LINTANG YANG LAIN

Lintang. Nama itu mendengung di telinga saya. Pertama kali saya membaca buku laskar pelangi karya Andrea Hirata, saya terpesona dengan sosok bocah ini. Begitu cerdas.. luar biasa. Namun kebanggaan saya tersungkur di pertengahan cerita ketika menghadapi peristiwa getir dimana Lintang harus mundur dari perhelatan intelektual. Sang ayah tewas terseret ombak dan dia harus bertarung mencari nafkah, jadi tulang punggung keluarganya. Saat menonton filmnya pun sekali lagi saya masih sangat terharu menyaksikan fragmen itu. Tatkala Lintang dengan sepeda tingginya pamitan ke seluruh rekan juangnya di laskar pelangi. Saya betul-betul kecewa, andai Lintang bertahan, Indonesia bisa jadi kedatangan ‘Habibie’ baru.. sayang…
***

“Oh, bukan… beliau bukan santri di sini…. Beliau adalah ustadz..” terang ustadz saya menjelaskan ketika saya tanyakan tentang sosok baru yang saya lihat di pesantren. Perawakannya memang kecil dan dari pakaian dan lainnya lebih mirip dengan para santri. Yang mengherankan saya saat itu adalah, masa santri baru bisa langsung diamanahi mengimami shalat.
Makanya di akhir setoran hapalan saya tanyakan itu kepada ustadz saya.

“Beliau adik kelas saya di Universitas Madinah… Lc juga…” terang ustadz saya lagi.
Beliau kemudian menjelaskan kegetiran yang dihadapi sang ustadz itu.
Alkisah, dia adalah sang ustadz yang cerdas dan gigih. Dia lahir dari keluarga miskin di pedalaman Kalimantan. Ayahnya sudah ringkih dan ibunya adalah seorang buruh pemetik kelapa. Saban hari membiayai kehidupan anaknya dengan naik pohon memetik buah. Keterbelakangan tak membuat sang ustadz pupus semangat. Dia mantapkan tekad untuk menuntut ilmu Qur’an setinggi-tingginya. Hafidz Qur’an 30 juz diraihnya. Dan gelar Lc dari Madinah pun berhasil disandangnya. Dia diterima menjadi tenaga pengajar di sebuah sekolah tinggi Islam di Jawa. Tujuannya kesini adalah diutus untuk mendapatkan sanad tahfidz. Namun dia akhirnya bertemu persimpangan jalan. Tatkala singgah ke kampung halaman, dia menemukan kenyataan getir.

“Ibu sudah tidak sanggup lagi bekerja sejak beberapa tahun yang lalu. Selama ini kamilah yang bekerja keras menghidupi keluarga. Termasuk untuk biaya kamu juga” ujar kakak-kakaknya.
“Kemarin-kemarin, waktu kamu di Madinah… kami yang bekerja keras. Sekarang kamu telah selesai… saatnya gantian. Giliran kamu memelihara ibu dan bapak di sini. Giliran kamu yang bekerja memetik kelapa….” Tandas kakak-kakaknya.
Sepi, sang ustadz adalah orang yang terlampau patuh.

Akhirnya, lanjut ustadz saya. Beliau dalam kebimbangan yang luar biasa. Batinnya terguncang keras. Antara pilihan untuk mengembangkan diri dalam keilmuan, mengabdi untuk umat… atau pilihan kedua yang tak kalah pentingnya… mengabdi berbakti untuk orangtua dan kakak-kakaknya… kembali menjadi pemetik kelapa….

“Sebenarnya beliau ke sini tujuannya untuk mencari sanad.. perlu waktu 6 bulanan…. Namun, bahkan untuk memulainya saja beliau tidak mampu…” Ustadz saya menutup uraiannya…
“Yaa Ustadz… Ta’al….! Ta’al…” panggil ustadz saya ke sosok yang dari tadi beliau ceritakan..
“Na’am ustadz…” sahutnya.
Mata kami saling bertatapan. Dia tersenyum kepada saya. Saya perhatikan rautnya. Ya, jelas sekali di balik keteduhannya ada beban yang terlampau berat yang disimpannya.
“Assalamu’alaikum ustadz…” hanya kata-kata itu. Seraya bersalaman hangat. Selebihnya saya memilih untuk meninggalkan mereka berdua bercengkerama.
…………….

Saya beberapa hari tidak datang ke pesantren. Saat saya datang kembali beberapa hari yang lalu, saya mencoba mencari-cari sosoknya…. Ustadz berperawakan kecil dengan beban berat yang dipikulnya… tapi nihil… tampaknya sang ustadz telah memilih jalan kedua. Memetik buah kelapa untuk berbakti pada ibunya… jalan yang juga tak kalah mulia… tapi sekali lagi… sayangnya umat mesti kehilangan manusia cemerlangnya.

Dulu saya sempat ragu dengan tuturan Andrea Hirata di laskar pelanginya.. memang ada sosok semacam Lintang? Jangan-jangan itu hanyalah rekaan Hirata. Tapi akhirnya setelah pertemuan itu saya percaya. Bahwa Lintang memang ada! Dan Lintang itu tidak cuma satu. Masih begitu banyak Lintang-Lintang yang lain yang bernasib sama..
Wallahu’alam…

Iklan

5 Komentar

  1. subhanallah..

    tapi pastinya di kampung halaman sana, ilmunya insyaAllah terpakai

  2. Duch,
    kenapa begitu banyak Lintang yang jatuh di negeri ini?
    Pemasalahannya selalu saja tentang materi..
    Seorang Ustadz saja belum tentu dijamin Allah bisa memiliki materi untuk melanjutkan pengabdiannya kepada Agama dan Umat..
    Gimana nih ka Akin solusinya??

    • andaikan khilafah nyata ada sekarang,,

  3. Sepertinya ana salah satu Lintang itu…sejak tinggal di kampung halaqah sangat jarang, dakwah alhamdulillah msh bisa walau tak sepadat di kota yg teragenda… listrik, air, signal,kondisi geografis yg tdk semudah di kota,,,tapi sepertinya Allah punya rencana sendiri dibalik semuanya, mudah-mudahan tetap bisa memberikan yang terbaik….N suatu saat bisa tinggal di kota dan berkambang lebih baik lagi…aamiin mohon do’anya saja…:)


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s