pernah terwujud… ya sudahlah…”

Tapi, sekali lagi magnet attraction menarik dengan cara yang sangat unik. Ternyata ketua panitia yang ditunjuk berhalangan hadir pada saat gladi, dan porsi pidato sebagai perwakilan dokter sementara vakum… delikan mata tertuju padanya… Yap, si konyol memanggutkan kepala. Dia sepakat. Dia yang akan mewakili 51 dokter baru untuk berpidato saat acara sakral sumpah.
Perhatikan, kala itu, dia kembali membuktikan magnet attraction nya berfungsi. Meski tidak tepat betul, tapi dia telah menggapai attraction: saya akan berpidato di tengah hadirin sebagai wakil para dokter…. meski bukan dia peraih nilai terbaik.. dan saya akan membuat orangtua saya bangga…

Epilog:
Dan dia, yang tak pernah jera. Saat pengukuhan sakral tersebut matanya liar mengamati para senat yang duduk dengan anggun di panggung kehormatan. Para dekan, pembantu dekan, direktur rumah sakit, profesor, guru besar…..
Dia, sekali lagi membuat sebuah ’attraction’ baru:
”kelak saya yang akan duduk di panggung kehormatan tersebut!….”

NB:
(saya berlindung dari Allah dari sikap ujub dan takabur… semoga tulisan ini tidak dipandang sebagai bentuk kesombongan. Apa juga yang disombongkan? Saya hanya ingin mengajak orang-orang yang tersempatkan membaca ’note’ ini untuk tergugah melakukan attraction-attraction serupa. Tidak lebih….)

Iklan

11 Komentar

  1. selamat zan…habis ini langsung praktek atau gmn?kurang ngerti seluk beluk kedokteran

  2. amin..

  3. terharu…

  4. Subhanallah

  5. suka suka,

  6. attraction yang cerdas

    KEREEENNN DAH

  7. mungkin attraction itu kya ppth arab kali ya ‘man jadda wa jada’

  8. Subhanallah………

  9. bismillahi maasyaallah
    ^_^

  10. jd bner2 pnasaran pgn ktmu dr.akin
    wlwpun cm liat dr jauh tak apelah….
    hihihi…

    lau gtu,,
    coba dokter niat nya taon dpn khilafah bnr2 tegak d tangan sy atau dr.akin yg bakal jd salah satu wali nya…
    wahhh,,,,keren tuh
    ^_^

    • saya punya perhitungan… sepertinya belum tahun depan… soalnya saya belum siap jadi khalifah


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s