ALBUM KENANGAN

Kalau ada 1000 orang yang memperjuangkan islam,
maka saya adalah satu orang di antaranya
Kalau ada 100 orang yang memperjuangkan islam,
maka saya adalah bagian dari mereka
Kalau ada 10 orang yang memperjuangkan islam,
maka saya tetap berada di barisan itu
Kalau ada 1 orang yang memperjuangkan islam,
maka sayalah orangnya
dan kalaupun di dunia ini sudah tak ada lagi yang memperjuangkan islam..
berarti saya sudah mati syahid!

Nggak tahu juga asal semboyan itu dari mana, konon katanya dari Umar bin Khattab. Tapi yang jelas semboyan itu telah resmi saya akuisisi, setidaknya sejak saya kebingungan mencari kesan dan pesan apa yang saya tuliskan untuk album kenangan di SMA saya. Maka terpilihlah guratan kata di atas menghiasi lembar biodata anak-anak lulusan tahun kami. Kesannya biar garang gitu, diapit tulisan teman-teman yang saya nilai lucu dan terlalu culun.
Tapi saya kecewaaa!
Ternyata tulisan saya bukan yang paling garang.
malah di lembar-lembar pertama yang bertengger adalah tulisan-tulisan berikut:

Nama: A…..
….
Kesan/Pesan: Selamatkan Indonesia dengan Syariah, Allahu Akbar!!!

Nama: AM
……
Kesan/Pesan: Hidup tanpa syariat, setiap hari menuai laknat

terus di lembar berikutnya juga ada nongol

Nama: WR
…..
Kesan/Pesan: … tunggulah aku di daulah khilafah

Nama: SN
…..
Kesan/Pesan: Ada 2 mata yang tidak dapat disentuh api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang selalu terjaga di jalan Allah.

Dan lain-lain lagi…
Hingga itulah yang menjadikan saya bertambah yakin saat itu, bahwa saya tidak sendiri.Di bumi ini masih bertengger banyak para pejuang islam. Biar belia kami tak kalah semangatnya dengan kelompok yang tua-tua.
Sayangnya, komentar-komentar ‘garang’ seperti itu tidak full memenuhi album angkatan kami. Saya tidak bisa membayangkan belalakan mata orang-orang yang membacanya seandainya demikian. Ada apa ini? ‘Radikalisme’ begitu subur di sini! Sayangnya juga, tulisan-tulisan semacam itu (setahu saya) juga tidak menjalar ke album-album angkatan di bawah kami. Hmmm…. letoy atau apa ya….

“Halah, apa pentingnya…” seperti biasa, suara kontra….
Penting, jack! Kita harus menjadikan dakwah sebagai lini teratas kehidupan kita. Ujung-ujungnya di setiap jengkal kesempatan hidup, kita harus selalu berupaya menaburkan dakwah. Sepakat atau nggak, album angkatan adalah media yang sangat tepat, pertama karena setidaknya media ini akan selalu disimpan dan sewaktu-waktu akan kembali dibaca. Kedua, penting untuk menunjukkan eksistensi dakwah di komunitas kami. Agar tak ada anggapan bahwa komunitas ini adalah komunitas biasa yang ‘sepi’. Nggak! ini adalah komunitas yang diisi orang-orang militan. Bisa jadi anda tak akan mampu mengenali kemilitanan itu hanya dari raut wajah mereka yang culun-culun. Namun, andai anda membongkar satu persatu jiwa kami maka anda akan mendapati di sana jiwa-jiwa yang terbakar, jiwa yang berontak, jiwa yang punya cita-cita tinggi, bahwa kalimah Allah saat ini diinjak-injak, maka saatnya anak-anak culun ini bangkit dan menegakkannya kembali.

Tahunan berlalu….
Buku kenangan itu kembali saya buka…
Ahha, wajah-wajah yang dulu culun dan kekanak-kanakan sudah mendewasa. Perempuannya sudah banyak yang ngegendong anak. Laki-lakinya pakai kumis dan jenggotan. Masing-masing sibuk di dunianya….
Beberapa masih bisa saya temui di sela-sela rehat mereka. Masih tersimpan di jiwanya bara yang dulu pernah kami panaskan bersama.
Beberapa telah tenggelam di zona nyamannya. Beberapa lagi malah menghindar menjauh…

“Apa kabarnya, Akh? Gimana kalau ngaji lagi? Dakwah lagi” Tawar saya suatu ketika.
“Kayaknya nggak sob….. tapi percayalah… saya masih tetap satu ide… saya tetap mendukung dari belakang” katanya yakin.
Mata saya berkaca-kaca… bukan, bukan karena terharu. Justru hati saya sakit. Tidak, teman…. Dakwah itu tidak main belakang… tidak main serong…. Dakwah itu adalah shaff-shaff yang terdepan….

Sekali waktu lagi, saya temui yang lain….
“Gimana kalau dakwah la…. Ups, sori….”
Saya urung, ternyata saat itu dia sedang berduaan dengan yang bukan muhrimnya….. kecewa, saya tinggalkan dia. Bahkan saya menjadi lupa, kenapa saya tidak menegur aktivitas maksiatnya tadi?

“Dunia kerja nggak gampang, boy… saya dikejar target..” alasan yang lain
“Lalu anak saya mau diapain?” keluh yang lain lagi.
“Masih nyusun tesis!” yang lain sembari sibuk buka-buka file di laptopnya
“Belum dapat kerja, akh…. Gimana?” sembari nenteng-nenteng map.
Saya akhirnya pulang dengan tangan hampa. Jangan-jangan tulisan saya di album kenangan bakal benar-benar terjadi…

…..Kalau ada 1 orang yang memperjuangkan islam,
………maka sayalah orangnya

Hii… jangan dong.. saya belum sanggup sendiri.

Ciittt….”
Weii… awas Kin..!
Sebuah sepeda butut. Di atasnya duduk sesosok pemuda sederhana dengan baju koko yang sudah kusam. Senyumnya tersungging lebar
“Assalamu’alaikum” dia remas tangan saya kuat.
“Ah kemana aja antum?” todongnya tanpa memberikan kesempatan saya menjawab salamnya
“Masih di dakwah kan?” terusnya lagi. Saya masih melongo.
Sosok itu tidak berubah sama sekali. Dia yang hampir-hampir sebatang kara. Hidupnya dari dulu berpindah-pindah tempat. Wajahnya, gaya busananya, sepedanya…..

“Na’am… saya masih di sini” jawab saya pelan.
“yang semangat dong!” cecarnya.

Saya tersenyum… ya betul.. ini memang betul-betul dia!

“Antum juga kan? Masih di dakwah?” tanya saya balik.
“Tidak akan…..” jawabnya.
Lho?
“Tidak akan … ana berpaling dari jalan ini!” sahutnya seraya tertawa terbahak.
Sekali lagi saya tersenyum lebar.

“Eh, kuliah gimana?” tanya saya iseng
“Gitu deh.. belum lulus-lulus” jawabnya santai.

“Kerja sekarang?”
“Serabutan lah…” raut mukanya santai lagi.

“Kalau nikah?”
Mukanya berubah pura-pura serius. “Itu dia Kin, emang ada yang mau dengan tampang jelek belum sarjana tanpa kerjaan jelas?” dia lalu terkekeh.

“Lalu…”
“Lalu apa? Memangnya kenapa Kin?”

“Ah… nggak… kok antum tetap di jalan dakwah?”

“Wuahaahaahaa….” Dia tertawa nyaring. “pertanyaan aneh!” jawabnya
“Kin, dakwah itu satu hal…. Cari nafkah adalah hal yang lain… kuliah adalah hal yang lain lagi… nikah adalah hal yang lain lagi.. semuanya dijalani. Tapi yang satu tak perlu saling menghambat yang lain.”
“Tak layak beralasan saya sibuk berpuasa sehingga saya tak sempat shalat. Atau saya harus makan siang saban hari makanya saya nggak bisa mandi dan pipis, hihihi…” dia sekali lagi tertawa geli.
“Jadi kalau ada yang mundur dari dakwah karena kerjanya…. Atau karena kuliahnya berarti aneh bin ajaib. Alasan sebenarnya dia mundur bukan karena kerja atau kuliahnya… tapi semata hanya karena ingin jauh dari dakwah…. Sembari mengkambinghitamkan kuliah dan kerja… konyol!” jelasnya.

“Mantap kamu coy.. sudah gaya ustadz-ustadz” puji saya..
“Hahaha… macam-macam aja antum.. nggak ada yang istimewa. Bukannya antum juga yang dulu bilang. Justru yang lucu itu adalah yang nggak mau terlibat di dakwah, yang meninggalkan dakwah. Mereka yang tidak biasa… kita mah yang dakwah ini biasa-biasa aja… sudah seharusnya kan begini?”
Tandasnya.

“Yuk ah…” ucapnya.
“Lho, mau ngapain… buru-buru?”
“Pengen menegakkan syariat… karena hidup tanpa syari’at, setiap hari menuai laknat! Wassalamualaikum” dia tersenyum seraya menjauh mengayuh sepeda bututnya…
Hahaha… saya kenal kata-kata itu… itu persis yang dia tulis di album kenangan dulu.

7 Komentar

  1. paksa buka buku dl nah,siapa orgnya,dimana meandak lah

  2. Tulisan yang ‘menusuk’ untuk membunuh ego.

  3. sakulah di kampung kdd album kenangannya

  4. Insya Allah saya tahu orang yg dimaksud di cerita di atas. efisode hidup ini masih terus berlanjut, manusia tidak ada yg tahu bagaimana keadaan di masa mendatang. semoga kita istiqomah hingga akhir, bahagia dunia akhirat.

  5. Alhamdulillah..
    Dapat suplemen baru untuk keep spirit..
    Allahu Akbar!! Let’s go get them!!

  6. betul inspiratif amat akhi…

  7. wah,,,,,, jadi termotivasi nech dengan ceritanya.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s